Ketua LSM Harimau Bantah Pengeroyokan Kades: Kami Datang untuk Advokasi, Bukan Demo

Diposting pada

LSM Harimau Bantah Tuduhan Pengeroyokan Kepala Desa, Ungkap Kronologi Versi Mereka

BANJARNEGARA – Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Harimau, Prakas, secara tegas membantah tuduhan bahwa dirinya dan sejumlah anggotanya melakukan pengeroyokan terhadap Kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara. Prakas menjelaskan bahwa kehadiran mereka di kantor desa bukanlah untuk mendemonstrasi, melainkan untuk memberikan pendampingan advokasi kepada beberapa peserta seleksi perangkat desa yang merasa dirugikan.

Kericuhan yang terjadi di Balai Desa Purwasaba pada Sabtu lalu, menurut Prakas, bermula dari sebuah audiensi yang membahas dugaan kejanggalan dalam proses penjaringan calon perangkat desa. Seleksi tersebut dikhususkan untuk mengisi tiga posisi Kepala Dusun (Kadus) di Desa Purwasaba.

“Kami datang bukan untuk berdemo, sama sekali tidak ada agenda demonstrasi. Kami hadir untuk memberikan pendampingan advokasi dalam sebuah audiensi, dan itu pun atas permintaan langsung dari beberapa peserta yang tidak lolos dalam seleksi,” ujar Prakas saat dikonfirmasi pada Minggu (15/3/2026).

Temuan Kejanggalan dalam ‘Bank Soal’ Seleksi

Dalam audiensi tersebut, LSM Harimau bertindak sebagai perwakilan bagi sekitar sepuluh peserta seleksi perangkat desa. Mereka mengajukan pertanyaan mengenai transparansi panitia seleksi, khususnya terkait penggunaan bank soal yang diduga disimpan dalam sebuah perangkat flashdisk.

Prakas menilai penggunaan bank soal yang tersimpan dalam flashdisk tersebut tidaklah lazim. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya terdapat saran agar panitia menggunakan soal-soal baru untuk proses seleksi.

“Saat kami menanyakan perihal flashdisk berisi soal tersebut, ketua panitia tidak mampu memberikan penjelasan yang memadai. Situasi mulai memanas ketika Kepala Desa ikut terbawa emosi, padahal kami hanya bertanya kepada pihak panitia,” ungkap Prakas.

Ia mengklaim bahwa kericuhan yang terjadi bukanlah dipicu oleh provokasi dari pihak LSM Harimau. Sebaliknya, Prakas menduga kericuhan dipicu oleh kehadiran orang-orang dari luar daerah yang ikut tersulut emosi di dalam ruang audiensi. Untuk membantah tudingan pengeroyokan, Prakas menyatakan bahwa pihaknya memiliki rekaman video utuh yang akan dijadikan sebagai bukti.

Laporan Resmi ke Polres Banjarnegara dan Tuntutan Pengulangan Seleksi

Akibat dari polemik yang terjadi, sepuluh peserta seleksi yang merasa proses mereka dirugikan telah secara resmi melaporkan kejadian tersebut ke Polres Banjarnegara. Para peserta ini mendesak agar proses seleksi perangkat desa diulang jika nantinya ditemukan adanya pelanggaran administratif oleh pihak Inspektorat.

“Apabila memang terbukti ada kesalahan atau pelanggaran secara administratif, kami meminta agar seluruh tahapan penjaringan diulang demi menjamin transparansi dan keadilan bagi semua peserta,” tegas Prakas.

Lebih lanjut, Prakas menepis isu yang beredar bahwa kericuhan tersebut terjadi karena anggotanya sendiri tidak lolos dalam seleksi perangkat desa. Ia menjelaskan bahwa dari sepuluh peserta yang didampingi oleh LSM Harimau, hanya satu orang yang merupakan kader dari LSM Harimau. Bahkan, kader tersebut diklaim siap mengundurkan diri jika pencalonannya menimbulkan polemik, asalkan proses seleksi berjalan dengan jujur dan transparan.

Kepala Desa Mengaku Menjadi Korban Pengeroyokan

Sebelumnya, Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho, yang akrab disapa Hoho Alkaf, melaporkan bahwa dirinya menjadi korban pengeroyokan. Ia mengaku mengalami kerusakan pada atribut kedinasannya serta luka fisik akibat insiden tersebut.

Menurut Hoho, pemicu insiden ini adalah desakan massa yang menuntut pembatalan hasil penjaringan perangkat desa. Ia diserang ketika hendak meninggalkan lokasi acara tak lama setelah audiensi yang berlangsung memanas.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, @hoho_alkaff, Hoho menceritakan momen mencekam saat dirinya dihujani pukulan dari berbagai arah sebelum sempat mendapatkan pengawalan ketat dari aparat keamanan.

“Saat saya baru saja keluar dari pintu aula, sebelum sempat dikawal, tiba-tiba pukulan datang dari belakang, samping, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari arah depan,” ungkap Hoho pada Rabu (12/3/2026).

Akibat serangan tersebut, kacamata Hoho pecah, pakaian dinasnya robek, dan atribut papan namanya terlepas karena ditarik-tarik oleh massa. Hoho menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial hanya memperlihatkan dirinya sudah berada di belakang mobil pengamanan, sehingga momen awal pengeroyokan tidak terekam secara utuh.

Hoho membeberkan bahwa kekecewaan salah satu anggota LSM yang tidak lolos seleksi perangkat desa menjadi pemicu demonstrasi. Massa menuntut agar proses seleksi diulang, namun Hoho bersikukuh bahwa seluruh tahapan seleksi telah sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan