BALI – Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ekonomi Hijau Asia-Pasifik di Bali, sebuah forum penting yang menggarisbawahi komitmen global dan regional terhadap pembangunan berkelanjutan. Acara ini tidak hanya menjadi platform diskusi para pemimpin, tetapi juga memicu euforia publik atas prospek masa depan yang lebih hijau dan sejahtera. Keberhasilan penyelenggaraan ini menjadi sorotan utama, memunculkan berbagai harapan dan pertanyaan mengenai implementasi serta dampak jangka panjangnya bagi Indonesia.
Momentum Penting untuk Investasi Hijau dan Digital
KTT yang diselenggarakan di Pulau Dewata ini telah menegaskan kembali pentingnya investasi pada sektor ekonomi hijau dan digital. Indonesia, melalui forum ini, berupaya menarik investasi strategis yang selaras dengan agenda keberlanjutan dan inovasi teknologi. Hal ini sangat krusial mengingat tren global yang semakin mengarahkan pada transisi energi terbarukan dan ekonomi sirkular.
Wakil Ketua Departemen Hubungan Internasional BINUS University, Dian Novikrisna, menekankan bahwa Indonesia harus secara optimal memanfaatkan momentum KTT ini. “Indonesia perlu memastikan bahwa agenda APEC yang menekankan konektivitas digital, keberlanjutan, dan inovasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk menarik investasi strategis dalam sektor energi hijau dan ekonomi digital,” ujarnya. Korea Selatan, misalnya, diidentifikasi sebagai mitra potensial yang kuat dalam memimpin agenda digitalisasi dan keberlanjutan. Total investasi kumulatif Korea Selatan di Indonesia yang mencapai miliaran dolar AS dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan potensi kolaborasi yang signifikan di masa depan.
Menjaring Investasi Strategis dan Kemitraan Bilateral
Selain fokus pada investasi hijau, KTT Ekonomi Hijau Asia-Pasifik juga membuka peluang lebih luas untuk penguatan kemitraan bilateral. Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif yang telah berlaku, seperti IK-CEPA antara Indonesia dan Korea Selatan, menjadi landasan penting bagi liberalisasi tarif, transfer ekonomi, dan pengembangan ekonomi digital yang lebih intensif.
Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi, tetapi juga merambah ke bidang pertahanan, seperti pengembangan industri pertahanan bersama dan proyek pesawat tempur. Namun, penting bagi Indonesia untuk memastikan bahwa transfer teknologi berjalan optimal dan ada keseimbangan antara kepentingan investasi asing dengan pembangunan kapasitas domestik. Menghindari ketergantungan berlebihan pada satu mitra juga menjadi tantangan strategis dalam dinamika geopolitik yang kompleks.
Respon Masyarakat dan Generasi Muda
Penyelenggaraan KTT Ekonomi Hijau Asia-Pasifik ini turut disambut antusias oleh masyarakat, terutama generasi muda. Melalui berbagai ajang partisipatif, seperti lomba media sosial yang diselenggarakan oleh Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), terlihat jelas harapan besar dari Generasi Z. Mereka mendambakan agar forum sebesar APEC dapat benar-benar menunjang kepentingan nasional dan memperkuat hubungan bilateral, khususnya di sektor teknologi dan ekonomi kreatif.
Pendiri ISDS, Dwi Sasongko, menyoroti bahwa KTT ini bukan sekadar acara tingkat tinggi yang eksklusif, melainkan juga harus dirasakan manfaatnya hingga ke tingkat akar rumput. Ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus pada kesepakatan di atas meja, tetapi juga memastikan dampak positifnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Semangat inovasi, konektivitas, dan keberlanjutan yang diusung dalam tema KTT sejalan dengan aspirasi generasi muda untuk masa depan yang lebih baik.
Potensi Transformasi Ekonomi Hijau di Indonesia
Laporan independen dari Greenpeace Indonesia dan Center of Economics and Law Studies (CELIOS) pada Desember 2023 memberikan gambaran konkret mengenai potensi transisi menuju ekonomi hijau di Indonesia. Studi tersebut memproyeksikan bahwa peralihan ini dapat menyumbang tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp 2.943 triliun dalam kurun waktu 10 tahun.
Lebih lanjut, sektor ekonomi hijau diprediksi mampu membuka hingga 19,4 juta lapangan kerja baru. Lapangan kerja ini akan tersebar di berbagai sektor strategis seperti energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, kehutanan, perikanan, dan industri ramah lingkungan lainnya. Dampak positif lainnya mencakup peningkatan pendapatan pekerja, surplus usaha nasional yang signifikan, serta peningkatan penerimaan pajak bersih.
Selain manfaat ekonomi, transisi ini juga menawarkan keuntungan non-ekonomi yang krusial bagi kesejahteraan masyarakat. Penurunan polusi udara, pengurangan belanja kesehatan akibat lingkungan yang lebih sehat, peningkatan kebahagiaan masyarakat, dan penguatan daya tahan ekonomi terhadap fluktuasi harga bahan bakar fosil adalah sebagian dari keuntungan yang dapat diraih. Untuk merealisasikan potensi besar ini, diperlukan komitmen politik yang kuat, pengalihan insentif fiskal dari sektor ekstraktif ke industri berkelanjutan, serta penerapan kebijakan seperti pajak karbon.
KTT Ekonomi Hijau Asia-Pasifik di Bali bukan hanya sebuah momen pertemuan diplomatik, tetapi juga sebuah mercusuar yang menerangi jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Keberhasilan penyelenggaraannya menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk terus mendorong agenda hijau dan digital, sekaligus memastikan bahwa kemajuan yang diraih memberikan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat.
Penulis: Erwin













