Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024, kini menjadi fokus utama Pemerintah Kota Bogor. Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menekankan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi, tetapi juga membuka peluang besar untuk meningkatkan perekonomian warga di setiap kelurahan.
Jenal Mutaqin menekankan pentingnya melibatkan warga secara aktif dalam program ini, bukan hanya sebagai penerima manfaat. Ia menyatakan bahwa program Badan Gizi Nasional (BGN) ini harus memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui efek pengganda (multiplier effect).
“Tujuan dari MBG bukan hanya sekadar memberikan nutrisi yang cukup bagi balita dan ibu hamil, tetapi juga untuk menciptakan efek pengganda bagi perekonomian lokal,” ujar Jenal baru-baru ini.
Berikut adalah beberapa strategi yang diusulkan untuk memaksimalkan dampak positif program MBG bagi masyarakat Kota Bogor:
1. Mendorong Sinergi Warga dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Selama ini, partisipasi masyarakat lokal dalam penyediaan bahan baku untuk dapur SPPG dinilai belum optimal. Jenal Mutaqin ingin Pemerintah Kota Bogor berperan sebagai penghubung agar warga sekitar dapat menjadi pemasok utama.
“Saya mengusulkan inisiatif kerja sama, karena saat ini kebutuhan bahan baku dapur SPPG belum banyak melibatkan warga sekitar. Pemerintah harus bertindak sebagai mediator untuk mewujudkan sinergi ini,” jelasnya.
Prioritas MBG untuk Penyandang Disabilitas
Pemerintah juga memberikan prioritas khusus kepada penyandang disabilitas dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu (desil 1-4) dalam program MBG.
2. Inisiasi Kandang Ayam Kolektif di Setiap Kelurahan

Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah melibatkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) untuk mengelola peternakan skala rumahan di tingkat kelurahan.
“Rencana aksi yang saya tawarkan adalah mengajak ketua LPM untuk membangun kandang ayam di setiap kelurahan,” kata Jenal.
3. Membentuk Kampung Tematik Khusus Penghasil Telur

Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri. Dengan adanya Kampung Tematik penghasil telur, setiap wilayah dapat memenuhi kebutuhan protein dapur MBG tanpa bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kita akan membentuk Kampung Tematik Khusus Penghasil Telur untuk menyuplai hasil produksi warga langsung ke dapur-dapur MBG di wilayah masing-masing, sehingga tercipta ekosistem ekonomi berbasis wilayah,” pungkasnya.
Dengan strategi ini, diharapkan program MBG tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan warga Kota Bogor. Program ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam mengimplementasikan program serupa.



