Ringkasan Berita:
- Kulit cempedak, bahan utama mandai yang merupakan kuliner khas Kalimantan Tengah, mulai banyak dijual oleh pedagang di Kota Palangka Raya.
- Kuliner ini paling diburu warga karena buahnya Cempedak bersifat musiman dan jarang ditemui berbuah disepanjang tahun.
- Harganya pun cukup tinggi dibandingkan buahnya, karena harus diolah dan difermentasi dulu sebelum dijual.
, PALANGKA RAYA – Kuliner Khas Kalteng, buah cempedak belakangan ini kembali banyak dijumpai di Kota Palangka Raya. Kondisi ini turut membuat kulit cempedak, bahan utama mandai yang merupakan kuliner khas Kalimantan Tengah, mulai banyak dijual oleh pedagang.
Pantauan , cempedak tidak hanya dijajakan di pasar, tetapi juga banyak dijual di pinggir jalan, seperti kawasan Jalan G Obos, Jalan A Yani, hingga Kaminting.
Menariknya, sejumlah penjual tidak hanya menawarkan buah cempedak utuh, tetapi juga menjual kulit cempedak yang sudah dibersihkan.
Salah satu pedagang buah di pasar malam Jalan G Obos XII, Nonik, mengatakan pembeli kulit cempedak biasanya memang berniat mengolahnya menjadi mandai.
“Sekarang sudah musim panen cempedak lagi. Kami jual yang utuh, tapi ada juga yang dipisah. Soalnya ada pembeli yang memang cuma mau beli kulit cempedaknya saja untuk dibuat mandai,” ujar Nonik, Jumat (2/1/2026).
Kulit cempedak tersebut dijual dalam kondisi bersih dan telah dipotong-potong sehingga siap difermentasi oleh pembeli.
Harganya bervariasi, mulai dari Rp15.000 untuk seperempat kilogram dan Rp30.000 untuk setengah kilogram.
Sementara cempedak utuh dijual sekitar Rp20.000 per kilogram.
Mandai merupakan kuliner tradisional khas Kalimantan Tengah yang diolah dari kulit bagian dalam buah cempedak.
Kulit tersebut difermentasi menggunakan garam selama beberapa hari hingga menghasilkan tekstur lunak dengan cita rasa asam gurih khas.
Setelah difermentasi, mandai dapat diolah menjadi berbagai hidangan, seperti digoreng, dimasak santan, atau ditumis bersama bumbu. Makanan ini kerap menjadi lauk pendamping nasi bagi masyarakat setempat.
Banyaknya penjual yang menawarkan kulit cempedak bersih menjadi penanda bahwa mandai masih diminati dan tetap bertahan sebagai kuliner lokal yang dikenal serta dikonsumsi masyarakat Kalimantan Tengah.



















