Mobil Listrik Seken: Cek Ini Dulu!

Diposting pada

Pasar Mobil Listrik Bekas: Peluang Menarik dengan Pertimbangan Matang


Pasar kendaraan listrik terus menunjukkan tren positif di Indonesia, dengan penjualan model-model terbarunya yang terus meningkat. Seiring bertambahnya populasi mobil listrik roda empat, kini mulai bermunculan unit bekas yang menawarkan daya tarik tersendiri. Bagi sebagian masyarakat, mobil listrik bekas menjadi alternatif menarik untuk memiliki kendaraan ramah lingkungan dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan membeli unit baru.

Namun, pasar mobil listrik bekas di Tanah Air belum sematang pasar kendaraan konvensional. Hal ini berdampak pada harga jual yang umumnya mengalami depresiasi cukup besar. Kondisi ini tentu menjadi angin segar bagi mereka yang ingin beralih ke mobil listrik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam untuk unit baru.

Meski demikian, calon pembeli mobil listrik bekas perlu melakukan riset dan pertimbangan yang matang. Pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar, menekankan pentingnya memperhatikan sejumlah aspek krusial sebelum memutuskan untuk meminang mobil listrik bekas.

Memahami Kondisi Baterai: Kunci Utama Pembelian Mobil Listrik Bekas

Salah satu aspek yang paling vital dan sering menjadi kekhawatiran utama calon pembeli mobil listrik bekas adalah kondisi kesehatan baterai, atau yang dikenal dengan state of health (SoH). Baterai merupakan jantung dari kendaraan listrik, dan kesehatannya akan sangat memengaruhi performa serta biaya operasional di kemudian hari.

“Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pembelian unit baru, ya. Hanya saja ada yang perlu ditambahkan, biasanya yang harus dipertanyakan itu adalah state of health dari baterainya,” ujar Gofar.

Meskipun demikian, Gofar memberikan optimisme dengan menyatakan bahwa rata-rata usia mobil listrik di Indonesia saat ini masih tergolong muda, belum banyak yang mencapai usia lima tahun. Dalam rentang usia tersebut, baterai umumnya masih berada dalam kondisi yang baik, asalkan kendaraan telah digunakan secara wajar dan terawat.

“Degradasi baterai sekitar 1-2 persen dalam setahun. Rata-rata umur mobil listrik paling tua di sini baru 4 tahun, itu sekitar 94-95 persen yang mana artinya masih bagus kondisinya,” jelasnya. Angka SoH yang tinggi ini menunjukkan bahwa baterai masih memiliki kapasitas yang signifikan dan belum mengalami penurunan performa yang drastis.

Pentingnya Layanan Purna Jual dan Jaringan Bengkel

Selain kondisi baterai, pertimbangan lain yang tak kalah penting adalah merek mobil listrik yang memiliki layanan purna jual yang mumpuni. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa pemilik kendaraan listrik bekas tidak akan kesulitan ketika membutuhkan servis, perbaikan, atau bahkan klaim garansi.

“Layanan purnajual bisa jadi pertimbangan, bisa condong ke merek yang memang sudah punya jaringan penjualan dan perawatan cukup banyak. Ini berguna buat unit yang status garansinya bisa berpindah tangan, jadi lumayan kan dapat unit masih ada sisa garansi dan bisa diklaim ke pabrikan,” papar Gofar. Memilih merek dengan jaringan bengkel resmi yang luas akan memberikan ketenangan pikiran, terutama jika terjadi masalah yang memerlukan penanganan profesional.

Pemeriksaan Menyeluruh: Dari Eksterior Hingga Perangkat Lunak

Sama seperti membeli mobil konvensional, pemeriksaan kondisi fisik kendaraan tetap menjadi prioritas. Hal ini meliputi:

  • Eksterior: Periksa kondisi bodi, cat, lampu, dan kaca dari goresan, penyok, atau kerusakan lainnya.
  • Interior: Tinjau kebersihan kabin, kondisi jok, panel instrumen, sistem hiburan, dan semua fitur interior lainnya.
  • Kaki-kaki: Periksa kondisi suspensi, rem, ban, dan komponen kaki-kaki lainnya untuk memastikan tidak ada keausan berlebihan atau kerusakan.

Namun, untuk mobil listrik, ada satu poin tambahan yang tidak boleh diabaikan: pemeriksaan perangkat lunak atau software. Mobil listrik modern sangat bergantung pada sistem komputerisasi yang kompleks.

“Pemeriksaan software karena mobil listrik sekarang biasanya menggunakan komputer. Jadi tinggal scan OBD, buat yang ingin inspeksi mobil listrik bekas disarankan membawa teknisi atau inspector,” saran Gofar. Membawa teknisi ahli yang memahami mobil listrik akan sangat membantu dalam mendeteksi potensi masalah pada sistem elektronik dan software kendaraan.

Kesiapan Infrastruktur Pendukung

Selain kondisi kendaraan itu sendiri, calon pembeli mobil listrik bekas juga perlu memikirkan kesiapan infrastruktur pendukung di lingkungan tempat tinggal mereka. Pertanyaan yang perlu diajukan meliputi:

  • Ketersediaan Akses Listrik: Apakah daya listrik di rumah sudah memadai untuk pengisian daya mobil listrik secara rutin?
  • Kemudahan Pengisian Daya: Apakah ada opsi pengisian daya di rumah atau di tempat kerja? Jika tidak, seberapa mudah akses ke Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terdekat?

“Hal lain tentu saja perhatikan infrastruktur pendukung. Misalnya apakah rumah atau tempat tinggal sudah bisa memenuhi pengisian daya ke mobil listrik nantinya, meski ini bisa diakali dengan cas di SPKLU,” tutup Gofar. Memastikan ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai akan sangat memengaruhi kenyamanan dan kepraktisan dalam penggunaan mobil listrik sehari-hari.

Dengan mempertimbangkan semua aspek ini, calon pembeli dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dan terinformasi saat memasuki pasar mobil listrik bekas, sehingga dapat menikmati manfaat kendaraan listrik tanpa harus menghadapi kejutan yang tidak menyenangkan.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan