Jakarta – Peristiwa yang dikenal dengan sebutan ‘Agustus Kelabu’ menjadi sorotan dalam rapat antara Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan Komisi III DPR RI. Insiden demonstrasi besar-besaran tersebut, yang berujung pada meninggalnya seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan setelah terlindas kendaraan taktis Brimob, dinilai memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa ‘Agustus Kelabu’ memicu serangkaian peristiwa yang mengganggu stabilitas, termasuk aksi perusakan fasilitas publik yang menyasar berbagai kantor lembaga negara. Kantor-kantor kepolisian, gedung DPRD, serta kantor pemerintahan daerah menjadi sasaran dalam aksi tersebut.
“Tahun ini adalah tahun yang sangat sulit, kita menghadapi berbagai macam dinamika yang terjadi di tanah air, khususnya kejadian beberapa waktu yang lalu yang kami kenal dengan istilah Agustus Kelabu,” ujar Kapolri Listyo saat rapat bersama Komisi III DPR RI di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Meskipun demikian, Kapolri Listyo menyampaikan rasa syukurnya karena dampak dari ‘Agustus Kelabu’ dapat segera diredam berkat dukungan dari seluruh elemen bangsa. Secara umum, ia menilai bahwa situasi Kamtibmas sepanjang tahun 2025 berjalan kondusif.
Untuk mengukur tingkat keamanan dan kepercayaan publik, Kapolri Listyo memaparkan hasil survei dari beberapa lembaga independen.
Hasil Survei Keamanan Global dan Kepercayaan Publik
Global Safety Report: Survei ini menempatkan Indonesia pada posisi ke-19 dari 140 negara dengan nilai 89. Survei ini dilakukan setelah insiden ‘Agustus Kelabu’, tepatnya pada tanggal 18 September 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi peristiwa yang mengguncang, Indonesia tetap dinilai sebagai negara yang relatif aman.
Keamanan Berjalan di Malam Hari: Survei juga menanyakan kepada responden apakah mereka merasa aman saat berjalan sendirian di malam hari (self to walk alone at night). Hasilnya, sebanyak 83 persen responden mengaku merasa aman. Berdasarkan indikator ini, Indonesia berada di peringkat ke-25 dari 144 negara dengan nilai 89. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia merasa aman untuk beraktivitas di malam hari.
- Survei Litbang Kompas: Lembaga penelitian dan pengembangan Kompas juga merilis hasil survei pada bulan November 2025. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa Polri menjadi salah satu lembaga negara yang paling dipercaya oleh masyarakat. Polri menduduki peringkat ketiga secara keseluruhan dan menjadi lembaga penegak hukum yang paling dipercaya pada peringkat pertama. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan publik terhadap Polri setelah berbagai upaya pembenahan dan peningkatan kinerja yang dilakukan.
Kehadiran Kapolda dalam Rapat Komisi III
Rapat Komisi III DPR RI dengan Kapolri tersebut dihadiri oleh seluruh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dari seluruh Indonesia. Kehadiran para Kapolda ini menunjukkan keseriusan Polri dalam menghadapi berbagai permasalahan Kamtibmas yang terjadi di daerah masing-masing. Diharapkan, dengan adanya koordinasi yang baik antara Kapolri dan para Kapolda, berbagai permasalahan Kamtibmas dapat segera diatasi dan stabilitas keamanan dapat terus terjaga.
Rapat tersebut menjadi wadah bagi para anggota Komisi III DPR RI untuk menyampaikan berbagai pertanyaan dan masukan kepada Kapolri terkait dengan berbagai isu Kamtibmas yang menjadi perhatian publik. Kapolri pun memberikan penjelasan dan jawaban yang komprehensif atas berbagai pertanyaan yang diajukan. Diharapkan, melalui forum ini, sinergi antara Polri dan DPR RI dapat semakin ditingkatkan dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.


















