Konflik Dualisme Yayasan Guncang SMK Turen, Proses Belajar Mengajar Terhenti
Sebuah dinamika kompleks tengah melanda Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Turen di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Konflik yang berakar pada dualisme kepemilikan yayasan dilaporkan telah berdampak serius pada kelancaran kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. Pihak Dinas Pendidikan Jawa Timur menegaskan akan segera turun tangan untuk memastikan pendidikan para siswa tidak terganggu.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyatakan bahwa pihaknya melalui Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Malang telah melakukan pemantauan intensif. “Kami telah melakukan monitoring intensif, pendampingan langsung ke sekolah, serta koordinasi lintas sektor, termasuk dengan aparat keamanan,” ujar Aries. Ia menekankan pentingnya memprioritaskan kepentingan peserta didik di atas segala konflik.
Aries secara khusus meminta pengurus yayasan yang terlibat dalam perselisihan untuk menahan diri. Aktivitas yang dapat mengganggu rasa aman, psikologis, maupun konsentrasi belajar siswa dan guru harus dihindari. “Yang paling utama adalah memastikan siswa tetap bisa belajar dengan aman, tenang, dan bermartabat. Pendidikan tidak boleh menjadi korban dari konflik apa pun,” tegasnya. Terkait dualisme yayasan, Aries berharap semua pihak menempuh jalur hukum yang berlaku dan menghormati mekanisme yang ada. “Kami meminta semua pihak menyerahkan sepenuhnya kepada proses yang sedang berlangsung, dan tidak mengambil langkah sepihak,” imbuhnya.
Insiden Truk Pengrusakan Diduga Puncak Konflik
Ketegangan di SMK Turen memuncak pada Minggu dini hari, 28 Januari 2026, ketika sebuah truk menabrak pintu gerbang sekolah. Insiden ini diduga merupakan puncak dari konflik dualisme yayasan yang mengklaim kepemilikan atas SMK Turen. Dua yayasan yang berseteru adalah Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT) dan Yayasan Pendidikan Teknologi Waskito Turen (YPTWT).
Akibat dari konflik ini, proses belajar mengajar tatap muka di SMK Turen terpaksa diliburkan kembali sejak Kamis, 8 Januari 2026, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Padahal, kegiatan belajar mengajar tatap muka baru saja berjalan efektif selama tiga hari pasca libur semester ganjil serta libur Natal dan Tahun Baru. Pada Kamis (8/1/2026), suasana SMK Turen terlihat sepi, hanya terlihat beberapa guru yang sibuk mengerjakan pekerjaan administrasi.
Humas SMK Turen, Nur Afidah, ST, membenarkan adanya insiden truk yang menabrak gerbang sekolah. Ia menjelaskan bahwa setelah truk tersebut memaksa masuk ke area sekolah, beberapa orang kemudian menduduki ruang yayasan. “Mereka menduduki ruang yayasan itu sampai saat ini. Kami pun tidak mengenal siapa mereka,” ungkapnya. Untuk menjaga psikologi siswa, pihak sekolah memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka dan beralih ke sistem daring.
Nur Afidah menduga insiden ini merupakan buntut dari konflik dualisme yayasan yang belum terselesaikan. “Kami menyayangkan peristiwa ini. Kami berharap konflik ini segera berakhir agar proses belajar mengajar kembali normal. Kalaupun tidak, setidaknya jangan sampai mengganggu proses belajar mengajar di sekolah ini,” tuturnya. Pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini kepada Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang untuk mencari solusi.
Penanganan Hukum dan Harapan untuk Pendidikan
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Malang saat ini tengah menangani dugaan pengrusakan fasilitas sekolah akibat insiden truk yang menabrak gerbang SMK Turen pada Minggu, 28 Januari 2025. Laporan ini diajukan oleh Yayasan Pendidikan Teknologi Waskito Turen (YPTWT), yang menaungi SMK Turen. YPTWT menduga truk tersebut sengaja dikirim oleh pihak lawan, yaitu Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT), yang juga mengklaim hak atas sekolah tersebut.
KBO Satreskrim Polres Malang, Ipda Dicka Ermantara, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan dan telah memeriksa lima orang saksi, yang semuanya adalah petugas keamanan sekolah yang menyaksikan kejadian tersebut. “Kami sudah cek tempat kejadian perkara (TKP). Ada 5 saksi yang kami periksa. Semuanya satpam yang mengetahui pada saat adanya truk menabrak pagar tersebut,” jelasnya.
Dicka menambahkan bahwa penanganan kasus ini memerlukan kehati-hatian, mengingat pelaku diduga merupakan pihak yang juga memiliki klaim atas yayasan sekolah. “Jadi intinya kami juga masih berkoordinasi dengan pihak-pihak lain, seperti pemerintah daerah dan Muspika, untuk menentukan langkah terbaik dalam menangani perkara ini,” bebernya.
SMK Turen saat ini memiliki lebih dari 1.600 siswa yang tersebar di enam jurusan, meliputi Teknik Permesinan, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Sepeda Motor, Teknik Pengelasan, Teknik Kendaraan Ringan, dan Teknik Perangkat Lunak. Sekolah ini memiliki akreditasi A.
Pihak dinas pendidikan dan kepolisian berharap agar konflik internal yayasan ini dapat segera terselesaikan dengan baik. Prioritas utama adalah memastikan bahwa kepentingan pendidikan dan masa depan ratusan siswa tidak terganggu oleh perselisihan yang terjadi. “Mari kita jaga marwah pendidikan. Anak-anak kita berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik tanpa harus dibebani konflik organisasi yang tidak semestinya terjadi di lingkungan sekolah,” pungkas Aries Agung Paewai.



















