Logam Mulia Melemah di September, Pasar Menanti Arah The Fed pada Oktober

Diposting pada

JAKARTA – Harga emas, perak, platinum, dan palladium sama-sama menutup September 2026 dengan tekanan. Hingga perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, pelemahan itu dipicu terutama oleh menguatnya dolar Amerika Serikat serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, dua faktor yang biasanya menekan minat investor pada aset seperti emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil.

Data Trading Economics menunjukkan emas berada di US$ 4.140,19 per ons troi. Dalam sepekan, harga emas turun 3,38%, dan secara bulanan terkoreksi 7,45%. Perak juga ikut merosot ke US$ 60,36 per ons troi, dengan penurunan 6,06% dalam sepekan dan 9,85% dalam sebulan terakhir.

Di kelompok logam lain, platinum tercatat di US$ 1.700 per ons troi. Harga logam ini melemah 4,37% dalam satu pekan dan 7,31% selama sebulan. Palladium menjadi yang paling dalam koreksinya, turun 8,11% secara mingguan dan 18,58% secara bulanan hingga berada di US$ 1.172,50 per ons troi.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai tekanan sepanjang September terutama bersumber dari kondisi makroekonomi Amerika Serikat. Menurut dia, kombinasi penguatan tajam indeks dolar AS dan kenaikan yield US Treasury membuat seluruh kelompok logam mulia kehilangan tenaga. Ia menyampaikan bahwa sentimen pasar makin berat karena investor melihat penguatan mata uang dan imbal hasil surat utang AS sebagai pesaing bagi aset lindung nilai seperti emas.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menambahkan bahwa perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS juga ikut menekan pasar. Pelaku pasar, kata dia, kembali menghitung ulang kemungkinan arah suku bunga The Fed, sehingga harga komoditas ikut menyesuaikan. Dalam pandangannya, kenaikan ekspektasi suku bunga membentuk rangkaian tekanan yang langsung terasa di pasar logam mulia.

Di antara empat logam tersebut, Sutopo menilai platinum masih memiliki dasar fundamental yang relatif lebih kuat karena pasarnya lebih ketat. Sementara itu, palladium dinilai menghadapi tantangan dari sisi pasokan dan potensi surplus, meski peluang pantulan teknikal tetap terbuka. Ia juga menegaskan bahwa platinum tampak lebih tahan dibandingkan logam lain karena penurunannya pada September paling kecil.

Memasuki Oktober, arah harga logam mulia masih akan sangat ditentukan oleh sikap The Fed, pergerakan dolar AS, dan perubahan imbal hasil US Treasury. Rilis data inflasi serta ketenagakerjaan Amerika Serikat juga berpotensi menjadi pemicu penting bagi pembalikan harga. Jika inflasi menunjukkan perlambatan, emas dan perak berpeluang pulih, tetapi ruang kenaikannya bisa tetap terbatas bila dolar dan yield masih tinggi. Untuk akhir 2026, Sutopo memperkirakan emas berada di kisaran US$ 4.100-US$ 4.500 per ons troi, perak US$ 54-US$ 66 per ons troi, platinum US$ 1.600-US$ 1.900 per ons troi, dan palladium US$ 1.100-US$ 1.350 per ons troi. Adapun Wahyu melihat rentang yang lebih lebar: emas US$ 3.600-US$ 5.000 per ons troi, perak US$ 50-US$ 89 per ons troi, platinum US$ 1.300-US$ 2.200 per ons troi, serta palladium US$ 800-US$ 1.500 per ons troi.

Sumber: investasi.kontan.co.id

Tinggalkan Balasan