Pencarian ABK Hilang di Perairan Sinjai Terhambat Cuaca Ekstrem
Proses pencarian Muh Aidil Takbir (20), seorang anak buah kapal (ABK) dari KM 3 Putri yang dilaporkan hilang di perairan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menghadapi tantangan signifikan akibat cuaca ekstrem. Hingga kini, korban belum berhasil ditemukan, meskipun upaya pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari berbagai instansi terkait dan nelayan setempat.
Peristiwa nahas ini terjadi pada hari Sabtu, 31 Januari 2026, sekitar pukul 06.30 Wita. Muh Aidil Takbir diduga terjatuh dari atas kapal saat KM 3 Putri sedang beraktivitas mencari ikan di wilayah Limpoge.
Upaya Pencarian yang Intensif
Meskipun terkendala kondisi alam, tim gabungan tidak menyerah dalam upaya menemukan Muh Aidil Takbir. Kasat Polairud Polres Sinjai, AKP Jamaluddin, memastikan bahwa pencarian terus berlangsung secara aktif. “Tim gabungan saat ini terus melakukan pencarian,” ujar AKP Jamaluddin melalui pesan singkatnya pada hari Minggu, 1 Februari 2026, sehari setelah korban dilaporkan hilang.
Tim gabungan yang dikerahkan dalam operasi pencarian ini melibatkan berbagai elemen, menunjukkan keseriusan dan koordinasi yang baik antar lembaga. Anggota tim gabungan meliputi:
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sinjai
- Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polres Sinjai
- Pos TNI Angkatan Laut (AL) Sinjai
- Satuan Brigade Mobil (Brimob) Batalyon C Pelopor Bone
- Pos Basarnas Bone
- Satuan Polairud Polres Bone
- Tim Rescue Tagana Dinas Sosial Sinjai
- Para nelayan setempat yang sangat memahami kondisi perairan
Untuk memaksimalkan area pencarian, tim gabungan memanfaatkan sejumlah armada. Sebanyak tiga unit perahu karet dan sebelas unit kapal nelayan dikerahkan untuk menyisir perairan. Analis Kebencanaan BPBD Sinjai, Andi Octave, menjelaskan bahwa fokus pencarian dilakukan di wilayah Limpoge, yang merupakan lokasi terakhir korban dilaporkan terjatuh.
Kendala Cuaca Ekstrem yang Membahayakan
Kondisi cuaca menjadi hambatan utama dalam operasi pencarian ini. Menurut AKP Jamaluddin, ketinggian ombak di perairan tersebut mencapai 1 hingga 2 meter. Selain ombak yang besar, angin kencang juga turut memperparah situasi. Ditambah lagi, adanya arus yang berputar di lokasi kejadian semakin menyulitkan pergerakan kapal dan personel yang bertugas.
“Tinggi sekali ombak, angin kencang dan arus yang terputar. Seperti yang kita hadapi semalam,” ungkap AKP Jamaluddin, menggambarkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi tim di lapangan. Cuaca buruk seperti ini tidak hanya menghambat jangkauan pencarian, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan bagi para petugas yang berada di laut.
Kronologi Kejadian Hilangnya ABK
Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh BPBD Sinjai, insiden hilangnya Muh Aidil Takbir terjadi sekitar pukul 06.30 Wita pada hari Sabtu. Saat itu, KM 3 Putri sedang melakukan aktivitas rutinnya dengan berputar di area Limpoge untuk mencari ikan.
Setelah dilaporkan hilang, tim internal kapal sempat melakukan pencarian di atas kapal untuk memastikan korban tidak berada di area lain. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Dari rekonstruksi awal, diduga kuat korban terjatuh saat sedang berjalan di pinggir kapal.
Andi Octave dari BPBD Sinjai memberikan dugaan lebih rinci mengenai kemungkinan penyebab korban terjatuh. “Kemungkinan korban ini jatuh saat mau ke belakang buang air,” ujarnya, mengindikasikan bahwa korban mungkin sedang dalam perjalanan menuju toilet kapal yang berada di bagian belakang. Detail kronologi ini penting untuk membantu tim SAR dalam memprediksi kemungkinan pergerakan korban di laut dan mempersempit area pencarian.
Meskipun upaya pencarian terus dilakukan dengan mengerahkan segala sumber daya yang ada, cuaca ekstrem yang melanda perairan Sinjai menjadi faktor penentu yang paling memengaruhi keberhasilan operasi ini. Seluruh pihak berharap agar kondisi cuaca segera membaik, sehingga proses pencarian dapat berjalan lebih efektif dan Muh Aidil Takbir dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.



















