Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Romeo Saturnino Brawner Jr, baru-baru ini menghadiri Dialog Raisina 2026 di New Delhi, India. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan komitmen Filipina untuk memperluas kerja sama pertahanan dengan India. Kesediaan ini muncul setelah keberhasilan Filipina dalam mengakuisisi sistem rudal BrahMos pada tahun 2022, sebuah transaksi senilai 375 juta dolar AS atau setara dengan Rp 6,35 triliun.
Peran Strategis Rudal BrahMos dan Ekspansi Kerjasama
Dalam sebuah wawancara, Jenderal Brawner mengungkapkan bahwa Indonesia juga telah menjadi pembeli sistem rudal supersonik BrahMos dari India. “Filipina adalah negara pertama di Asia Tenggara yang mengakuisisi sistem rudal BrahMos. Kini, Indonesia telah menyusul dengan membeli sistem yang sama,” ujar Jenderal Brawner. Beliau menambahkan, “Kami sangat puas dengan pembelian kami, dan kami berharap dapat menjalin lebih banyak kerja sama bisnis dengan India.”
Filipina, yang dikenal sebagai sekutu strategis Amerika Serikat, saat ini tengah menghadapi tantangan keamanan yang signifikan di Laut Cina Selatan akibat klaim dan tindakan agresif Tiongkok. Manila menuding Beijing kerap menggunakan taktik maritim yang mengintimidasi, seperti penggunaan meriam air oleh penjaga pantai mereka dan manuver berbahaya yang bahkan menyebabkan tabrakan dengan kapal-kapal Filipina. Dalam konteks ini, penguatan kapabilitas pertahanan menjadi prioritas utama.
Meskipun Jenderal Brawner telah mengonfirmasi kesepakatan rudal BrahMos dengan Indonesia, pemerintah India belum secara resmi mengumumkan detail transaksi tersebut. Namun, sumber-sumber dari kalangan pemerintahan India mengindikasikan bahwa kontrak tersebut berada dalam tahap finalisasi yang hampir rampung.
Incar Berbagai Alutsista India Lainnya
Dalam upaya memperkuat kemampuan maritimnya, Filipina telah menerima pengiriman dua dari tiga baterai sistem rudal BrahMos yang dikontrak. Sistem ini telah memperkuat Korps Marinir Filipina sejak tahun 2025. Tidak berhenti di situ, Filipina juga dilaporkan tengah menjajaki pembelian berbagai jenis peralatan militer lainnya dari India. Pembicaraan tersebut mencakup platform udara dan maritim, seperti helikopter, pesawat tempur, hingga kapal selam.
Ini bukanlah kali pertama seorang petinggi militer Filipina memberikan apresiasi terhadap produk pertahanan India. Pada Agustus 2025, Jenderal Brawner juga pernah melontarkan pujian terhadap alutsista India, menyoroti kombinasi keterjangkauan harga dan kualitas yang ditawarkannya. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan media Filipina, beliau menyatakan, “Kami sebenarnya memesan lebih banyak peralatan dan sistem senjata dari India.”
Peran India dalam Keamanan Indo-Pasifik
Dalam kunjungannya ke Delhi, Jenderal Brawner juga menggarisbawahi peningkatan peran India dalam menjaga keamanan kawasan Indo-Pasifik. “Tahun lalu saat saya berada di sini, saya berbicara dengan Panglima Angkatan Bersenjata India, Jenderal Anil Chauhan. Saya memintanya untuk mengirimkan kapal ke Filipina agar kita dapat berlayar bersama dan melakukan operasi kebebasan navigasi,” jelas Jenderal Brawner.
Respons cepat dari India menunjukkan komitmennya terhadap keamanan regional. “Empat bulan kemudian, beliau mengirimkan empat kapal ke Filipina. Ini adalah aspek keamanan yang sangat penting di kawasan ini, mengingat kita menyaksikan mitra-mitra non-tradisional bersatu untuk memperjuangkan tatanan internasional berbasis aturan,” tambah Jenderal Brawner.
Kolaborasi Industri Pertahanan dan Dukungan Teknis
Lebih lanjut, kedua negara juga aktif menjajaki potensi kerja sama dalam industri pertahanan. India menawarkan dukungannya untuk pengembangan ekosistem angkatan laut di Filipina, sebuah negara kepulauan yang sangat bergantung pada kekuatan lautnya. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan inovasi pertahanan di kawasan Asia Tenggara.
Kerja sama ini mencakup transfer teknologi, pelatihan personel, dan pengembangan bersama berbagai sistem persenjataan. Dengan memperkuat hubungan pertahanan dengan India, Filipina tidak hanya berupaya meningkatkan kemampuan defensifnya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas dan keamanan regional yang lebih luas. Dialog Raisina 2026 menjadi platform penting untuk mengukuhkan kemitraan strategis ini dan membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih dalam di masa depan.
















