Lapangan Rappolemba: Dulu Megah, Kini Hancur Lebur

Diposting pada

Warga Desa Rappolemba Keluhkan Proyek Lapangan Baji’ Minasa, Anggaran Ratusan Juta Diduga Sia-sia

Desa Rappolemba, Kecamatan Tompobulu – Sebuah kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) INAKOR di Desa Rappolemba pada Minggu, 15 Februari 2026, mengungkap berbagai keluhan mendalam dari masyarakat setempat terkait kondisi Lapangan Baji’ Minasa. Pembangunan lapangan yang menelan anggaran Dana Desa sebesar Rp556.261.350 ini justru menimbulkan kekecewaan alih-alih manfaat yang diharapkan.

Di hadapan tim INAKOR, warga dengan gamblang menyampaikan bahwa kondisi lapangan sebelum proyek pembangunan justru dinilai lebih baik dan sangat fungsional bagi aktivitas masyarakat. “Dulu bagus, sekarang malah dirusak,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan ironi yang terjadi. Perubahan fisik lapangan pasca-pengerjaan dinilai tidak sesuai harapan, dengan beberapa bagian yang tampak tidak tertata rapi dan tidak sepadan dengan besarnya anggaran yang digelontorkan.

Tanaman Kopi Produktif Ikut Menjadi Korban

Lebih memprihatinkan lagi, keluhan warga tidak hanya berhenti pada kondisi lapangan yang dinilai memburuk. Proyek pembangunan ini juga berujung pada penebangan sejumlah tanaman kopi produktif yang tumbuh di sekitar area lapangan. Tanaman kopi ini, menurut pengakuan warga, merupakan sumber pendapatan yang signifikan.

“Kopi juga ikut ditebang, padahal setiap panen itu ada sekitar 6 ton. Kemarin sempat mediasi sama pemerintah, bilang jangan dulu tebang kopinya sebelum panen, lagi dua bulan. Eh tiba-tiba mereka tebang,” keluh warga lainnya, menunjukkan rasa kecewa atas ketidakpedulian terhadap harapan masyarakat.

Meskipun warga tidak mempermasalahkan status lahan lapangan tersebut, karena selama ini mereka menyadari hanya sebagai pengguna, namun mereka sangat berharap diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menunggu masa panen kopi sebelum dilakukan penebangan. Sayangnya, harapan sederhana ini, menurut penuturan warga, tidak diindahkan oleh pihak pelaksana proyek.

Akibatnya, kekecewaan warga kian membuncah. Tanaman kopi yang seharusnya bisa dipanen justru terpaksa ditebang, sementara kondisi lapangan yang diharapkan menjadi fasilitas publik justru terkesan rusak. “Sekarang kopi tidak jadi panen, lapangan juga rusak. Terancam tidak bisa dipakai lagi saat Lebaran tahun ini,” ujar seorang warga dengan nada prihatin.

Lapangan Rawan Banjir dan Ancaman Kerusakan Lebih Lanjut

Kekecewaan warga semakin bertambah ketika mereka mengeluhkan kondisi lapangan yang kini rawan tergenang air saat hujan turun. “Kalau hujan turun, air bisa sampai lutut,” kata warga lainnya, menggambarkan betapa seriusnya masalah drainase pada lapangan tersebut. Kondisi ini tentu saja semakin mengurangi fungsi lapangan sebagai sarana olahraga dan kegiatan masyarakat.

Keluhan-keluhan ini disampaikan secara langsung kepada tim INAKOR saat mereka melakukan peninjauan fisik lapangan. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari laporan dugaan penyimpangan Dana Desa yang sebelumnya telah diajukan oleh LSM INAKOR ke Kejaksaan Negeri Gowa.

Menanggapi aspirasi masyarakat yang disampaikan, pihak INAKOR menegaskan bahwa suara warga adalah elemen krusial dalam proses pengawasan publik terhadap penggunaan Dana Desa. LSM ini berkomitmen untuk memasukkan seluruh informasi dan temuan di lapangan sebagai bahan tambahan yang akan mendorong proses audit lebih lanjut oleh aparat penegak hukum.

Kunjungan INAKOR ke Desa Rappolemba ini semakin memperjelas betapa besar harapan masyarakat agar setiap pembangunan yang didanai oleh negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan mereka, bukan justru menimbulkan persoalan baru yang merugikan.

Kondisi Lapangan Baji’ Minasa di Desa Rappolemba ini menjadi sebuah studi kasus yang menarik perhatian, di mana alokasi Dana Desa yang seharusnya menunjang kemajuan justru berpotensi menimbulkan kerugian materiil dan sosial bagi masyarakat setempat. Investigasi lebih lanjut oleh pihak berwenang diharapkan dapat mengungkap duduk persoalan sebenarnya dan memberikan keadilan bagi warga Rappolemba.

Pihak media tetap membuka ruang seluas-luasnya untuk klarifikasi dari seluruh pihak terkait guna menjaga prinsip pemberitaan yang berimbang dan akurat.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan