PSM Makassar Berkomitmen Selesaikan Sanksi FIFA, Manajemen Beberkan Tantangan Finansial
Makassar – Manajemen PSM Makassar akhirnya angkat bicara mengenai sanksi larangan pendaftaran pemain baru dari FIFA yang dijatuhkan kepada klub berjuluk Juku Eja tersebut. Sanksi ini mengharuskan PSM Makassar tidak dapat merekrut pemain baru selama tiga periode bursa transfer mendatang, hingga masalah yang mendasarinya terselesaikan. PSM Makassar masuk dalam daftar FIFA Registration Ban per Maret 2026, dengan tanggal pencatatan sanksi tertanggal 9 Maret dan 20 Maret.
Manajer PSM Makassar, Muhammad Nur Fajrin, menegaskan komitmen penuh manajemen untuk menyelesaikan sanksi FIFA ini. Namun, ia menekankan bahwa proses penyelesaian membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. “Banned FIFA akan menjadi tanggung jawab kita,” ujar Fajrin saat ditemui di Stadion Kalegowa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (29/3/2026).
Fajrin secara terbuka memaparkan kondisi finansial klub saat ini yang menjadi salah satu tantangan dalam menyelesaikan sanksi FIFA. Ia mengungkapkan bahwa dengan sisa dua bulan kompetisi, keuangan tim sangat bergantung pada sokongan sponsor dan dukungan dari pemilik klub, Sadikin Aksa.
Penurunan Pendapatan dan Beban Finansial
Salah satu faktor krusial yang memengaruhi kondisi keuangan PSM Makassar adalah penurunan drastis pendapatan dari penjualan tiket pertandingan. Data menunjukkan bahwa dalam 12 laga kandang yang telah dilakoni PSM Makassar, total hanya 34.619 penonton yang hadir. Rata-rata, hanya 2.885 penonton yang memadati Stadion BJ Habibie di setiap pertandingan.
Posisi PSM Makassar dalam hal kehadiran suporter di stadion menempatkannya di urutan ke-12 dari 18 klub di liga. Kondisi ini tentu saja berdampak besar pada kas klub yang seharusnya mendapatkan pemasukan signifikan dari tiket.
Di sisi lain, PSM Makassar juga dibebani dengan pembayaran denda akibat berbagai pelanggaran disiplin yang terjadi selama kompetisi. Fajrin mengungkapkan bahwa manajemen telah mengeluarkan dana sebesar Rp 780 juta khusus untuk membayar sanksi denda tersebut.
“Kita selesaikan, tapi harus realistis. Kondisi keuangan kita dua bulan sisa mengandalkan sponsor dan support owner,” ungkap Fajrin. Ia menambahkan, “Kita tahu sendiri ticketing drop, tak ada pendapatan dari tiket. Di satu sisi kita harus menanggung denda karena pelanggaran disiplin.”
Perencanaan dan Struktur Keuangan
Oleh karena itu, Fajrin kembali menekankan pentingnya waktu dalam menyelesaikan persoalan banned FIFA. Ia menjelaskan bahwa ada struktur dan cash flow yang perlu diatur dengan cermat, sehingga penyelesaiannya membutuhkan perencanaan yang matang dan tidak bisa dilakukan terburu-buru.
“Komitmen kita mengatur pendapatan PSM Makassar, cash flow. Akan kita selesaikan pada waktunya,” tegas alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.
Klarifikasi Mengenai Penyebab Sanksi FIFA
Menanggapi spekulasi yang beredar di kalangan publik, banyak yang beranggapan bahwa sanksi FIFA kali ini disebabkan oleh masalah hak pemain yang masih aktif dalam tim atau yang baru saja meninggalkan klub. Namun, Fajrin membantah keras kabar tersebut.
Ia mengklarifikasi bahwa sanksi FIFA yang diterima PSM Makassar ini tidak berkaitan dengan pemain yang masih berseragam Juku Eja saat ini, maupun pemain yang baru saja berganti klub.
“Ini pemain terdahulu, saya tak bisa sebutkan namanya. Bukan pemain yang ada di PSM Makassar dan bukan yang baru saja meninggalkan PSM Makassar,” jelas Fajrin. Ia menambahkan bahwa sanksi FIFA ini biasanya baru muncul setelah selang waktu enam bulan hingga setahun dari terjadinya masalah.
Dengan adanya penjelasan ini, manajemen PSM Makassar berharap publik dapat memahami tantangan yang dihadapi klub dan memberikan dukungan agar sanksi FIFA ini dapat segera terselesaikan demi kemajuan tim di masa depan. Komitmen untuk menyelesaikan masalah ini tetap menjadi prioritas utama, sembari terus berupaya menata kembali kondisi finansial klub agar lebih stabil dan berkelanjutan.



















