Iran Menunjuk Pemimpin Tertinggi Baru di Tengah Ketegangan Global
Iran telah resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan ini datang di tengah situasi geopolitik yang kompleks, di mana Iran menjadi simbol perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ancaman dari mantan Presiden AS Donald Trump terkait pengaruh terhadap pemilihan pemimpin baru tampaknya tidak memengaruhi keputusan internal Iran.
Mojtaba Khamenei, seorang ulama tingkat menengah, memiliki hubungan erat dengan Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berpengaruh. Selama bertahun-tahun, ia telah dipandang sebagai calon potensial untuk menggantikan ayahnya. Meskipun ideologi penguasa Iran secara prinsip menentang suksesi turun-temurun, Mojtaba memiliki basis pendukung yang kuat di dalam IRGC dan di kalangan staf kantor mendiang ayahnya yang masih memiliki pengaruh.
Latar Belakang dan Potensi Suksesi
Ayatollah Ali Khamenei telah memimpin Republik Islam Iran sejak tahun 1989, satu dekade setelah ia meraih ketenaran selama revolusi teokratis yang menggulingkan monarki. Jika klaim mengenai kematiannya benar, Iran akan segera memiliki pemimpin tertinggi yang baru.
Namun, laporan sebelumnya dari The New York Times menyebutkan bahwa Khamenei telah mengidentifikasi tiga calon pengganti potensial tahun lalu. Ketiga calon tersebut adalah ulama senior, dan mengejutkannya, Mojtaba Khamenei, yang selalu dianggap sebagai kandidat terdepan, tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Rintangan Konstitusional dan Tradisi
Menurut Middle East Institute, Mojtaba Khamenei menghadapi beberapa rintangan dalam perjalanannya untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Persyaratan Konstitusional: Konstitusi Republik Islam Iran menetapkan bahwa Majelis Pakar bertugas menunjuk pengganti pemimpin tertinggi. Kandidat harus memiliki “pengalaman politik” sesuai hukum. Laporan menunjukkan bahwa Mojtaba mungkin gagal memenuhi kriteria ini karena meskipun ia secara de facto menjalankan Kantor Pemimpin Tertinggi, ia tidak memegang peran politik formal dalam rezim tersebut.
Konvensi Syiah: Jika Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi, hal itu akan bertentangan dengan konvensi Islam Syiah. Tradisi Syiah menyatakan bahwa garis keturunan untuk jabatan ini secara eksklusif diperuntukkan bagi 12 Imam Syiah yang ditunjuk secara ilahi. Bahkan, Khamenei sendiri terpilih pada tahun 1989 dengan mengalahkan putra Khomeini yang berpengaruh, Ahmad, karena alasan ini. Pada tahun 2023, Khamenei sendiri pernah menyatakan dalam sebuah pidato bahwa “kediktatoran dan pemerintahan turun-temurun bukanlah Islami,” menurut lembaga pemikir Stimson Center.
Profil Mojtaba Khamenei: Pengaruh di Balik Layar
Mojtaba Khamenei dilaporkan bukanlah ulama berpangkat sangat tinggi dan belum pernah memegang jabatan resmi dalam rezim. Namun, ia memiliki latar belakang militer setelah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran-Irak dan diyakini memiliki pengaruh besar di balik layar.
Meskipun namanya tidak termasuk dalam daftar tiga calon yang dilaporkan diidentifikasi oleh ayahnya tahun lalu, dan ayahnya dikabarkan menentang pencalonannya karena menyerupai pemerintahan turun-temurun seperti monarki Shah, situasi berubah. Sebagian besar petinggi Iran tewas dalam konflik terbaru, dan Mojtaba memiliki hubungan dekat dengan IRGC yang kuat serta pasukan paramiliter sukarelawan Basij.
Kekayaan dan Aset Mojtaba Khamenei
Meskipun dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada tahun 2019, Mojtaba Khamenei dikabarkan mengelola kerajaan investasi bernilai lebih dari 100 juta euro. Ia memiliki akses ke properti mewah di London utara dan rekening bank di Inggris, Swiss, Uni Emirat Arab, dan Liechtenstein.
Secara spesifik, Mojtaba dikabarkan memiliki 11 properti di The Bishops Avenue, sebuah jalan eksklusif di Hampstead, London utara, yang dikenal sebagai ‘Billionaires’ Row’. Kepemilikan properti ini dilakukan melalui jaringan perusahaan fiktif, di mana salah satunya terdaftar di surga pajak Isle of Man.
Latar Belakang Pendidikan dan Keluarga
Di bawah sistem perwalian Islam Iran, pemimpin tertinggi haruslah seorang pemimpin senior dengan otoritas politik yang signifikan. Meskipun Mojtaba belum pernah memegang jabatan politik senior, ia belajar di bawah bimbingan para konservatif agama di seminari-seminari Islam di kota suci Syiah, Qom.
Lahir pada tahun 1969 di kota suci Mashhad, ia tumbuh dewasa saat ayahnya membantu memimpin oposisi terhadap Shah. Tragisnya, istri Mojtaba, Zahra Adel, dan ibunya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, termasuk di antara korban tewas akibat serangan yang diklaim sebagai gabungan AS-Israel.
Kandidat Potensial Lainnya dan Peran Majelis Pakar
Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu kandidat favorit untuk menggantikan pemimpin tertinggi yang berusia 86 tahun itu adalah Presiden garis keras Ebrahim Raisi. Namun, Raisi tewas dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024, membuka jalan bagi suksesi yang tidak terduga.
Majelis Pakar, yang beranggotakan 88 orang, memiliki tugas untuk menunjuk, mengawasi, dan berpotensi memberhentikan pemimpin tertinggi. Majelis ini bertemu pada hari Selasa di Qom untuk mencari pengganti Ayatollah Ali Khamenei, yang dikabarkan tewas pada hari Sabtu akibat serangan gabungan AS-Israel. Keputusan penunjukan Mojtaba Khamenei oleh majelis ini menegaskan posisinya sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, meskipun diwarnai berbagai tantangan dan kontroversi.

















