Baca Juga: Update Berita Bisnis dan Ekonomi Terkini
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, Juni 2026, dibuka dengan catatan positif, terutama pada Indeks Bisnis-27. Indeks yang merupakan hasil kolaborasi antara BEI dan Harian Bisnis Indonesia ini mencatatkan penguatan sebesar 0,36%, membawanya bertengger di level 426,12 pada awal sesi.
Pergerakan positif ini didorong oleh sejumlah saham unggulan. Dari 27 saham yang menjadi konstituen, mayoritas menunjukkan performa yang menjanjikan. Sebanyak 14 saham berhasil menguat, sementara 11 saham lainnya tercatat melemah, dan 2 saham lainnya bertahan di posisi stagnan tanpa perubahan harga.
Saham Unggulan yang Memimpin Penguatan
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) menjadi bintang di awal perdagangan dengan lonjakan harga saham mencapai 6,96%, ditutup pada angka Rp1.230 per lembar. Kinerja impresif AMRT diikuti oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang mencatatkan kenaikan 2,49% menjadi Rp1.235.
Selanjutnya, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) juga turut berkontribusi pada penguatan indeks dengan kenaikan harga saham sebesar 2,30%, mencapai Rp1.555. Tidak ketinggalan, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) menunjukkan performa positif dengan kenaikan 1,80% ke level Rp340.
Sektor perbankan juga turut meramaikan tren positif ini. Saham-saham bank pelat merah dan bank swasta terkemuka mencatatkan kenaikan yang signifikan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil menguat 2,03% ke angka Rp3.010. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), salah satu bank swasta terbesar, juga mencatat kenaikan 1,75% menjadi Rp5.800.
Pergerakan positif di sektor perbankan berlanjut dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang naik 1,35% ke Rp3.750, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menguat 1,23% ke level Rp4.130. Kinerja solid dari saham-saham perbankan ini memberikan dorongan substansial bagi Indeks Bisnis-27.
Sektor yang Mengalami Tekanan
Di sisi lain, beberapa saham tercatat mengalami pelemahan di awal perdagangan. PT United Tractors Tbk. (UNTR) memimpin daftar saham yang tertekan dengan penurunan 2,84%, ditutup pada harga Rp22.275.
Kinerja lesu juga dialami oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang turun 2,82% ke level Rp6.900, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang melemah 2,58% ke Rp4.160. PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) juga tidak luput dari tekanan, dengan penurunan harga saham sebesar 2,02% menjadi Rp1.210.
Sektor telekomunikasi dan agribisnis juga menunjukkan tren pelemahan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) turun 1,98% ke Rp2.970. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melemah 1,63% ke Rp2.410. Selain itu, saham dari industri pulp dan kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), juga mengalami penurunan 1,63% ke Rp7.550. Sementara itu, saham raksasa otomotif dan jasa keuangan, PT Astra International Tbk. (ASII), turun 1,60% ke level Rp4.920.
Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Menjelang perdagangan hari ini, tim riset dari MNC Sekuritas memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak dalam rentang pergerakan yang cenderung mendatar atau sideways. Rentang pergerakan yang diproyeksikan adalah antara 6.000 hingga 6.300.
Analisis dari MNC Sekuritas menunjukkan bahwa koreksi tipis yang terjadi pada akhir pekan lalu justru disertai dengan munculnya volume pembelian yang positif. Hal ini mengindikasikan adanya minat beli yang mulai tumbuh di tengah fluktuasi pasar.
Sepanjang pekan sebelumnya, IHSG tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,56%. Namun, yang menarik, volume penjualan cenderung mengecil, yang seringkali menjadi sinyal awal pembalikan tren atau konsolidasi.
Secara teknikal, pergerakan indeks saat ini diperkirakan masih merupakan bagian dari fase wave v dari wave A, dalam skema wave (2) dengan label hitam. Area koreksi berikutnya yang perlu diwaspadai adalah pengujian level 5.899, yang sekaligus dianggap sebagai area support krusial.
Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas menetapkan level support utama pada angka 5.996 dan 5.899. Sementara itu, level resistance yang berpotensi menahan kenaikan lebih lanjut berada di 6.318 dan 6.459. Level-level ini menjadi acuan penting bagi para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.
Penting untuk diingat bahwa informasi ini bersifat analisis dan proyeksi pasar. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing individu, dan tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas segala keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan tersebut.






