Mendagri Tito: SARA Tak Lagi Jadi Masalah Masyarakat

Diposting pada

Peran SARA dalam Masyarakat Indonesia yang Berkembang

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan pandangan bahwa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tidak lagi menjadi isu utama bagi masyarakat Indonesia di era saat ini. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika sosial dan politik negara.

Era Kini: Perubahan dalam Perspektif Sosial

Istilah “era kiwari” merujuk pada zaman sekarang atau masa kini, sering digunakan untuk membandingkan keadaan masa lalu dengan kondisi modern. Menurut Tito, masyarakat kini lebih rasional dalam memandang masalah agama dan identitas. Mereka lebih fokus pada urusan yang pragmatis dan berkaitan dengan kesejahteraan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Tito dalam sambutannya pada acara pelantikan pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di GPIB Paulus Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (30/05/2026) malam. Ia menekankan bahwa masyarakat kini tidak lagi mempermasalahkan aspek agama, tetapi lebih mengedepankan hal-hal yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Contoh Nyata dari Maluku Utara

Tito memberikan contoh nyata dari Maluku Utara, di mana seorang Gubernur Sherly Tjoanda, yang berasal dari etnis Tionghoa, berhasil memenangkan hati rakyat meskipun tinggal di tengah masyarakat mayoritas muslim. Ia menjelaskan bahwa kepala daerah minoritas seperti ini bisa terpilih di wilayah mayoritas muslim yang mencapai 90 persen.

Contoh ini membuktikan bahwa tujuan pembentukan sebuah negara bukanlah didasarkan pada kesamaan latar belakang identitas. Namun, lebih pada upaya mencapai keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.

Filosofi Negara yang Berbasis Kepentingan Bersama

Tito mengingatkan kembali filosofi lahirnya sebuah negara yang seharusnya mengedepankan kepentingan bersama di atas segala perbedaan. Menurutnya, konsep lahirnya negara dari Rousseau adalah untuk memberikan keadilan dan kemakmuran. Ini bukan tentang perbedaan etnis, ras, atau agama.

Beberapa poin penting yang disampaikan oleh Tito meliputi:

  • Masyarakat kini lebih rasional dalam memandang isu SARA
  • Kepemimpinan daerah dari kelompok minoritas semakin diterima
  • Fokus utama masyarakat adalah kesejahteraan dan urusan pragmatis
  • Tujuan negara adalah mencapai keadilan dan kemakmuran bagi semua

Peran Masyarakat dalam Membangun Harmoni

Dalam konteks ini, peran masyarakat sangat penting. Mereka harus terus membangun hubungan yang harmonis tanpa memandang perbedaan identitas. Selain itu, para pemimpin juga harus mampu menghadirkan solusi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara adil.

Dengan demikian, Tito Karnavian menegaskan bahwa Indonesia telah melalui proses perubahan yang signifikan dalam menghadapi isu SARA. Masyarakat kini lebih fokus pada kepentingan bersama dan kesejahteraan, bukan pada perbedaan identitas. Hal ini menjadi dasar dalam membangun bangsa yang lebih harmonis dan maju.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan