Istilah Belanda Depok tak bisa dilepaskan dari 12 marga Depok yang dulunya adalah budak-budak Cornelis Chastelein yang telah dimerdekaan.
Penulis: Birgitta Ajeng | Tayang di Majalah Intisari edisi April 2015 dengan judul “‘Sinyo’ dan ‘Noni’ van Depok”
—
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
—
Intisari-Online.com – Hingga beberapa tahun yang lalu, kita masih sering mendengar orang-orang dengan sebutan “Belanda Depok”. Di jalan-jalan, di transportasi umum, hingga tempat umum lainnya.

Sebutan “Belanda Depok”, biasanya dialamatkan kepada sekelompok warga Depok yang memiliki nama marga yang kebelanda-belandaan. Jumlahnya ada 12 marga, tapi yang tersisa tinggal 11.
Kesebelas marga itu adalah Jonathans, Soedira, Bacas, Laurens, Leander, Loen, Isakh, Samuel, Jacob, Joseph, dan Tholense. Sementara marga yang hilang adalah Zadokh.
Tak hanya nama, budaya dan kehidupan masyarakat itu juga banyak terpengaruh oleh tradisi masyarakat Belanda.
Meski marganya ke-Belanda-Belandaan, kelompok masyarakat ini tidak berkulit putih dan berhidung mancung laiknya orang-orang Kaukasoid. Mereka berkulit cokelat laiknya pribumi pada umumnya.
Mereka sejatinya keturunan pribumi yang masih memiliki keterkaitan dengan era kolonialisme di masa silam, tepatnya di zaman Belanda berkuasa. Dan jika kita menelusuri sejarah masyarakat “Belanda Depok” ini, akan kita jumpai sebuah nama yakni Cornelis Chastelein.
Cornelis Chastelein adalah seorang pegawai VOC. Ketika usianya 17 tahun, dia ditugaskan di Hindia Belanda sebagai tenaga pembukuan.
Ayah Cornelis adalah pria Prancis yang melarikan diri ke Belanda akibat pertikaian agama di sana, namanya Anthony Chastelein. Sementara sang ibu, Maria Cruydenier, adalah putri seorang walikota.
Karier Chastelein di VOC terus melesat hingga menjadi saudagar kelas kakap. 17 tahun kemudian, tepatnya pada 1691, dia menjabat sebagai saudagar senior kelas dua dari benteng Batavia.
Mengutip buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe yang ditulis seorang keturunan dari 12 marga di Depok bernama Yano Jonathans, pada tahun itu juga Chastelein mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan kesehatan. Meski ada kemungkinan, itu disebabkan ketidaksetujuan dia dengan kebijakan politik dagang Gubernur Jenderal van Outshoorn.
“Jadi waktu itu terjadi pergantian gubernur jenderal. Pada saat Gubernur Jenderal van Outshoorn bertugas, Chastelein tidak setuju dengan politik dagangnya, karena keras sekali. Dia tidak setuju ada kekerasan di sana, kerja paksa, kerja rodi terhadap orang-orang pribumi,” ungkap Yano Jonathans saat ditemui di Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) di Depok pada 2015 lalu.
Setelah mundur dari VOC, Chastelein lalu membeli beberapa tanah di sekitar Batavia, seperti Noordwijk (sekarang Pintu Air di Jalan Juanda) dan Lapangan Banteng, untuk dijadikan perkebunan. Dia juga membangun rumah dan gereja kecil (kapel) di sekitar jalan Kenanga Pasar Senen.
Tak hanya itu, untuk mengembangkan pertaniannya, dia juga membeli beberapa tanah di Selatan Jakarta, yaitu Seringsing (sekarang Lenteng Agung) dan Depok.
Depok sendiri, awalnya adalah tanah yang dibeli Chastelein dari seorang Tionghoa bernama Tio Tong Ko, dan sebagian lagi dari Van Den Barlisen. “Luasnya kira-kira 1.240 hektare,” kata Yano yang juga dikenal sebagai seorang peminat sejarah dan filatelis ini.
Untuk menggarap lahan pertanian itu, Chastelein membeli 150 budak di kawasan yang di Jakarta kini dikenal dengan nama Kampung Bali dan Kampung Bugis. Budak yang kemudian ditempatkan di Depok itu memang kebanyakan berasal dari Bali dan Sulawesi Selatan. Para budak inilah yang cikal bakal dari Belanda Depok.
Berbeda dengan stereotip tentang budak di masa silam yang penuh kesengsaraan, para budak milik Chastelein justru diberi kehidupan yang sejahtera. Mereka tidak hanya diminta untuk bercocok tanam, tetapi juga dididik dan diajarkan cara mengurus dan membangun sebuah sistem masyarakat.
Para budak itu juga dibaptis dan menganut agama Kristen Protestan hingga akhirnya setiap kepala keluarga diminta untuk memakai salah satu dari 12 nama marga. “Sekarang bukan 12 tapi 11 marga, karena yang satu, Zadokh, dia kehilangan keturunan prianya. Karena biasanya yang menyandang nama marga itu biasanya pria. Tapi dia melahirkan anak perempuan,” kata Yano tentang situasi terkini dari penamaan itu.
