Perampokan Batam: Emas Nenek 75 Tahun Dirampas Teman Anaknya

Diposting pada

Perampokan Brutal di Batam: Nenek 75 Tahun Jadi Korban, Pelaku Ternyata Orang Dekat

Batam – Sebuah kasus pencurian disertai kekerasan yang menggemparkan terjadi di Kota Batam. Kali ini, korbannya adalah seorang nenek berusia 75 tahun, Etty Suhanti, yang menjadi sasaran empuk pelaku yang ternyata adalah kenalan dekatnya. Peristiwa tragis ini terjadi di kediamannya di Kampung Dalam, Baloi Indah, Lubukbaja, pada Rabu (11/2/2026) pagi. Pelaku, Dedi Effendy, berhasil dibekuk oleh pihak kepolisian kurang dari enam jam setelah laporan diterima.

Kronologi Kejadian yang Mengejutkan

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, Nenek Etty sedang asyik mencuci pakaian di belakang rumahnya. Tiba-tiba, Dedi Effendy datang bertamu. Kedatangan Dedi tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun, mengingat ia dikenal korban sebagai teman anaknya yang pernah bekerja di sebuah perusahaan. Dedi datang seperti biasa, duduk di bangku panjang depan rumah dan meminta dibuatkan kopi.

“Modus tersangka berpura-pura berkunjung ke rumah korban dan memanfaatkan korban yang sudah lanjut usia,” ungkap Kapolsek Lubuk Baja, Kompol Deni Langie.

Ketika Nenek Etty menyatakan tidak memiliki kopi, Dedi dengan sigap memberikan uang Rp50 ribu dan meminta korban membelikan kopi serta empat batang rokok. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Nenek Etty menuruti permintaan tersebut. Setelah membeli kebutuhan yang diminta, Nenek Etty mengembalikan sisa uang kembalian sebesar Rp36.500 kepada Dedi. Dedi kemudian mengatakan agar uang kembalian itu diambil saja oleh Nenek Etty.

Setelah itu, Nenek Etty kembali ke belakang rumah untuk melanjutkan aktivitasnya. Namun, saat ia sedang mengiris bawang, Dedi tiba-tiba datang dari arah belakang. Begitu Nenek Etty menoleh, Dedi langsung memukul wajah korban, tepat mengenai mata sebelah kanan, hingga Nenek Etty pingsan. Dalam kondisi korban tidak berdaya, Dedi dengan cepat merampas gelang emas seberat 60 gram yang terpasang di tangan kiri Nenek Etty.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Nenek Etty tersadar dari pingsannya. Ia duduk di depan rumah sambil menangis. Tak lama kemudian, seorang tetangga bernama Yuyun datang dan mendengar cerita Nenek Etty tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Peristiwa ini kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Gelang Emas Bersejarah yang Hilang

Bagi Nenek Etty Suhanti, gelang emas yang dirampas pelaku bukan sekadar perhiasan biasa. Perhiasan seberat 60 gram itu merupakan hasil jerih payah mendiang suaminya yang bekerja sebagai pelaut. Emas tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit sejak tahun 1998. Setiap kali suaminya menerima gaji dari pekerjaannya berlayar ke Singapura, uang tersebut diserahkan kepada Nenek Etty untuk diatur. Sebagian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sisanya disisihkan untuk membeli emas.

“Enggak langsung banyak. Beli 10 gram, 10 gram lagi. Disisihkan terus,” kenang Nenek Etty.

Ia masih ingat betul, pada tahun 1998, harga emas yang dibelinya saat itu berkisar Rp7 juta. Dari tahun ke tahun, koleksi emasnya terus bertambah hingga akhirnya menjadi sebuah gelang seberat 70 gram yang selalu menghiasi pergelangan tangannya. Bagi ibu lima anak ini, gelang emas tersebut bukan hanya sebagai perhiasan, tetapi juga menjadi simbol kerja keras keluarga mereka selama puluhan tahun.

“Awalnya 70 gram, karena badan mulai mengurus karena usia, gelangnya jadi longgar. Makanya dipotong, terus dijual, ada buat kebutuhan,” jelas Nenek Etty.

Gelang emas itu sejatinya adalah tabungan masa tua Nenek Etty, yang dikumpulkan dari hasil kerja keras suaminya mengarungi lautan. Namun, semua itu raib dalam hitungan menit, setelah ia dipukul hingga pingsan oleh tamu yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Pelaku Ternyata Kenalan Lama

Nenek Etty tidak memiliki firasat buruk sedikit pun saat Dedi Effendy datang bertamu pada Rabu pagi itu. Hal ini dikarenakan ia sudah lama mengenal Dedi. Dedi Effendy adalah teman anaknya semasa mereka bekerja di sebuah perusahaan.

