Kalanjaya Band Sajikan Nuansa Pengerupukan dalam Single ‘Ogoh-ogoh Suryak-suryak’
DENPASAR – Kalanjaya Band, grup musik yang dikenal dengan perpaduan genre pop rock, punk rock, dan ska rock, baru saja merilis karya terbarunya yang bertajuk ‘Ogoh-ogoh Suryak-suryak’. Single perdana ini secara khusus mengangkat tema Ogoh-ogoh, sebuah tradisi sakral yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Nyepi di Bali.
Doa Praditya, sang drummer Kalanjaya Band, menjelaskan bahwa pemilihan tema Ogoh-ogoh bukan tanpa alasan. Menurutnya, Ogoh-ogoh merupakan elemen krusial dalam kebudayaan Bali, terutama saat menyambut datangnya Hari Raya Nyepi. Melalui karya musik ini, Kalanjaya Band berupaya mengekspresikan daya kreativitas seni mereka sekaligus menyebarkan pesan filosofis yang mendalam.
“Melalui Ogoh-ogoh, kami ingin mengekspresikan kreativitas seni sekaligus menyampaikan makna filosofi tentang mengusir sifat-sifat negatif atau bhuta kala yang ada dalam diri manusia,” ujar Doa Praditya. Ia menambahkan bahwa tema Ogoh-ogoh juga menjadi sarana bagi Kalanjaya Band untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya Bali, memastikan agar tradisi ini tetap relevan dan dicintai oleh generasi muda.
Harapannya, single ‘Ogoh-ogoh Suryak-suryak’ tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga mampu menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menjaga keseimbangan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Konsep “suryak-suryak” yang berarti mengusir, dalam konteks ini, diinterpretasikan sebagai upaya mengusir segala bentuk energi negatif atau “bhutakala” yang bersemayam dalam diri.
Lebih jauh, Doa Praditya mengungkapkan pandangan Kalanjaya Band mengenai evolusi makna Ogoh-ogoh. “Menurut kami dari Kalan Jaya Band, ogoh-ogoh saat ini bukan hanya sekadar patung atau pawai menjelang Nyepi, tetapi juga simbol refleksi diri bagi masyarakat. Dalam filosofi Bali, ogoh-ogoh melambangkan bhuta kala atau sifat-sifat negatif dalam diri manusia seperti amarah, keserakahan, dan ego. Dengan diarak lalu dibakar, itu menjadi simbol bahwa kita harus membuang energi negatif tersebut agar bisa memasuki Hari Raya Nyepi dengan hati yang lebih bersih.”
Kalanjaya Band sendiri diperkuat oleh jajaran musisi berbakat. Formasi band ini meliputi Pulungan KJ pada vokal dan gitar, Adi BLX pada gitar utama, Nengah Amstrong pada bass, dan Doa Praditya sebagai drummer.
Karya-karya Kalanjaya Band dapat dinikmati melalui berbagai platform digital. Single ‘Ogoh-ogoh Suryak-suryak’ kini tersedia di kanal YouTube resmi Kalanjaya Official. Selain itu, lagu ini juga dapat diakses di berbagai platform streaming musik populer seperti Spotify dan SoundCloud, serta dapat ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook.
Kolaborasi Musik Modern dan Kearifan Lokal
“Harapan kami dengan rilisnya single terbaru berjudul Ogoh-Ogoh ini semoga bisa diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda di Bali. Lagu ini kami buat bukan hanya sebagai karya musik, tapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi budaya Bali, khususnya tradisi ogoh-ogoh yang sangat identik dengan perayaan Nyepi,” tegas Doa Praditya.
Kalanjaya Band berkomitmen untuk menjaga eksistensi budaya Bali melalui sentuhan musik yang energik. Mereka berharap single ‘Ogoh-ogoh Suryak-suryak’ dapat menumbuhkan semangat pada anak muda untuk terus mencintai, menjaga, dan melestarikan warisan budaya leluhur, meskipun dikemas dalam balutan musik punk rock yang menjadi ciri khas Kalanjaya Band.
Lebih dari sekadar karya musik, Kalanjaya Band ingin single ini menjadi sumber energi positif dan kebanggaan bagi masyarakat. “Semoga juga lagu ini bisa menghibur, memberi energi positif, dan membuat masyarakat semakin bangga dengan tradisi ogoh-ogoh,” tutupnya dengan penuh harap.
Perpaduan antara irama pop rock, punk rock, dan ska rock yang dibawakan Kalanjaya Band dengan tema filosofis Ogoh-ogoh diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi pendengar, khususnya generasi muda, mengenai kekayaan tradisi Bali. Melalui ‘Ogoh-ogoh Suryak-suryak’, Kalanjaya Band tidak hanya merayakan seni musik, tetapi juga merayakan kearifan lokal yang terus hidup dan relevan di era modern. Tradisi Ogoh-ogoh, yang secara simbolis mengusir kegelapan dan keburukan, kini diinterpretasikan ulang melalui nada dan lirik yang berpotensi menyentuh hati dan pikiran para pendengarnya, menjadi pengingat akan pentingnya introspeksi diri dan pembersihan batin menjelang momen suci Nyepi.



