Perjuangan Ibu Tunggal di Tanjungpinang: Ditinggal Suami yang Menikah Lagi
Kehidupan Jumi Delvita Sari, seorang ibu berusia 40 tahun di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, kini berubah drastis. Ia terpaksa berjuang sendirian untuk menghidupi keempat anaknya setelah sang suami, berinisial A (46), yang berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, menghilang dan memblokir nomor teleponnya. Situasi ini memaksa Jumi dan anak bungsunya yang masih berusia empat tahun untuk hidup berpindah-pindah, mencari nafkah di tengah keterbatasan.
Kisah pilu ini bermula ketika A, sang suami, diketahui telah menikah lagi secara siri dengan seorang wanita berstatus janda. Bukti kasih sayang dan tanggung jawab yang seharusnya menjadi pondasi rumah tangga justru berbalik menjadi luka mendalam bagi Jumi dan anak-anaknya. Kini, Jumi dan putra bungsunya harus menumpang di sebuah kamar kos dengan biaya sewa Rp500 ribu per bulan yang terletak di Jalan Pramuka, Tanjungpinang. Sementara itu, ketiga anaknya yang lain terpaksa tinggal di Pekanbaru, Provinsi Riau.
Beban biaya sewa kamar kos saja sudah terasa berat bagi Jumi, apalagi untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Ia tak punya pilihan selain berputar otak dan berkeliling kota menggunakan sepeda motor pinjaman untuk menjajakan buah mangga. Pendapatan dari berjualan mangga inilah yang diharapkan bisa mencukupi kebutuhan pokok seperti beras dan lauk pauk sederhana.
“Suami saya tidak pernah pulang lagi ke rumah tinggal kami bersama di Tanjung Siambang, bahkan tidak pernah sekalipun melihat minimal anak balitanya ini ke rumah kos, padahal anaknya selalu minta video call kepada Ayahnya,” ungkap Jumi dengan nada sedih saat ditemui.
Terputus Komunikasi dan Kebohongan Demi Anak
Kondisi semakin memprihatinkan ketika Jumi tidak bisa menghubungi suaminya karena nomor teleponnya telah diblokir. Rasa sakit hati sebagai seorang ibu semakin bertambah ketika sang anak kecil terus bertanya kapan ayahnya pulang, dengan alasan ayahnya sedang pergi bekerja. Jumi terpaksa terus memberikan alasan kepada buah hatinya, menutupi kenyataan pahit yang sedang dihadapinya.
Jumi menceritakan bahwa ia telah tinggal di rumah kos selama dua bulan terakhir, terhitung sejak ia melaporkan dugaan perselingkuhan dan perzinahan yang dilakukan suaminya ke Polresta Tanjungpinang. Ia mengakui, untuk mendapatkan uang sewa kamar saja sudah sangat sulit, apalagi untuk biaya makan sehari-hari.
“Saya harus berjualan mangga dari pagi sampai sore, kalau dagangan laku kami bisa makan, kalau tidak ya terpaksa harus berhemat sekuat tenaga, kadang ada kenalannya yang memberikan lauk,” tuturnya lirih.
Situasi hidup mereka terasa semakin berat, di mana suami yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga justru dikabarkan hidup nyaman bersama istri barunya di sebuah restoran di daerah Dompak. Jumi merasa terlantar dan terlunta-lunta menjalani hidup di rumah kos bersama putra bungsunya, tanpa kepastian.
Mencari Bantuan dan Pasrah pada Takdir
Dalam situasi yang serba sulit, Jumi mengaku sering meminjam uang kepada teman-temannya untuk sekadar bertahan hidup. Ia juga telah berusaha meminta bantuan ke Baznas Kota Tanjungpinang. Saat ini, masalah rumah tangga yang dihadapinya masih menggantung, dan Jumi seakan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari.
“Saya hanya serahkan kepada Allah saja, gimana baiknya. Jika kami pisah saya hanya minta sejumlah uang untuk membayar hutang saya kepada teman saya gara-gara bolak balik beberapa kali Pekanbaru – Tanjungpinang untuk biaya transportasi selama urusan masalah ini,” akunya.
Tanggapan Suami: Gaji Belum Cair dan Kebingungan
Menanggapi tuduhan menelantarkan keluarga, sang suami berinisial A membantah hal tersebut. Ia mengaku belum sempat memberikan nafkah karena gaji yang seharusnya diterima belum cair.
“Saya tidak pernah menelantarkan istri dan anak saya. Memang saat ini gaji saya belum cair, jadi memang belum sempat memberikan uang,” ujar A.
Ia menambahkan bahwa ketika gajinya sudah cair, ia berjanji akan memberikan bagian untuk anak dan istrinya. A juga mengaku sedang bingung dengan kelanjutan hubungan rumah tangganya dengan Jumi, mengingat istrinya telah melaporkannya ke kantor tempatnya bekerja dan ke pihak kepolisian.
Kisah pilu Jumi ini pun telah menarik perhatian banyak warga sekitar, yang turut merasa bersimpati kepada Jumi dan keluarganya. Dukungan moral dan simpati datang dari masyarakat serta sanak saudara yang mengenal kedua belah pihak.









