JAKARTA – Membaca peluang bisa menjadi kunci untuk membangun sebuah usaha. Hal ini dialami oleh Nurhayati saat ia mendirikan Peuy Batik, sebuah usaha yang menghasilkan produk tekstil dengan desain batik khas Bengkulu.
Usaha yang didirikan pada tahun 2018 ini bermula dari sebuah lembaga pelatihan kerja (LPK) bernama Sumber Hayati. LPK tersebut berdiri sejak tahun 2013 dan fokus pada pelatihan bagi perempuan muda. Di dalamnya, peserta diberikan kesempatan untuk belajar menjahit, membatik, hingga menyulam. Dari pengalaman itulah, Nurhayati mulai melihat potensi besar di balik keterampilan para peserta.
Seiring berjalannya waktu, Nurhayati memutuskan untuk mengubah LPK tersebut menjadi sebuah industri kreatif fesyen batik. Ide ini muncul setelah ia melihat kemampuan peserta dalam memproduksi kain batik. Sejak tahun 2018, ia mulai memproduksi kain batik khas Bengkulu dengan tetap mempertahankan teknik tradisional.
Selain itu, Peuy Batik juga melakukan inovasi dengan mengeksplorasi teknik ecoprint berbasis bahan alami. Salah satu desain yang menjadi ciri khas adalah Batik Diwo. Proses produksi dilakukan secara perlahan namun pasti, sehingga semakin lama produk yang dihasilkan semakin beragam.
Saat ini, Peuy Batik telah menghasilkan berbagai produk seperti outer pakaian, busana kasual, topi, belt, jaket, kemeja, totebag, pouch, syal, hingga ikat kepala. Meskipun tidak merinci kapasitas produksi, usaha ini masih berada di skala UMKM. Harga produk bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 1 juta per satuan.
Produk Peuy Batik dapat ditemukan di gerai utamanya di Kepahiang, Bengkulu. Selain itu, produk ini juga tersedia di Hotel Mercure Bengkulu. Selain outlet fisik, peuy Batik juga memanfaatkan pemasaran digital untuk menjangkau lebih banyak konsumen.
Meski sudah cukup stabil, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah ketersediaan tenaga perajin yang terbatas. Saat ini, hanya delapan karyawan yang bekerja di Peuy Batik. Selain itu, aspek pemasaran juga tidak mudah. Menurut Nurhayati, lokasi usaha yang berada di daerah membuat pertumbuhan bisnis lebih lambat dibandingkan yang berada di perkotaan.
“Perkembangan kami cukup signifikan sejak awal berdiri, tetapi lambat karena kami ada di daerah,” ujarnya.
Namun, Nurhayati tidak menyerah. Untuk memperluas pasar, ia aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran. Contohnya adalah Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) pada tahun 2024. Selain itu, ia juga mencoba menjajaki pasar ekspor melalui ajang UMKM Merdeka Export di Malaka, Malaysia.
Hasilnya, omzet tahunan Peuy Batik mencapai hingga Rp 275 juta. Dengan hasil ini, Nurhayati terus berupaya memperluas pasar. Langkah berikutnya adalah menambah diversifikasi produk agar pertumbuhan bisnis bisa meningkat hingga 100% pada tahun ini.



