Sayangnya Yano tidak memiliki keterangan tentang siapa yang membaptis para budak itu beserta tanggalnya.
Tiga bulan setelah membeli Depok, Chastelein membuat surat wasiat yang berisi pembebasan para budaknya. Dia juga memberikan harta bendanya dan sebagian wilayah Depok kepada para budaknya.
Menariknya lagi, menurut Yano, Chastelein juga menyiapkan sebuah wilayah yang tidak boleh diganggu. Luasnya enam hektare yang kini menjadi semacam hutan lindung di tengah wilayah Depok.
Wilayah itu kini dikenal dengan nama Taman Hutan Raya (Tahura) lokasinya tak jauh dari Stasiun Depok. “Itu bisa diartikan satu bentuk pelestarian lingkungan. Hutannya sampai saat ini masih ada,” katanya.
Terkait sebutan “Belanda Depok”, sebenarnya para orangtua di Depok merasa tidak nyaman mendengarnya. Sebab istilah itu sesungguhnya adalah sebuah olok-olokan di antara anak-anak muda dalam pergaulan sekolah mereka.
Kisahnya berawal dari tahun 1876 saat alat transportasi kereta api dengan rute perjalanan Batavia-Buitenzorg (kini Jakarta-Bogor) sudah mulai beroperasi. Keberadaan transportasi umum itu membuat warga Depok yang sempat merasa terisolasi, bisa bepergian ke Jakarta atau Bogor.
Begitu pula dengan muda-mudi Depok yang berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Dalam perjalanan kereta ini, anak-anak muda Depok tetap dengan gaya mereka sehari-hari yakni memakai bahasa Belanda selayaknya para sinyo dan noni Belanda.
Tentu saja hal ini membuat mereka diolok-olok oleh rekan-rekan mereka yang berasal dari kawasan lain di sekitar Depok, hingga lahirlah istilah “Belanda Depok”. Hebatnya, istilah ini bertahan sampai puluhan tahun kemudian.
Kini jejak kehidupan budak Cornelis Chastelein sulit dijumpai di jantung Kota Depok. Kita baru akan menemuinya di sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Kartini.
Itu pun sangat sedikit. Yaitu gedung YLCC yang mulanya adalah rumah tinggal para pendeta, Gereja Immanuel Depok, SMA Kasih Depok, SD Pancoran Mas II Depok, Rumah Sakit Harapan, Jembatan Panus, dan Pemakaman Kamboja.
Padahal kedua jalan itu adalah bekas pusat pemerintahan Depok. “Kemajuan begitu hebat di sini, dalam satu tahun bisa 4 rumah hilang,” kata Yano.
Untuk mempertahankan dan melestarikan peninggalan yang ada, Yano dan rekan-rekannya dari YLCC berupaya menyelenggarakan diskusi dan seminar mengenai sejarah Depok. YLCC sendiri merupakan perkumpulan dari 12 kaum keluarga Depok.
Yayasan ini dibentuk untuk memelihara aset-aset yang dulu dihibahkan oleh Chastelein kepada para budaknya. Yayasan ini juga memberi pelayanan sosial dan menyelenggarakan pendidikan bagi 11 keluarga yang tersisa dan 12 marga Depok.
Sejak awal pendiriannya, 4 Agustus 1952, yayasan ini tetap aktif sampai hari ini.
Menurut buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe, dahulu Depok juga memiliki monumen yang berlokasi di depan Rumah Sakit Harapan. Monumen berbentuk tugu berdiri atas prakarsa Presiden Depok Johhanes Mathijs Jonathans.
Cikal bakalnya dimulai pada 1871, saat Mr. H. Klein, seorang jaksa, mengusulkan agar masyarakat Depok tetap mengenang jasa Cornelis Chastelein.
Sayangnya, tugu ini sudah tidak ada. Fisiknya dirobohkan di tahun 1960-an.
Kini, ada upaya dari YLCC untuk membangun kembali tugu tersebut demi pengetahuan sejarah generasi penerus. “Sebenarnya pembangunan tugu itu sudah diupayakan sejak 15 tahun lalu, akan tetapi baru bisa dijalankan pertengahan Mei 2014,” kata Yano.
Lucunya, di tengah pembangunan tugu, Pemerintah Kota Depok sempat melarang. Namun persoalan ini akhirnya selesai, bahkan pembangunan akan diteruskan dengan gerbang cagar budaya.
Upaya Yano dan YLCC untuk melestarikan peninggalan sejarah yang tersisa memang masih sangat terbatas. Di sisi lain, Yano mengkhawatirkan upaya ini sebab dia dan rekan-rekannya saat ini sudah memasuki usia senja.
Sementara sedikit sekali keturunan dari 12 keluarga marga Depok yang berminat meneruskan upaya itu. “Sampai hari ini saya belum dapatkan orangnya. Upayanya sudah saya lakukan sangat keras. Saya lakukan presentasi, saya undang orang Depok,” kata Yano yang hanya bisa berharap pada kedatangan “sinyo dan noni” di masa depan.



