Kekalahan dari Arema FC Mengungkap Kelemahan Lini Belakang PSM Makassar
Tembok pertahanan PSM Makassar menjadi sorotan utama menjelang laga penting melawan Persib Bandung di pekan ke-33 Super League 2025/2026. Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion BJ Habibie, Parepare, pada Minggu (17/5/2026) pukul 20.00 Wita. Hasil kekalahan telak 0-3 dari Arema FC dalam pertandingan terakhir menjadi bukti bahwa lini belakang Juku Eja masih rentan terhadap serangan balik cepat.
Kekalahan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi antarpemain belakang PSM Makassar tidak optimal. Hal ini memicu kemungkinan rotasi skuad yang akan dilakukan oleh caretaker Ahmad Amiruddin. Ia mengakui bahwa masalah utama adalah kurangnya konsistensi dalam menghadapi transisi dari serangan ke bertahan. Ketika gagal membangun serangan, pemain Juku Eja terlambat turun menutup ruang, sehingga lawan bisa dengan mudah melakukan counter attack.
Gol-gol yang Menggemparkan
Dalam pertandingan melawan Arema FC, tiga gol yang dicetak oleh tim tamu berasal dari situasi serangan balik cepat. Gol pertama lahir dari penalti yang diberikan setelah Yuran Fernandes melanggar Gabriel Silva. Dalberto sebagai algojo berhasil mengeksekusi tendangan 12 pass dengan baik.
Gol kedua juga berasal dari serangan balik cepat. Matheus Blade memberikan umpan terobosan kepada Gabriel Silva, yang kemudian menggiring bola ke dalam kotak penalti dan mencetak gol dengan tendangan kaki kanannya. Sedangkan gol ketiga terjadi karena kelengahan pemain belakang PSM Makassar saat situasi lemparan ke dalam. Bola yang dilempar diberikan kepada Dalberto yang tak terkawal, lalu diserahkan kepada Joel Vinicius untuk mencetak gol.
Masalah Transisi dan Koordinasi
Transisi dari menyerang ke bertahan menjadi titik paling bermasalah bagi PSM Makassar. Jarak antar lini yang terlalu jauh membuat lini belakang sering menghadapi situasi berbahaya. Bek PSM Makassar beberapa kali dipaksa duel terbuka menghadapi pemain cepat Arema FC tanpa perlindungan maksimal dari gelandang bertahan.
Selain itu, pemain belakang PSM Makassar terlalu agresif membantu penyerangan, sehingga melupakan areanya. Akibatnya, mereka sering kali kelabakan ketika transisi negatif terjadi. Situasi ini menjadi alarm serius bagi PSM Makassar, terutama menjelang laga melawan Persib Bandung.
Ancaman dari Persib Bandung
Persib Bandung, yang dikenal sangat bagus dalam transisi cepat, menjadi ancaman serius bagi lini belakang PSM Makassar. Tim Maung Bandung juga sangat efektif dalam menyelesaikan peluang menjadi gol. Jika kelemahan serupa muncul lagi, PSM Makassar berpotensi kembali kebobolan lewat pola serangan yang sama.
Namun, kondisi ini tidak boleh terulang lagi. Menang menjadi harga mati bagi PSM Makassar demi menutup laga kandang musim ini dengan kemenangan. Meskipun telah lolos degradasi, klub kebanggaan masyarakat Sulsel ini harus terus memperbaiki posisi di klasemen. Saat ini, PSM Makassar berada di urutan 14 dengan 34 poin, hanya dua tingkat di zona degradasi.
Strategi dan Rotasi Skuad
Caretaker PSM Makassar Ahmad Amiruddin mengaku koordinasi lini belakang timnya kurang bagus ketika kalah dari Arema FC. Ia pun mempertimbangkan untuk merotasi skuadnya ketika meladeni Persib. “Bisa dilihat koordinasi di lini belakang kurang bagus. Kemungkinan di laga selanjutnya ada pemain akan dirotasi,” katanya saat konferensi pers usai pertandingan PSM Makassar vs Arema FC.
PSM Makassar mendapat angin segar menghadapi Persib. Bek sayap kiri andalannya Victor Luiz bisa bermain pasca menjalani sanksi akumulasi kartu kuning. Kehadiran pemain nomor punggung 22 ini akan mempertebal kekokohan tembok pertahanan.
Pandangan Pengamat Sepak Bola
Pengamat Sepak Bola Syamsuddin Umar menilai PSM Makassar kemasukan gol dari transisi gegara fokus menyerang. Mereka berpikir bagaimana bisa mencetak gol, tetapi melupakan lini pertahanan. “Hanya berpikir menyerang, tidak berpikir kalau dia diserang bagaimana antisipasinya,” katanya saat dihubungi.
Menurutnya, gol kedua Arema FC terjadi karena adanya ketidaksesuaian posisi, bagaimana berdiri bola, gawang dan pemain. “Itu tidak sesuai, akhirnya masuk bola dari pinggir begitu saja kan. Itu teknis,” tambahnya.
Syamsuddin Umar turut menyoroti pengaturan ritme lapangan tengah. Ia melihat tak ada ritme di lini tengah ketika counter attack tiba-tiba, saat menguasai lapangan tengah dan konsistensi menguasai bola. “Tidak terjadi itu (pengaturan ritme),” ucap pelatih yang bawa PSM Makassar juara dua kali ini.



















