Ekonom Institute for Development on Economic and Finance (Indef), Didik J Rachbini, menilai Indonesia sedang berada pada momentum besar untuk menarik investasi data center dan kecerdasan buatan. Ia menyebut, arus modal yang dibidik pemerintah mencapai setara Rp360 triliun, sehingga Indonesia dinilai layak menjadi tujuan investasi baru, terutama di tengah minat investor yang kian kuat. Namun, ia mengingatkan agar peluang itu tidak terganggu oleh kebijakan daerah yang justru menghambat masuknya modal.
Menurut Didik, sejumlah wilayah yang masuk radar investor antara lain Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali. Dari daftar itu, Batam disebut punya posisi paling menjanjikan karena sudah berkembang sebagai lokasi penting bagi infrastruktur digital. Ia menilai, kondisi saat ini semestinya dibaca sebagai kesempatan besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional yang masih bergerak moderat di kisaran 5 persen.
Didik menjelaskan, Indonesia kini punya bekal pengalaman yang cukup untuk menopang industri tersebut. Ia menyebut sudah ada 182 data center yang beroperasi di Indonesia, dengan konsentrasi terbesar berada di Jakarta sebanyak 94 unit dan Batam 16 unit. Menurutnya, fakta itu menunjukkan bahwa operasional teknologi ini sudah tidak asing lagi bagi ekosistem digital dalam negeri.
Secara khusus, Batam diperkirakan menjadi pusat pertumbuhan baru. Nilai investasi data center di wilayah itu disebut berada di kisaran USD 15 miliar hingga USD 20 miliar, dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Didik juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Batam yang mencapai 7 persen sebagai modal penting untuk memperkuat posisinya sebagai hub data center kawasan, terlebih saat Singapura mulai membatasi pembangunan baru karena keterbatasan lahan dan energi.
Meski demikian, ia menyayangkan keputusan penghentian pembangunan data center di Jawa Barat oleh gubernur setempat dengan alasan lingkungan, pasokan air, dan pertimbangan lain. Menurut Didik, langkah seperti itu berpotensi merusak kepercayaan investor dan mengganggu iklim investasi yang sedang dibutuhkan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga.
Dalam catatannya pada Minggu, 4 Oktober, Didik mengingatkan agar pemerintah tidak mengulangi kesalahan kebijakan pada 1980-an. Saat itu, Indonesia dinilainya gagal memanfaatkan peluang investasi semikonduktor ketika perusahaan besar seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat membangun basis perakitan chip di Jakarta dan Bandung, namun kemudian hengkang ke Penang, Malaysia setelah kebijakan yang menolak otomatisasi lebih diutamakan. Karena itu, ia mendesak pemerintah pusat dan daerah agar lebih ramah terhadap investor, terutama di sektor data center dan AI yang kini tengah menjadi rebutan global.
Sumber: jawapos.com




