KABUPATEN FLORES TIMUR, NTT – Kabar terbaru mengenai aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), membawa sedikit kelegaan. Badan Geologi telah mengambil keputusan untuk memperkecil radius bahaya erupsi gunung tersebut, menyusul adanya penurunan aktivitas baik secara visual maupun dari segi kegempaan.
Semula, radius bahaya yang ditetapkan adalah enam kilometer dari pusat erupsi. Namun, setelah melalui pengamatan dan analisis yang cermat, radius tersebut kini dikurangi menjadi lima kilometer. Keputusan ini diumumkan oleh Pelaksana Tugas Badan Geologi, Lana Saria, pada hari Senin (26/1/2026).
Dalam keterangannya, Lana Saria mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. “Perubahan jarak rekomendasi ini didasarkan pada data terbaru yang kami peroleh,” ujarnya.
Lantas, apa saja yang menjadi dasar pertimbangan Badan Geologi dalam mengambil keputusan ini? Berikut adalah rincian data kegempaan yang menjadi acuan:
- Data Kegempaan (15 Januari – 22 Januari 2026):
- 4 kali gempa guguran
- Gempa guguran ini mengindikasikan adanya material vulkanik yang runtuh di sekitar kawah gunung.
- 15 kali hembusan
- Hembusan menunjukkan adanya pelepasan gas dan material vulkanik dari dalam gunung.
- 133 kali tremor non harmonik
- Tremor non harmonik adalah getaran yang tidak teratur dan seringkali berkaitan dengan pergerakan fluida di dalam gunung.
- 22 kali low frequency
- Gempa dengan frekuensi rendah ini bisa mengindikasikan pergerakan magma yang lebih dalam.
- 166 kali gempa vulkanik dalam
- Gempa vulkanik dalam menunjukkan aktivitas magma di kedalaman gunung.
- 7 kali tektonik lokal
- Gempa tektonik lokal disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di sekitar wilayah tersebut.
- 41 kali tektonik jauh
- Gempa tektonik jauh berasal dari pergerakan lempeng tektonik yang lokasinya lebih jauh.
- 1 kali getaran banjir lahar
- Getaran ini menandakan potensi bahaya aliran lahar, terutama saat musim hujan.
- 4 kali gempa guguran
Kilasan Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki dari Oktober 2025 hingga Januari 2026:
-
Oktober 2025:
- Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada dalam fase erupsi.
- Teramati letusan dan kolom erupsi yang cukup tinggi.
- Aktivitas kegempaan vulkanik sangat tinggi, didominasi oleh gempa vulkanik dalam.
- Hal ini mengindikasikan adanya suplai tekanan yang kuat dari kedalaman.
- Aktivitas permukaan berupa erupsi dan hembusan menunjukkan bahwa sistem magmatik masih aktif dan belum stabil.
-
November 2025:
- Aktivitas erupsi mulai berhenti.
- Tidak lagi teramati letusan dan kolom erupsi.
- Gempa vulkanik dalam masih terekam dalam jumlah yang relatif tinggi.
- Proses magmatik di kedalaman masih berlangsung.
- Tidak teramati peningkatan gempa vulkanik dangkal maupun tremor menerus yang signifikan.
- Tekanan dari kedalaman belum termanifestasi ke zona dangkal.
- Kondisi ini diindikasikan sebagai fase jeda erupsi, di mana aktivitas permukaan menurun tetapi sistem di kedalaman belum sepenuhnya tenang.
-
Desember 2025:
- Tidak terjadi erupsi.
- Aktivitas kegempaan masih didominasi oleh gempa vulkanik dalam dengan kecenderungan fluktuatif.
- Tidak menunjukkan tren peningkatan yang berkelanjutan.
- Gempa vulkanik dangkal tetap jarang hingga tidak terekam.
-
Awal hingga Pertengahan Januari 2026:
- Kegempaan vulkanik dalam sempat muncul secara episodik.
- Menunjukkan penurunan yang signifikan, terutama pada minggu kedua Januari.
- Aktivitas kegempaan didominasi oleh tremor non harmonik yang bersifat fluktuatif dan cenderung melemah.
- Mencerminkan aktivitas fluida sisa di dalam sistem.
- Gempa tornillo terekam dalam jumlah sangat terbatas.
- Kemunculannya ditafsirkan sebagai penyesuaian fluida pasca erupsi.
- Tidak diikuti oleh peningkatan gempa dangkal, tremor menerus, maupun aktivitas erupsi.
- Aktivitas permukaan terbatas pada hembusan dan guguran dengan intensitas rendah.
Meskipun terjadi penurunan aktivitas, Lana Saria tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Perubahan aktivitas yang terjadi secara tiba-tiba masih mungkin terjadi dan dapat memicu erupsi. Selain itu, potensi aliran lahar selama musim hujan juga harus tetap diwaspadai.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Level III Siaga. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi risiko bencana.



















