Komika Pandji Pragiwaksono Akui Kemungkinan Keliru atas Sikapnya Terhadap Kebijakan Presiden Prabowo Subianto di Tengah Ketegangan Global
Ketegangan geopolitik global yang kian memanas, terutama dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah, telah memicu gelombang prediksi mengenai kemungkinan pecahnya Perang Dunia III. Situasi ini secara tak terduga membawa kembali sorotan pada pandangan seorang figur publik yang biasanya dikenal kritis terhadap pemerintah, yaitu komika Pandji Pragiwaksono. Dalam sebuah pengakuan yang mengejutkan, Pandji menyatakan bahwa ia kini terbuka untuk mengakui bahwa penilaiannya terhadap beberapa kebijakan Presiden Prabowo Subianto mungkin keliru. Pernyataan ini, yang pertama kali diutarakan pada Agustus 2025 dalam sebuah podcast, kini kembali relevan seiring dengan memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang telah meningkatkan tensi global sejak Sabtu, 28 Februari 2026.
Pandji mengakui bahwa ia mungkin telah salah membaca arah dan tujuan dari sejumlah kebijakan strategis yang diambil oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Nggak percaya saya mengucapkan ini, tapi Prabowo mungkin saja benar,” ujarnya sambil tertawa, mencerminkan keraguan diri atas pandangannya yang terdahulu.
Antisipasi Perang Global: Kebijakan Pertahanan dan Ketahanan Pangan
Salah satu poin utama yang diangkat Pandji adalah keyakinan Presiden Prabowo Subianto yang telah lama diyakini akan terjadinya perang yang mengganggu stabilitas geopolitik global. Pandji mengenang bagaimana Prabowo, bahkan ketika menjabat sebagai menteri, telah berulang kali menyatakan perlunya penguatan alutsista dan modernisasi persenjataan. Pada saat itu, pandangan ini seringkali dikritik, termasuk oleh Pandji sendiri, yang menganggapnya sebagai sikap yang berlebihan atau hanya mencerminkan latar belakang militer Prabowo.
“Prabowo bertahun-tahun bilang sama orang ini mau ada perang dunia ini, makanya beli senjata, ingat nggak? Waktu jadi menteri dia beli senjata, memperbarui senjata karena dia punya keyakinan mau ada perang ini. Orang bilang apaan sih lu? Lu doang kali karena lu tentara lu berpikir semua serba perang. Ngapain kita beli jet baru, beli senjata baru, dulu dikritik, oleh gue juga termasuk,” jelas Pandji.
Lebih lanjut, Pandji menyoroti program-program lain yang digagas oleh Presiden Prabowo, seperti food estate dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengaku baru menyadari strategi jangka panjang di balik inisiatif-inisiatif tersebut.
- Food Estate: Pandji melihat program ini sebagai upaya untuk memastikan ketersediaan pangan nasional.
Dalam konteks ancaman disrupsi global, memiliki cadangan pangan yang memadai menjadi krusial untuk menjaga stabilitas domestik. - Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Program ini, menurut Pandji, juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan memastikan asupan gizi yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat, program ini dapat menjadi bantalan sosial ketika terjadi krisis atau keterputusan pasokan dari luar negeri.
Pandji berpendapat bahwa program-program ini, jika dilihat dari sudut pandang antisipasi terhadap potensi krisis global, memiliki logika yang kuat. “Sekarang salah satu yang dia pengen dengan food estate, dengan makanan bergizi gratis, sebenarnya kan semua ini dipastikan bahwa kalau ada apa-apa, kalau kita terputus dari dunia luar kita masih aman nih. Makanan punya, duit punya dengan perputaran dan segala macam, senjata punya, pokoknya kita aman lah. Nah, dikritik oleh masyarakat. Tapi dengan perang yang sekarang terjadi, ada benarnya juga,” tambahnya.
Kesiapan Indonesia Menjadi Penengah Konflik Internasional
Di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, Indonesia kembali menunjukkan komitmennya terhadap upaya perdamaian global. Presiden Prabowo Subianto, melalui pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai penengah dalam konflik yang kian memburuk tersebut.
Pernyataan ini disampaikan oleh Jusuf Kalla usai menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di kediamannya di Jakarta Selatan pada Selasa, 3 Maret 2026. “Presiden Prabowo siap untuk menjadi penengah dalam konflik ini. Namun tentu dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Ini hal yang selalu dipikirkan oleh mereka,” ungkap Kalla dalam siaran pers.
Jusuf Kalla menegaskan bahwa Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakatnya, secara fundamental mendukung setiap inisiatif perdamaian. Indonesia senantiasa mengedepankan diplomasi dan penyelesaian konflik melalui jalur dialog. Namun, ia menekankan bahwa peran mediasi yang ditawarkan Indonesia tidak dapat berjalan sepihak.
“Ya tentu itu telah disampaikan, tentu dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Dan ini tentu hal yang sedang dipikirkan oleh mereka,” jelas Kalla.
Hal ini menegaskan bahwa efektivitas peran Indonesia sebagai penengah sangat bergantung pada kesediaan dan persetujuan dari semua pihak yang terlibat dalam konflik. Indonesia siap mengambil peran, namun langkah tersebut harus didasarkan pada konsensus bersama negara-negara yang berkonflik. Pernyataan ini kembali menyoroti posisi Indonesia sebagai negara yang senantiasa berupaya menjaga perdamaian dan stabilitas regional maupun internasional.
Pandji Pragiwaksono sendiri mengakui bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Presiden Prabowo ini bisa jadi merupakan bentuk antisipasi strategis jika skenario terburuk, yaitu Perang Dunia III, benar-benar terjadi. Ia secara terbuka menyatakan bahwa penilaiannya di masa lalu terhadap Presiden Prabowo mungkin saja keliru.
“Pada titik ini gue cukup terbuka untuk bilang saya mungkin salah penilaian saya terhadap Pak Prabowo. Bisa jadi benar, bisa jadi dia ngelihat, ada orang-orang yang memang bisa ngelihat lebih dulu daripada orang lain. Belum tentu terjadi, tapi sekarang nggak ada salahnya untuk bersiap,” pungkas Pandji, menunjukkan keterbukaan terhadap kemungkinan bahwa visi strategis Presiden Prabowo telah mengantisipasi ancaman global yang kini mulai terasa.


















