Bencana tanah longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, terus menjadi perhatian utama. Memasuki hari ketiga pasca kejadian, tim SAR gabungan meningkatkan intensitas pencarian korban dengan memusatkan operasi di dua sektor utama. Lebih dari 2.000 personel dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi dan pencarian korban yang masih hilang.
Fokus utama pencarian diarahkan ke:
Sektor A: Terletak di bagian timur Desa Pasirlangu. Sektor ini menjadi prioritas karena diduga kuat menjadi lokasi terkonsentrasinya material longsor dan kemungkinan besar terdapat korban yang tertimbun.
Sektor B: Berada di bagian barat desa. Sama seperti sektor A, area ini juga diyakini sebagai titik yang menyimpan banyak material longsor dan menjadi lokasi potensial ditemukannya korban.
Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo N.S., terjun langsung ke lokasi untuk memimpin dan mengawasi jalannya operasi SAR. Beliau memberikan arahan detail kepada seluruh personel yang terlibat, memastikan pembagian tugas dan metode pencarian dilakukan secara optimal dan terkoordinasi.
Berbagai metode pencarian diterapkan untuk memaksimalkan efektivitas operasi, antara lain:
Penyisiran Manual: Tim SAR melakukan penyisiran secara manual di area-area yang sulit dijangkau oleh alat berat. Metode ini membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian ekstra mengingat kondisi lapangan yang berbahaya.
Penggunaan Alkon: Pompa air (alkon) digunakan untuk menyedot dan membersihkan material lumpur yang menutupi area pencarian. Hal ini bertujuan untuk memperjelas pandangan dan memudahkan proses evakuasi.
Pengerahan Alat Berat: Sebanyak 9 unit excavator disiagakan dan dioperasikan secara intensif untuk menggali dan memindahkan material longsoran yang menimbun area pencarian. Penggunaan alat berat ini sangat krusial untuk mempercepat proses evakuasi dan menjangkau area yang sulit diakses secara manual.
Yudhi Bramantyo menekankan pentingnya koordinasi dan efektivitas dalam operasi pencarian. “Hari ini, kami memfokuskan pencarian di dua sektor utama. Kami mengerahkan 9 ekskavator untuk membantu proses pencarian dan evakuasi,” ujarnya.
Untuk memperkuat tim SAR yang bertugas, dilakukan penambahan personel dari berbagai daerah, termasuk:
Kantor SAR Semarang
Kantor SAR Yogyakarta
Kantor SAR Cilacap
Selain itu, potensi SAR dan relawan dari berbagai organisasi juga turut bergabung dalam operasi pencarian. Dengan tambahan personel ini, diharapkan proses pencarian dapat dilakukan lebih intensif dan area pencarian dapat diperluas. Total personel yang diterjunkan mencapai 2.129 orang, terdiri dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI-Polri, Kementerian PUPR, BNPB, Kementerian Kesehatan, BUMN, BUMD, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta relawan dan komunitas SAR.
Hingga hari ketiga operasi, tim SAR telah berhasil mengevakuasi 25 kantong jenazah. Namun, sekitar 80 warga masih dinyatakan hilang dan terus dilakukan pencarian. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memberikan informasi yang akurat kepada petugas SAR jika memiliki petunjuk terkait keberadaan korban yang hilang.
Seluruh jenazah yang ditemukan langsung diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi. Proses ini sangat penting untuk memastikan identitas korban sebelum diumumkan secara resmi dan diserahkan kepada pihak keluarga. Data korban akan dirilis setelah proses identifikasi oleh tim DVI selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan informasi dan memberikan kepastian kepada keluarga korban.
Yudhi Bramantyo berharap cuaca mendukung jalannya operasi pencarian. Faktor cuaca sangat krusial karena dapat memengaruhi keselamatan personel dan efektivitas pencarian di lapangan. Medan yang curam dan material lumpur yang tebal menjadi tantangan utama bagi ribuan personel yang bertugas. Tim SAR terus berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan seluruh korban yang masih hilang.



















