Puan Hayati Gresik Rayakan HUT ke-9 dengan Napak Tilas Sejarah dan Doa Bersama
GRESIK – Komunitas Perempuan Penghayat Kepercayaan (Puan Hayati) Indonesia di Kabupaten Gresik merayakan hari ulang tahunnya yang ke-9 dengan cara yang sarat makna. Berbeda dari perayaan pada umumnya, Puan Hayati memilih untuk menggelar kegiatan doa bersama dan belajar sejarah di makam salah satu tokoh penting Gresik, yaitu Kyai Tumenggung Poesponegoro. Acara yang mengusung tema “Niti Lampah Leluhur” ini bertujuan untuk mengenang jasa para leluhur, melestarikan kekayaan budaya lokal, serta memperdalam pemahaman anggota tentang sejarah dan tokoh kunci di Kabupaten Gresik, agar pengetahuan ini dapat diwariskan kepada generasi penerus.
Kegiatan ini dilaksanakan di Makam Kyai Tumenggung Poesponegoro yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Kecamatan Gresik. Para anggota Puan Hayati Gresik berkumpul untuk memanjatkan doa bagi Kyai Tumenggung Poesponegoro, yang dikenal sebagai Bupati Pertama Gresik. Setelah sesi doa, mereka mendengarkan paparan dari perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro yang menceritakan sosok dan perjalanan sejarah beliau dalam membangun Gresik sebagai bupati pertamanya.
Suparni, Ketua Puan Hayati Kabupaten Gresik, menekankan pentingnya peran perempuan penghayat dalam melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Gresik. “Salah satunya yaitu dengan mengenal sejarah dan perjalanan Bupati pertama Gresik yaitu Kiai Tumenggung Poesponegoro. Nantinya, ketika berada di luar Gresik bisa cerita, bagaimana sejarah di Gresik ini kepada orang lain dan nantinya untuk anak cucu kita nanti,” ujar Suparni. Ia menambahkan bahwa suasana di lingkungan makam K.T. Poesponegoro sangat menyentuh dan memberikan semangat bagi masyarakat minoritas untuk menyelenggarakan kegiatan positif.
“Jujur, suasana di sini sangat menyentuh dan bisa mendoakan leluhur adalah kewajiban kita sebagai orang yang masih hidup. Selain itu, kami sebagai Puan Hayati ingin menunjukkan bahwa kami bisa menyelenggarakan kegiatan positif kepada masyarakat,” imbuhnya.
Tema “Niti Lampah Leluhur” yang diusung dalam perayaan HUT ke-9 ini memiliki makna mendalam, yaitu mengingatkan bahwa manusia yang masih hidup memiliki kewajiban untuk mengenang dan menghormati para leluhur yang telah tiada. Kegiatan ini dihadiri oleh para ibu anggota Puan Hayati, perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (Formagam), dan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro.
Raden Ngabehi Ahmad Rifai, perwakilan dari Yayasan K.T. Poesponegoro, menyambut baik kunjungan perdana dari Puan Hayati. Ia menyatakan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk kegiatan belajar sejarah di makam Kyai Tumenggung Poesponegoro. “Memang dari Bupati Gresik pertama dulunya sebagai penguasa pastinya mengayomi rakyatnya, apapun kepercayaannya. Tentunya, kami sebagai trah keturunan Kyai Tumenggung Poesponegoro, pastinya menyambut dengan baik kedatangan Puan Hayati untuk belajar sejarah Bupati Gresik Pertama,” kata Ahmad Rifai.
Ahmad Rifai juga menambahkan bahwa makam K.T. Poesponegoro terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar sejarah. Ia menyayangkan masih banyak masyarakat Gresik yang belum mengetahui asal-usul dan sejarah mengenai Bupati Gresik Pertama. “Oleh karena itu, monggo (Silahkan) untuk masyarakat datang langsung dan menyelenggarakan kegiatan dengan izin dan sekaligus belajar sejarahnya,” ajaknya.
Djoko Pratomo, Ketua Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (Formagam), turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan Puan Hayati. Ia mendorong komunitas tersebut untuk terus mengingat para pahlawan dan pemimpin Gresik, serta menyoroti kekayaan yang jarang diperhatikan oleh banyak orang.
Pentingnya Kearifan Lokal dan Keberagaman
Djoko Pratomo menjelaskan bahwa kegiatan seperti “Niti Lampah Leluhur” merupakan bentuk kearifan lokal yang sangat berharga, terutama ketika dilakukan di situs-situs cagar budaya seperti makam Kyai Tumenggung Poesponegoro. “Di jaman sekarang sangat perlu ditonjolkan kembali kepada generasi muda agar tidak dilupakan,” tegasnya.
Ia menyambut baik kerjasama antara Puan Hayati dan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro. “Terimakasih kepada Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro yang menyambut baik kegiatan Puan Hayati berkunjung untuk belajar sejarah. Sehingga kegiatan ini bisa bermanfaat bukan hanya untuk anggota tetapi juga untuk masyarakat luas,” ungkap Djoko Pratomo.
Dalam kesempatan HUT ke-9 ini, Djoko berharap Puan Hayati dapat terus berperan aktif dalam menyelenggarakan kegiatan positif yang dapat memperkaya aspek keberagaman umat beragama di Gresik. “Semoga, Puan Hayati bukan hanya menjadi komunitas, tetapi juga berperan aktif berkegiatan untuk masyarakat dan mencerminkan salah satu keberagaman beragama yang ada di Indonesia khususnya di Gresik,” pungkasnya.
Kegiatan ini menunjukkan bagaimana komunitas penghayat kepercayaan dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian sejarah dan budaya, sekaligus mempromosikan nilai-nilai toleransi dan keberagaman di tengah masyarakat. Dengan mengenang para leluhur dan mempelajari sejarah lokal, Puan Hayati tidak hanya merayakan hari jadinya, tetapi juga turut membangun fondasi pemahaman yang kuat bagi generasi mendatang tentang warisan budaya Gresik.












