Angin Puting Beliung Terjang Banyumas, Ratusan Rumah Rusak Ringan hingga Berat
PURWOKERTO – Sore yang tenang di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, tiba-tiba berubah menjadi kepanikan mendalam ketika angin puting beliung menerjang pada Jumat (16/1) sore. Fenomena alam yang datang dalam hitungan menit ini meninggalkan jejak kerusakan pada ratusan rumah warga, menimbulkan kerugian materiil yang signifikan dan trauma mendalam.
Angin berputar kencang itu datang dari arah utara, tak memberi ampun, langsung mengangkat seng dan atap rumah warga hingga beterbangan tak beraturan. Suara gemuruh dan teriakan warga bercampur aduk, menciptakan suasana mencekam yang tak terlupakan.
Kesaksian Langsung dari Warga yang Terdampak
Slamet (60), seorang warga RT 3 RW 3 Desa Kotayasa, menceritakan detik-detik menegangkan saat bencana itu terjadi. Ia menggambarkan kejadian itu berlangsung sangat singkat namun dampaknya luar biasa.
“Seng terbawa angin semua. Angin datang dari arah utara, tiba-tiba sudah lihat ada seng berterbangan. Anginnya sangat kencang berputar gitu,” ujar Slamet dengan nada masih terguncang, Sabtu (17/1) pagi.
Menurut penuturan Slamet, awal mula kejadian ditandai dengan munculnya pusaran angin yang jelas terlihat dari arah utara. Warga yang menyadari bahaya segera keluar rumah, berteriak memperingatkan tetangga lainnya.
“Awal-awal pada lihat ada pusaran angin dari utara. Kita keluar rumah sambil teriak ke warga lain. Paling parah itu atap-atap rumah berterbangan,” katanya, menggambarkan kepanikan yang melanda.
Peristiwa mengerikan ini terjadi sekitar pukul 17.30 WIB, tepat saat senja mulai menjelang. Pada saat kejadian, Slamet dan keluarganya masih berada di dalam rumah. Beruntung, mereka tidak mengungsi ke pos pengungsian, melainkan hanya berpindah sementara ke rumah tetangga dan sanak saudara yang dianggap lebih aman. Mengenai perkiraan kerugian, Slamet mengaku belum dapat menghitungnya secara pasti. Untuk sementara waktu, fokus utamanya adalah memperbaiki atap rumahnya yang rusak parah.
Kesaksian serupa datang dari Dila (24), warga RT 5 RW 3 Desa Kotayasa. Ia menyebutkan bahwa angin puting beliung muncul sekitar pukul 17.00 WIB lebih, disertai dengan hujan yang tidak terlalu deras.
“Kaya hujan batu, lalu atap saya seperti mau lepas. Terus angin itu muter di depan rumah saya besar banget, sekitar lima menit lebih,” ujar Dila, menceritakan pengalaman mengerikannya.
Dila menjelaskan bahwa angin berputar tepat di depan rumahnya, bergerak dari arah utara sebelum akhirnya menghilang ke arah selatan. Setelah kejadian, seng-seng atap rumah warga berserakan di sepanjang jalan, menjadi saksi bisu keganasan angin tersebut.
“Waktu kejadian itu hujan tapi nggak begitu besar. Angin datang dari arah utara, terus hilang ke arah selatan. Abis kejadian seng berserakan di jalan,” katanya.
Saat peristiwa berlangsung, Dila memilih untuk tetap bertahan di dalam rumah bersama ibu dan anaknya yang masih kecil karena rasa takut untuk keluar.
“Saya bertahan di dalam rumah karena takut, bareng sama ibu dan anak saya masih kecil. Ini baru pernah kejadian yang anginnya sampai besar banget,” tuturnya.
Rumah Dila sendiri hanya mengalami kerusakan ringan pada bagian seng depan. Namun, rumah yang berada tepat di depannya mengalami kerusakan yang cukup parah, dengan atap yang terlepas seluruhnya.
“Rumah saya sih cuma kena seng depannya saja, tidak begitu parah. Yang parah depan rumah saya itu atapnya lepas semua,” ucapnya.
Data Kerusakan dan Penanganan Bencana
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan, merilis data sementara mengenai jumlah rumah yang terdampak angin puting beliung di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang.
RW 03:
- RT 11: 17 Kepala Keluarga (KK)
- RT 03: 29 KK
- RT 02: 29 KK
- RT 04: 43 KK
- RT 05: 35 KK
- RT 01: 3 KK
- Total terdampak di RW 03: 156 KK
RW 05:
- RT 07: 9 KK
- RT 01: 4 KK
- Total terdampak di RW 05: 13 KK
“Jumlah total rumah rusak mencapai 169 rumah,” kata Dwi Irawan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 165 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara empat rumah lainnya dilaporkan mengalami rusak berat.
Camat Kecamatan Sumbang, Hermawan Novianto, menyatakan bahwa pascakejadian puting beliung, pihaknya langsung menggelar apel siaga bencana pada Sabtu pagi.
“Kejadian puting beliung paling hanya lima menit, tapi karena cuaca dan daerah titik tertinggi yang dilintasi angin, dampaknya cukup besar,” ujar Hermawan, menekankan dampak kerusakan yang signifikan meskipun durasi singkat.
Ia memastikan bahwa tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut. Kerusakan yang terjadi didominasi oleh atap dan seng rumah warga yang terlepas dan beterbangan.
“Tidak ada yang terluka, tapi atap atau sengnya berterbangan,” katanya.
Hermawan menambahkan bahwa tidak ada warga yang terpaksa mengungsi ke pos pengungsian. Namun, tercatat sebanyak 69 kepala keluarga memilih untuk mengungsi sementara ke rumah saudara, mencari perlindungan dan kenyamanan di tengah kondisi pasca-bencana.
“Tidak ada yang mengungsi, hanya 69 KK mengungsi ke tempat saudara,” jelasnya.
Antisipasi Bahaya Lanjutan dan Bantuan
Untuk mengantisipasi potensi bahaya lanjutan, pada Jumat malam dilakukan pemadaman listrik di wilayah yang terdampak. Langkah ini diambil karena ditemukan sejumlah kabel listrik yang terlepas akibat terjangan angin.
“Semalam juga dilakukan pemadaman listrik karena kabel-kabel juga ada yang terlepas untuk meminimalisir strum listrik,” ucap Hermawan, menjelaskan alasan di balik keputusan pemadaman listrik.
Menanggapi situasi ini, BPBD Banyumas akan segera menyiapkan dapur umum lapangan untuk membantu memenuhi kebutuhan makanan warga terdampak.
“Akan dibuat dapur umum lapangan yang disiapkan BPBD Banyumas untuk warga,” katanya, memastikan bantuan logistik akan segera disalurkan.
Hermawan juga menyebutkan bahwa kejadian puting beliung di wilayah pegunungan sebenarnya bukan hal yang baru. Namun, dampak kerusakan rumah yang separah di Desa Kotayasa baru kali ini dirasakan oleh warga.
“Kejadian puting beliung area wilayah pegunungan sudah banyak terjadi, tapi kalau terdampak baru kali ini. Kalau kemarin-kemarin kan hanya pohon tumbang,” terangnya, membandingkan intensitas kejadian di masa lalu dengan yang baru saja terjadi. Kejadian ini menjadi pengingat akan kekuatan alam dan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.



