Tanpa rasa curiga, Nenek Etty melayani permintaan kopi dan rokok dari Dedi. Ia bahkan tidak keberatan ketika Dedi memberinya uang Rp50 ribu dan memintanya membelikan kopi serta rokok. Dedi juga meminta Nenek Etty untuk menyimpan uang kembalian sebesar Rp36.500. “Saya bilang, ‘kok tumben?’ Dia bilang, ‘ambil saja nek, lagi ada rezeki’,” ujar Nenek Etty dengan lirih.

Dulu, Dedi memang sering berkunjung ke rumah Nenek Etty, bahkan terkadang bersama istri dan anaknya untuk bersilaturahmi. Kedekatan inilah yang membuat Nenek Etty tidak pernah menaruh curiga sedikit pun kepada Dedi. “Saya kenal sama Dedi ini, karena teman anak saya kerja waktu itu di PT,” tuturnya dengan mata kanan yang masih membiru lebam akibat pukulan.

Namun, sekitar lima tahun terakhir, Dedi tidak pernah terlihat lagi. Komunikasi seolah terputus. Anehnya, dalam sebulan terakhir ini, Dedi kembali sering datang ke rumah Nenek Etty. “Kalau datang mampir ya sering dulu. Lima tahun terakhir itulah gak pernah nampak lagi. Tapi sebulan ini sudah tiga kali datang ke rumah,” katanya. Setiap kali Dedi berkunjung, Nenek Etty kerap menawarkan masakan buatannya untuk disantap. Namun, karena jarang berkunjung, Dedi hanya meminta kopi dan rokok.

Sempat Mengira Plafon Roboh

Saat ditemui di kediamannya pada Kamis (12/2/2026), perantau asal Jawa Barat ini menceritakan detik-detik luka lebam yang ia dapatkan. “Ini masih terasa sakit. Kalau diingat lagi saat itu saya siuman dari pingsan, saya langsung ‘Astaghfirullah, kenapa ini’, lalu saya duduk, tapi rasanya dunia kayak berputar-putar,” ujar Nenek Etty saat mengingat momen tersebut.

Dalam kondisi kepala masih pening dan belum sepenuhnya sadar, Nenek Etty sempat mengira plafon rumahnya roboh dan menimpanya. Ia kemudian meraba pergelangan tangan kirinya. Di sana, gelang emas seberat 60 gram yang biasanya melingkar sudah tidak ada. “Lalu saya lihat di kursi depan rumah, hanya tersisa secangkir kopi dan rokok, sementara Dedi ini telah pergi,” katanya dengan nada sedih.

Pelaku Diringkus Polisi, Emas Dijual

Mendapat laporan dari korban dengan nomor LP/B/14/II/2026/SPKT/Polsek Lubuk Baja/Polresta Barelang/Polda Kepri, pihak kepolisian dari Polsek Lubuk Baja segera bergerak. Tim gabungan dari Satreskrim Polresta Barelang dan Polsek Lubuk Baja langsung melakukan serangkaian penyelidikan, termasuk olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Berdasarkan hasil penyelidikan dan rekaman CCTV di sekitar lokasi yang menunjukkan pelaku menggunakan sepeda motor Honda Beat melarikan diri, identitas pelaku berhasil diketahui. Kurang lebih enam jam setelah laporan diterima, Dedi Effendy berhasil ditangkap di kawasan Aviari, Batu Aji.

Penangkapan dilakukan di depan akses masuk salah satu kawasan industri di Jalan Sei Binti, Kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepuluan Riau (Kepri), pada Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Pelaku tak berkutik saat tim kepolisian meringkusnya.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan uang tunai sebesar Rp22.550.000 hasil penjualan emas rampokan, serta sejumlah barang bukti lainnya, yaitu:
* Dua lembar kepemilikan emas milik korban
* Satu helai celana jins biru milik tersangka
* Satu helai baju abu-abu lengan panjang milik tersangka
* Satu buah kupluk hijau muda milik tersangka
* Satu buah tas kecil biru milik tersangka

Dalam kasus ini, tersangka diancam dengan hukuman maksimal 9 tahun penjara sesuai dengan Pasal 479 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana).

Dari hasil pemeriksaan awal, Dedi Effendy mengaku telah menjual gelang emas curian tersebut kepada seseorang berinisial IB, yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). “Gelang yang dicuri itu sudah dijual. Dari penjualan itu, pelaku memperoleh uang sebesar Rp22.550.000,” jelas Kapolsek Deni.

Kapolsek Lubuk Baja mengimbau masyarakat, khususnya warga lanjut usia, untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap tamu tak dikenal yang datang dengan berbagai modus. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam berinteraksi, bahkan dengan orang yang sudah dikenal sekalipun.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan