Fenomena “Borrowing from Saving” yang Ramai Dibicarakan di Media Sosial
Kemunculan istilah “borrowing from saving” atau meminjam dari tabungan sendiri belakangan menjadi topik yang ramai dibahas di media sosial. Fenomena ini muncul setelah seorang pengguna X mengajukan pertanyaan tentang apakah orang-orang sudah meminjam uang dari tabungan mereka pada bulan ini, terlebih karena saat ini sudah memasuki akhir bulan.
Cuitan tersebut menarik perhatian banyak warganet dan telah dilihat lebih dari 2,4 juta kali. Banyak dari mereka mengaku melakukan hal tersebut karena kondisi keuangan mereka pada bulan ini. Beberapa mencoba untuk mengembalikan “pinjaman” dari diri sendiri, sementara sebagian lainnya justru menghabiskan tabungan mereka.
“Bahkan saving-nya pun sudah habis,” komentar salah satu akun. “Fuhh, senang aku enggak sendirian di sini,” sahut akun lainnya. “Bukan borrow lagi, udah gua rampok abis abisan,” ujar akun lainnya. “Wkwk udahhh tapi alhamdulillaahhnyaaa udah bisa dibalikin banggaaa banget,” imbuh akun lainnya.
Apa Arti “Borrowing from Saving” Menurut Pengamat Ekonomi?
Menurut Akhmad Akbar Susamto, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, istilah “borrowing from saving” tidak merupakan istilah formal dalam ilmu ekonomi, tetapi cukup menarik karena langsung menggambarkan situasi yang sering kita temui sehari-hari.
“Ungkapan ‘borrowing from saving’ sebenarnya bukan istilah resmi dalam ilmu ekonomi, tetapi cukup menarik karena langsung menggambarkan situasi yang sering kita temui sehari-hari,” kata Akbar.
Ia menjelaskan bahwa maksudnya sederhana: orang bisa saja punya tabungan, tetapi tetap memilih berutang. Contohnya, sebuah keluarga punya tabungan di bank untuk kebutuhan darurat atau pendidikan anak. Ketika ada kebutuhan mendesak, misalnya renovasi rumah, mereka tidak mau mengutak-atik tabungan itu karena dianggap ‘suci’ atau sudah ada tujuan khusus.
“Maka mereka memilih pinjaman dari bank atau koperasi. Jadi, walaupun mereka menabung, pada saat yang sama mereka juga berutang. Inilah yang bisa disebut borrowing from saving,” ujarnya.
Faktor Psikologis dan Budaya yang Mempengaruhi
Akbar mengungkap bahwa fenomena ini muncul karena orang tidak selalu membuat keputusan ekonomi secara hitung-hitungan murni. Di balik suatu tindakan ekonomi, ada faktor psikologi dan budaya yang memengaruhi langkah seseorang.
“Tabungan dianggap ‘jangan disentuh’, sementara utang dipandang sebagai solusi praktis untuk kebutuhan cepat. Kadang alasannya juga teknis: bunga tabungan lebih kecil daripada penalti kalau ditarik sebelum jatuh tempo, jadi lebih mudah ambil kredit jangka pendek,” terangnya.
Sindiran Situasi Ekonomi dan Sosial
Akbar menilai bahwa unggahan yang sedang ramai di X bukan sebagai istilah ekonomi formal, melainkan sebagai sindiran sosial. “Tentang pernyataan di X, ‘Sudahkah Anda borrowing money from your own savings bulan ini,’ saya menduga bahwa kalimat itu bukan dimaksudkan sebagai istilah ekonomi formal, melainkan sebagai sindiran sosial.”
Ia menambahkan bahwa banyak orang sekarang menghadapi situasi di mana penghasilan bulanan tidak cukup untuk menutup seluruh kebutuhan. Dengan penghasilan bulanan yang tidak mencukupi kebutuhan, maka orang mengambil uang dari tabungan atau dana darurat.
“Akibatnya, mereka harus ‘meminjam’ dari tabungan sendiri—entah dengan mencairkan dana darurat, memakai deposito, atau menarik tabungan yang awalnya diniatkan untuk tujuan lain,” paparnya.
Tindakan Ekonomi Lain yang Berkaitan
Melihat fenomena “borrowing from saving” di tengah masyarakat, Akbar mengungkapkan beberapa istilah yang berkaitan erat dengan tindakan ekonomi masyarakat:
Consumption smoothing
Istilah tersebut berarti bahwa seseorang berusaha menjaga pola hidupnya tetap stabil dari waktu ke waktu. Cara untuk menjaga kestabilan itu dengan berutang.Saving–borrowing paradox
Istilah tersebut digunakan untuk menyebut keanehan ketika seseorang menabung dan berutang sekaligus.Liquidity constraint
Kondisi ini terjadi ketika seseorang punya aset atau tabungan tetapi tidak bisa dipakai sesegera mungkin. Sehingga, seseorang tetap membutuhkan pinjaman.Mental accounting
Secara psikologis, seseorang merasa tidak bisa menyentuh tabungannya karena kebiasaan memisahkan untuk tujuan tertentu, misalnya sekolah anak, dana darurat, dan haji.Debt-financed consumption
Istilah ini digunakan untuk merujuk pada tindakan berbelanja dengan utang saat mempunyai tabungan.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, motif seseorang melakukan pinjaman ternyata beragam. Dari sisi psikologi hingga keterbatasan akses dana, semua faktor itu saling terkait. Pada akhirnya, istilah “borrowing from saving” bukan sekadar tren di media sosial, melainkan gambaran nyata tentang tantangan ekonomi di tengah kenaikan biaya hidup dan pendapatan yang stagnan.




