Grup Lippo Hibahkan 30 Hektare Lahan di Meikarta untuk Hunian Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Cikarang, Jawa Barat – Grup Lippo, melalui pendirinya Mochtar Riady, secara resmi mengibahkan lahan seluas kurang lebih 30 hektare di kawasan Meikarta, Cikarang, Jawa Barat, kepada negara. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap program pembangunan sejuta rumah yang menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mochtar Riady menyatakan bahwa pihaknya senantiasa mengikuti setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan menyambut baik arahan dari presiden.
“Kami mendukung ide-ide dari pemerintah,” ujar Mochtar Riady saat ditemui di Cikarang pada Minggu (8/3). Ia menambahkan bahwa dari perspektif bisnis, Grup Lippo tidak melihat adanya keuntungan atau timbal balik finansial langsung dari hibah ini. Sebaliknya, kebahagiaan Grup Lippo terletak pada kemampuannya untuk berkontribusi dalam program-program yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Pengusaha sekaligus bankir kawakan ini juga menyampaikan optimisme yang tinggi terhadap prospek industri properti di masa mendatang.
Lahan seluas 30 hektare yang dihibahkan ini rencananya akan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk membangun sekitar 40.000 unit hunian yang diperuntukkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Program ini merupakan bagian integral dari target ambisius pemerintah untuk membangun 3 juta rumah per tahun, sebuah inisiatif strategis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Danantara Indonesia Siap Gelontorkan Triliunan Rupiah untuk Proyek Hunian MBR
Dalam rangka mewujudkan pembangunan hunian bagi MBR di Meikarta, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau yang lebih dikenal sebagai Danantara Indonesia, siap mengucurkan dana investasi sebesar Rp 14 hingga Rp 16 triliun. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan komitmen penuh pihaknya untuk mendukung pembiayaan proyek monumental ini.
Rosan Roeslani menjelaskan bahwa proyek pembangunan hunian ini memiliki potensi yang sangat besar, mengingat tingginya kebutuhan perumahan di Indonesia yang masih belum terpenuhi. Kesenjangan antara permintaan dan penawaran di sektor perumahan masih sangat signifikan, sehingga proyek ini dipandang sebagai solusi yang krusial.
Lebih lanjut, Danantara Indonesia juga membuka lebar peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi, seperti BUMN Karya. Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek dan memastikan kualitas pembangunan yang optimal.
Perkiraan nilai investasi pembangunan yang cukup besar ini mencakup pembangunan di atas lahan seluas sekitar 12,8 hektare. Rencananya, akan didirikan 18 menara hunian yang masing-masing memiliki ketinggian sekitar 32 lantai. Total nilai pembangunan untuk tahap awal ini diperkirakan berkisar antara Rp 14 triliun hingga Rp 16 triliun.
“Tentunya bersama-sama dengan kontraktor swasta lainnya, kita akan berkolaborasi, jadi itu peran Danantara dalam proyek di Meikarta,” ungkap Rosan Roeslani.
Rosan juga menambahkan bahwa pembangunan di lahan tersebut akan dilakukan secara bertahap, dengan target akhir mencapai 140.000 unit hunian. Ia menilai bahwa proyek ini merupakan sebuah langkah bersejarah dalam pembangunan perumahan di Indonesia, mengingat skala besar yang dikerjakan dalam satu proyek terpadu dan di satu lokasi.
Proyek ini diproyeksikan akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja yang signifikan, pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi proyek, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
“Tidak hanya kami ataupun hanya terhadap 140 ribu keluarga yang akan menikmati, tapi juga kepada seluruh rakyat Indonesia,” tegas Rosan Roeslani di Cikarang, Minggu (8/3).
Strategi Ekonomi Nasional Melalui Pembangunan Perumahan
Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti bahwa program pembangunan perumahan ini merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Gagasan ini mulai dirancang oleh Presiden Prabowo Subianto setelah terpilih, dengan tujuan utama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara hingga mencapai minimal 8 persen.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh pemerintah, terdapat sekitar 9 hingga 15 juta keluarga di Indonesia yang hingga kini masih belum memiliki akses terhadap hunian yang layak. “Selain itu, ada 27 juta keluarga yang sekarang mereka tinggal di dalam gubuk-gubuk yang rumah-rumah yang sebetulnya bukan rumah, tapi itu adalah kenyataan,” ujar Hashim Djojohadikusumo saat melakukan peninjauan langsung di lahan yang dihibahkan oleh Grup Lippo di Cikarang pada Minggu (8/3).
Peninjauan lahan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia, Maruarar Sirait. Acara penting ini juga dihadiri oleh berbagai jajaran pemerintah daerah, serta tokoh penting dari Grup Lippo, termasuk Pendiri dan Ketua Organisasi Kelompok Lippo, Mochtar Riady, dan Pendiri serta Ketua Pembina Yayasan Pelita Harapan, James Riady.
Maruarar Sirait memperkirakan bahwa nilai lahan di kawasan proyek ini berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per meter persegi. Dengan asumsi harga tersebut, nilai lahan seluas 30 hektare yang dihibahkan oleh Grup Lippo diperkirakan dapat mencapai angka fantastis hingga Rp 6 triliun.



















