Polemik Seleksi Perangkat Desa Purwasaba: LSM Harimau Bantah Tuduhan Pengeroyokan
BANJARNEGARA – Sebuah insiden yang berujung pada tuduhan pengeroyokan terhadap Kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, kini menjadi sorotan. Prakas, selaku Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Harimau, dengan tegas membantah klaim bahwa dirinya dan para anggotanya terlibat dalam tindakan tersebut.
Menurut Prakas, kehadiran dirinya beserta sejumlah anggota LSM Harimau di Kantor Desa Purwasaba pada hari kejadian bukanlah untuk menggelar aksi demonstrasi. Sebaliknya, mereka datang untuk memberikan pendampingan advokasi bagi sejumlah peserta seleksi perangkat desa yang merasa tidak puas dengan hasil penjaringan. Permintaan pendampingan ini muncul setelah beberapa peserta seleksi yang dinyatakan tidak lolos secara resmi meminta bantuan kepada LSM Harimau.
Kericuhan yang terjadi pada Sabtu lalu dipicu oleh sebuah audiensi yang membahas dugaan kejanggalan dalam proses penjaringan perangkat desa untuk tiga posisi Kepala Dusun (Kadus) di Desa Purwasaba. Prakas menjelaskan, “Kami bukan datang untuk demo, tidak ada agenda demonstrasi sama sekali. Kami hadir untuk memberikan pendampingan advokasi dalam forum audiensi, atas permintaan langsung dari beberapa peserta yang tidak berhasil lolos dalam seleksi.”
Dugaan Kejanggalan ‘Bank Soal’ Menjadi Pemicu
Dalam forum audiensi tersebut, LSM Harimau yang bertindak atas nama sekitar sepuluh peserta seleksi, mengangkat sejumlah pertanyaan krusial terkait transparansi yang dijalankan oleh panitia seleksi. Salah satu poin utama yang dipertanyakan adalah mengenai penggunaan “bank soal” yang disimpan dalam sebuah media penyimpanan digital seperti flashdisk.
Prakas menganggap praktik tersebut tidak lazim. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya telah ada masukan agar panitia menggunakan materi soal yang baru untuk proses seleksi. “Saat kami mencoba mengklarifikasi perihal flashdisk berisi soal tersebut, ketua panitia tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan. Suasana mulai memanas ketika Kepala Desa ikut terbawa emosi, padahal pertanyaan kami ditujukan kepada pihak panitia seleksi,” urai Prakas.
Prakas mengklaim bahwa kericuhan yang terjadi bukanlah akibat provokasi dari pihak LSM Harimau. Ia berpendapat bahwa situasi memanas dipicu oleh kehadiran individu-individu dari luar desa yang ikut tersulut emosi di dalam ruang audiensi. Untuk membantah tudingan pengeroyokan, Prakas menyatakan bahwa pihaknya memiliki bukti rekaman video yang utuh dan komprehensif.
Laporan Resmi ke Polres Banjarnegara dan Tuntutan Pengulangan Seleksi
Sebagai buntut dari polemik yang terjadi, kesepuluh peserta seleksi yang merasa hak-haknya dirugikan telah secara resmi mengajukan laporan ke Polres Banjarnegara. Mereka mendesak agar proses seleksi perangkat desa tersebut dapat diulang, terutama jika nantinya ditemukan adanya pelanggaran administratif oleh pihak Inspektorat.
“Apabila memang ditemukan adanya kekeliruan atau pelanggaran administratif, kami dengan tegas meminta agar seluruh tahapan penjaringan diulang demi menjamin transparansi dan keadilan,” tegas Prakas.
Lebih lanjut, Prakas juga membantah keras isu yang menyebutkan bahwa kericuhan tersebut terjadi karena anggota LSM Harimau tidak ada yang lolos seleksi. Ia mengklarifikasi bahwa dari sepuluh peserta yang didampingi, hanya satu orang yang merupakan kader aktif dari LSM Harimau. Bahkan, anggota tersebut dikabarkan menyatakan kesiapannya untuk mengundurkan diri dari pencalonan apabila kehadirannya memicu polemik, asalkan proses seleksi berjalan secara jujur dan adil.
Pengakuan Kepala Desa: Merasa Menjadi Korban Pengeroyokan
Sebelumnya, Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho, yang akrab disapa Hoho Alkaf, membeberkan bahwa dirinya mengaku menjadi korban pengeroyokan. Ia melaporkan adanya kerusakan pada atribut kedinasannya serta mengalami cedera fisik akibat insiden tersebut. Menurut Hoho, peristiwa ini dipicu oleh desakan massa yang menuntut pembatalan hasil penjaringan perangkat desa. Ia mengaku diserang saat hendak meninggalkan lokasi, tak lama setelah audiensi yang berlangsung memanas.
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, @hoho_alkaff, Hoho Alkaf membagikan kronologi momen mencekam saat dirinya dihujani pukulan dari berbagai arah sebelum sempat mendapatkan pengawalan ketat dari aparat keamanan. “Ketika saya baru saja keluar dari pintu aula, sebelum sempat dikawal, tiba-tiba pukulan datang dari belakang, samping, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari arah depan,” ungkap Hoho pada Rabu (12/3/2026).
Akibat serangan tersebut, kacamata Hoho mengalami kerusakan parah hingga pecah, pakaian dinas yang dikenakannya robek, dan atribut papan namanya terlepas akibat ditarik-tarik oleh massa. Ia juga menekankan bahwa video yang beredar di media sosial hanya menampilkan sebagian momen ketika dirinya sudah berada di belakang mobil pengamanan, sehingga momen awal terjadinya pengeroyokan tidak terekam secara keseluruhan.
Hoho membeberkan bahwa akar permasalahan demonstrasi ini adalah kekecewaan salah satu anggota LSM yang tidak berhasil lolos dalam seleksi perangkat desa. Massa menuntut agar proses seleksi diulang. Namun, Hoho bersikukuh bahwa seluruh tahapan seleksi telah dilaksanakan sesuai dengan regulasi yang berlaku.



