Jejak Waktu, Tinta, dan Jantung

Diposting pada

Lapak Baca Dadakan di Kota Lama: Sebuah Kisah Literasi di Tengah Hujan dan Teguran

Sebuah ide sederhana namun berani muncul di antara sekelompok kawan: menggelar lapak baca buku di kawasan Kota Lama, Semarang. Ide ini disambut dengan antusiasme tinggi, seolah menjadi penawar dahaga literasi di tengah hiruk pikuk kota. Persiapan dilakukan dengan cepat, bahkan sehari sebelum pelaksanaan, sebuah pamflet digital disebarkan melalui Instagram sebagai bukti keseriusan rencana tersebut.

Acara ini dijadwalkan pada sore hari, 14 Februari 2026, bertepatan dengan Hari Valentine. Bagi sebagian dari mereka yang masih berstatus jomblo, lapak baca ini mungkin menjadi semacam hiburan, pengalihan rasa sepi setelah beberapa di antara mereka baru saja mengalami kegagalan dalam urusan percintaan.

Ketika senja mulai menyelimuti Kota Lama dengan gemerlap lampu, para mahasiswa ini mulai menggelar karpet dan menata koleksi buku yang mereka bawa. Meski gerimis baru saja reda dan jalanan masih basah, semangat mereka tak surut. Lapak baca dadakan ini pun resmi dibuka, sebuah upaya merebut ruang publik untuk kegiatan yang bermanfaat. Dengan buku-buku sebagai pusaka pengetahuan dan alas seadanya, mereka membuktikan bahwa semangat literasi dapat hadir tanpa kemewahan. Keberadaan seorang pejabat kampus di antara mereka menambah warna tersendiri dalam kelompok yang mayoritas adalah mahasiswa biasa ini.

Lokasi Pertama dan Teguran Tak Terduga

Pilihan lokasi pertama jatuh di area yang tidak jauh dari Taman Srigunting. Lokasi ini dipilih karena posisinya yang strategis, berada di pinggir keramaian pengunjung Kota Lama, meskipun pencahayaan di area tersebut kurang memadai untuk kegiatan membaca.

Belum genap dua puluh menit lapak dibuka, sebuah teguran datang. Bukan dari calon pembaca, melainkan dari petugas keamanan. Beberapa petugas keamanan mendekati mereka dengan tenang. Meskipun menyadari situasi tersebut, para mahasiswa ini memilih untuk berpura-pura sibuk membaca. Seperti dugaan, petugas keamanan meminta mereka untuk memindahkan lapak baca.

Pindah Lokasi dan Harapan yang Tertunda

Setelah menerima teguran, rombongan ini segera bergegas memindahkan lapak mereka ke lokasi kedua, yaitu di sebuah gang di seberang Gereja GPIB Immanuel. Suasana kembali tenang, dan mereka menghela napas lega, berharap kali ini dapat menjalankan kegiatan dengan lancar.

Tak lama kemudian, seorang pengunjung perempuan muda berhijab tampak melintas. Matanya tertuju pada deretan buku yang tersaji, seolah sedang membaca judul-judulnya dari kejauhan. Awalnya, mereka mengira perempuan itu akan menjadi pengunjung pertama. Namun, ia tidak berhenti. Muncul dugaan di benak mereka, mungkin karena semua relawan adalah laki-laki, atau mungkin karena suasana yang kurang kondusif bagi seorang introvert, ditambah dengan bau asap rokok yang mungkin tercium.

Teguran dari petugas keamanan tadi memaksa mereka untuk berpindah. Namun, di lokasi kedua ini, mereka kembali dihadapkan pada situasi yang mengharuskan perpindahan lagi. Gerimis mulai turun rintik-rintik, menandakan potensi hujan yang lebih deras.

Napas lega yang baru saja terhela harus kembali berpacu karena gerimis semakin deras. Mereka memutuskan untuk mencari lokasi ketiga, berlindung di sela-sela kios yang sedang tutup. Di lokasi ketiga ini, mereka bertahan lebih lama. Meskipun dirasa agak sepi dan kurang ideal, namun buku-buku sudah terlanjur ditata.

Beberapa menit kemudian, mereka kembali didatangi. Kali ini bukan petugas keamanan, melainkan seorang ibu yang merupakan juru parkir. Beliau bertanya apakah mereka sedang berjualan. Kebetulan, lapak mereka berada persis di seberang tanda “dilarang berjualan di sini”. Dengan sopan, mereka menjelaskan bahwa buku-buku tersebut tidak dijual dan gratis untuk dibaca. Setelah memahami maksud mereka, sang juru parkir kembali melanjutkan pekerjaannya.

Pengunjung Pertama dan Momen Canggung

Baru di lokasi ketiga inilah lapak baca mereka akhirnya disambangi oleh seorang pembaca. Anak dari ibu juru parkir tadi datang dengan nada manis dan sedikit malu bertanya, “Ada buku apa aja?”. Para relawan antusias menyambut kedatangan anak kecil itu, namun mereka sedikit bingung harus menawarkan buku apa. Sebagian besar buku yang dibawa adalah karya sejarah dan novel serius yang tergolong berat. Sebuah celetukan asal menyarankan, “Kasih buku Madilog aja”—tentu saja itu hanya candaan. Untungnya, salah satu dari mereka membawa tiga komik Doraemon yang diharapkan dapat menarik minat si anak.

Sebuah momen canggung terjadi ketika salah satu dari mereka hendak menemani anak kecil itu. Dipa menarik rekannya, menyarankan agar mereka berdua duduk saja, dan biarkan Basith yang menemani anak juru parkir itu. Alasannya, karena mereka berdua berambut gondrong, ada kekhawatiran jika mereka mendampingi anak tersebut, akan dikira sebagai penculik. Sebuah persepsi yang tentu saja menyebalkan.

Harapan untuk Berlanjut dan Komunitas Literasi

Tak terasa, hujan telah reda. Mereka memutuskan untuk kembali ke lokasi di seberang gereja. Setelah cukup lama menggelar lapak, mereka kedatangan pengunjung kedua, sekaligus pengunjung terakhir pada hari itu. Seorang pria berambut gondrong yang dikuncir, diperkirakan berusia 30-an, datang bersama seorang perempuan berhijab. Awalnya, kewaspadaan muncul, mengira mereka adalah intel yang menyamar.

Namun, kewaspadaan itu segera lenyap. Ternyata, mereka penasaran dengan buku “NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia” karya Solahudin. Interaksi sesekali dilakukan untuk mencairkan suasana yang sepi tanpa mengganggu kenyamanan membaca mereka.

Menjelang pukul sepuluh malam, gerimis mulai turun kembali. Pengunjung terakhir pun berpamitan, dan mereka tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah membereskan semua perlengkapan, mereka bersiap untuk pulang ke kos masing-masing.

Meskipun kegiatan hari itu diwarnai berbagai tantangan, harapan untuk melanjutkan lapak baca ini tetap membara. Mereka berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut, menjadi embrio bagi terbentuknya komunitas literasi yang kuat, di tengah derasnya arus distraksi di era digital ini.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan