Menyambut Ramadan 1447 H: Jadwal Puasa Nisfu Syaban 2026 dan Keistimewaannya
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam di seluruh dunia mulai mencari informasi mengenai jadwal puasa sunnah yang dapat diamalkan. Salah satu yang paling dinantikan adalah Puasa Nisfu Syaban, yang jatuh pada pertengahan bulan Syaban. Pada tahun 2026, tanggal 15 Syaban bertepatan dengan hari Selasa, 3 Februari 2026.
Puasa Nisfu Syaban merupakan amalan sunnah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Bulan Syaban sendiri merupakan bulan yang mulia, di mana banyak amalan dianjurkan untuk dilakukan. Meskipun termasuk puasa sunnah, Nisfu Syaban sering kali diamalkan oleh umat Muslim karena malam Nisfu Syaban diyakini memiliki keutamaan yang luar biasa.
Niat Puasa Nisfu Syaban
Bagi Anda yang berniat melaksanakan puasa sunnah Nisfu Syaban, berikut adalah bacaan niatnya:
- Niat Puasa Nisfu Syaban (dilafalkan sebelum fajar):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘ala
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Sya‘ban esok hari karena Allah SWT.”
Bagi yang terlewat melafalkan niat sebelum fajar, jangan khawatir. Dalam puasa sunnah, niat boleh diucapkan di siang hari, asalkan belum makan, minum, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
- Niat Puasa Nisfu Syaban (dilafalkan di siang hari):
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati Sya‘bana lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Sya‘ban hari ini karena Allah SWT.”
Doa Berbuka Puasa Nisfu Syaban
Setelah menjalankan ibadah puasa, tiba saatnya untuk berbuka. Ada dua bacaan doa berbuka puasa yang dapat dipilih, mana yang paling mudah dihafalkan:
Doa Berbuka Puasa 1:
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Latin: Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin
Artinya: “Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih.”Doa Berbuka Puasa 2:
(Bacaan lain yang umum diamalkan)
Keistimewaan Malam Nisfu Syaban
Malam Nisfu Syaban atau pertengahan bulan Syaban memiliki berbagai sebutan dan keistimewaan di berbagai budaya dan negara:
Berbagai Penamaan Malam Nisfu Syaban:
- Lailat al-Baraa’: Dalam bahasa Arab, berarti Malam Pengampunan Dosa.
- Lailat al-Du’a: Dalam bahasa Arab, berarti Malam Berdoa.
- Nim Sha’ban: Digunakan di Afghanistan dan Iran.
- Nisf Sha’ban: Di negara-negara berbahasa Arab, artinya Pertengahan Sya’ban.
- Nisfu Sya’ban: Di negara-negara berbahasa Melayu.
- Shab-e-Baraat: Di India, Pakistan, dan Bangladesh, juga berarti Malam Pengampunan Dosa.
- Berat Kandili: Di Turki.
- Wulan Ruwah: Di Jawa, yang berarti bulan arwah, digunakan untuk mengirim doa kepada para leluhur.
Pandangan Ulama Mengenai Malam Nisfu Syaban:
Mayoritas ulama sepakat bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam yang mulia dan penuh ampunan. Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa dosa-dosa diampuni bagi mereka yang bersujud dan bertobat di malam tersebut, kecuali bagi mereka yang menyekutukan Allah (musyrik) dan orang yang bertengkar dan tidak berdamai hingga malam Nisfu Syaban tiba.Keutamaan Bulan Syaban:
Bulan Syaban memiliki perhatian khusus dari Rasulullah SAW. Siti Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah berpuasa sebanyak di bulan Syaban, bahkan beliau berpuasa di hampir seluruh bulan Syaban. Perhatian khusus ini dikarenakan Syaban jatuh di antara bulan Rajab dan Ramadan, yang sering kali membuat orang lalai. Buya Yahya menambahkan bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam yang membagikan pengampunan dari Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya, kecuali kepada mereka yang menyekutukan-Nya dan orang yang menyimpan kebencian serta permusuhan.
Amalan-Amalan di Bulan Syaban dan Malam Nisfu Syaban
Selain berpuasa, terdapat berbagai amalan lain yang dianjurkan di bulan Syaban, terutama pada malam Nisfu Syaban. Salah satu amalan yang sering dilakukan adalah membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali setelah Maghrib, yang diiringi dengan doa-doa memohon keberkahan umur, harta, dan hajat lainnya.
Menurut penjelasan dari Nu Online, amalan ini tidak perlu dipersoalkan karena secara syar’i tidak ada larangan. Surat Yasin adalah bagian dari Al-Quran, dan permintaan ditujukan kepada Allah SWT. Doa-doa yang dipanjatkan adalah untuk kebaikan dunia dan akhirat, baik pribadi maupun umum.
Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam kitabnya menjelaskan bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk mengiringi amal salehnya dengan permintaan dan permohonan hajat agama dan dunia. Membaca Surat Yasin atau surat lainnya dengan ikhlas karena Allah SWT sambil memohon keberkahan pada usia, harta, dan kesehatan adalah hal yang baik dan tidak bermasalah, asalkan tidak meyakini bahwa amal tersebut disyariatkan secara khusus untuk hajat tersebut.
Beliau melanjutkan, silakan membaca Surat Yasin tiga kali, tiga puluh kali, atau bahkan mengkhatamkan seluruh Al-Quran secara ikhlas karena Allah SWT, sambil memohon segala hajat. Allah SWT senang terhadap hamba-Nya yang bermunajat kepada-Nya atas segala kebutuhan, sekecil apapun itu.
Penting untuk dipahami bahwa permohonan dan doa kepada Allah SWT tidak menafikan keikhlasan amal. Dalam istilah agama, ini disebut sebagai “tawassul” atau “wasilah” (mencari perantara). Salah satu dalil mengenai tawassul adalah kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua dan memohon kepada Allah SWT dengan menyebut amal saleh mereka yang paling ikhlas, sehingga batu besar yang menutup gua bergeser.
Istilah “wasilah” juga disebutkan dalam Al-Quran, Surat Al-Maidah ayat 35:
يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّه” خَافُوا عِقَابه بِأَنْ تُطِيعُوهُ “وَابْتَغُوا” اُطْلُبُوا “إلَيْهِ الْوَسِيلَة” مَا يُقَرِّبكُمْ إلَيْهِ مِنْ طَاعَته
Artinya: “(Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah) takutlah akan siksa-Nya dengan cara menaati perintah-Nya. (Untuk sampai kepada-Nya, carilah) sebuah wasilah berupa amal ketaatan yang dapat mendekatkan kalian kepada-Nya.”
Penjelasan ini menegaskan bahwa hukum membaca Surat Yasin pada malam Nisfu Syaban, yang diiringi dengan hajat tertentu, diperbolehkan dan merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui amal kebaikan dan doa.


















