Merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah dan Sunat Yesus
Setiap tanggal 1 Januari, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan dua momen penting yang sarat makna spiritual: Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah dan Perayaan Sunat Yesus. Kedua perayaan ini mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa fundamental dalam kisah keselamatan umat manusia, yang berakar pada kelahiran Yesus Kristus.
Sunat Yesus: Tanda Ketaatan dan Nama Keselamatan
Delapan hari setelah kelahiran-Nya, Kanak-kanak Yesus disunat sesuai dengan hukum Taurat Musa. Tindakan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah penegasan penting. Sunat, yang merupakan lambang keanggotaan dalam masyarakat Ibrani dan tanda perjanjian dengan Tuhan, menjadikan Yesus sebagai bagian dari umat pilihan-Nya. Lebih dari itu, pada momen inilah Ia diberi nama Yesus.
Nama “Yesus” berasal dari bahasa Yunani “Iesous,” yang merupakan adaptasi dari bahasa Ibrani “Yesyua” atau “Yehosyua.” Kedua nama ini memiliki arti yang mendalam: “Yahweh menyelamatkan.” Nama ini bukanlah nama yang baru bagi bangsa Israel, karena Yosua, pengganti Musa, juga menyandang nama yang sama. Namun, melalui Yesus dari Nazaret, makna keselamatan yang terkandung dalam nama-Nya tergenapi secara universal bagi seluruh umat manusia.
Yesus adalah Al-Masih yang dijanjikan oleh Yahweh kepada Israel. Kelahiran-Nya dari Perawan Maria menjadikan-Nya seorang warga negara Israel, terhubung dengan garis keturunan Raja Daud. Melalui sunat, Ia secara resmi diakui sebagai anggota masyarakat Yahudi. Dengan demikian, Yesus menjadi jembatan krusial antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, antara nubuat para nabi dan penggenapannya, antara janji dan realisasinya. Ia menyatukan Kerajaan Daud yang duniawi dengan Kerajaan-Nya yang bersifat universal dan abadi.
Santa Maria, Bunda Allah: Pertahanan Iman dari Ajaran Sesat
Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah memiliki sejarah yang menarik dan merupakan respons terhadap tantangan teologis di masa lalu. Pada abad ke-5, muncul ajaran sesat yang mempertanyakan status Maria sebagai Bunda Allah. Para penganut ajaran ini berpendapat bahwa Maria memang adalah ibu Yesus, tetapi bukan ibu dari Allah.
Ajaran sesat ini kemudian dikutuk dalam Konsili Efesus pada tahun 431. Konsili ini dengan tegas mempertahankan ajaran yang benar, yaitu bahwa Maria adalah Bunda Allah (Theotokos), karena Yesus, Anak-Nya, adalah sungguh-sungguh Allah. Sebagai pengakuan atas keputusan penting Konsili Efesus ini, Paus Pius XI kemudian menetapkan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah untuk dirayakan setiap tahun pada peringatan 1500 tahun konsili tersebut.
Perayaan ini mengajak kita untuk merenungkan nubuat Nabi Yesaya yang mengatakan, “Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia, Imanuel” (Yesaya 7:14). “Imanuel” berarti “Allah beserta kita.” Selain itu, kita juga diingatkan pada salam Elisabeth kepada Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini, sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas 1:42-43).
Mengakui Maria sebagai Bunda Allah berarti kita mengakui Yesus sebagai “sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh Manusia.” Kemuliaan Maria sebagai Bunda Allah adalah cerminan kemuliaan Anaknya, Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dan Penebus umat manusia. Perayaan ini meneguhkan keyakinan kita akan keilahian Kristus dan peran sentral Maria dalam rencana keselamatan ilahi.
Santo Almakios (Telemakus): Martir Kemanusiaan
Selain perayaan Maria Bunda Allah dan Sunat Yesus, tanggal 1 Januari juga mengingatkan kita pada kisah Santo Almakios, atau yang juga dikenal sebagai Telemakus. Almakios adalah seorang biarawan yang memiliki hati yang penuh belas kasih dan keberanian.
Ketika ia mengunjungi kota Roma, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kekejaman pertunjukan gladiator yang seringkali merenggut nyawa. Penuh dengan rasa kemanusiaan dan keadilan, Almakios berusaha menghentikan praktik brutal tersebut. Dalam upayanya yang mulia, ia harus menghadapi perlawanan keras dan akhirnya ia sendiri terbunuh.
Namun, pengorbanan nyawanya tidak sia-sia. Kematian Almakios menjadi titik balik yang dramatis. Usahanya yang berujung pada kematiannya itu berhasil menggugah hati para penguasa. Sejak saat itu, kaisar melarang pertunjukan gladiator yang berbahaya, sehingga menyelamatkan banyak nyawa di masa depan. Santo Almakios menjadi teladan keberanian dan pengorbanan diri demi kemanusiaan. Kisahnya mengajarkan bahwa bahkan satu orang yang berani berdiri teguh untuk kebenaran dapat membawa perubahan besar bagi dunia.



















