Kegiatan Donasi untuk Mualaf di Pegunungan Meratus
Rieswan Tirtana, seorang warga Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), sedang menyiapkan perlengkapan salat dan Al-Qur’an untuk dibawa ke Pegunungan Meratus, Kecamatan Loksado. Perlengkapan ini merupakan donasi dari berbagai warga yang dikumpulkan untuk diserahkan kepada para mualaf di Desa Ulang. Rieswan, yang merupakan anggota Polri dengan pangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) di Polres HSS, dikenal sebagai salah satu warga yang peduli terhadap perkembangan para mualaf di wilayah tersebut.
Kali ini, Rieswan berangkat sendirian menggunakan sepeda motor. Sebelumnya, penyaluran donasi dilakukan bersama rombongan. Pada kesempatan sebelumnya, bantuan disampaikan kepada mualaf di Dusun Aitih, Desa Kamawakan. Aksi Rieswan ini merupakan inisiatif pribadi yang dimulai empat tahun lalu setelah ia mendengar cerita para da’i di pedalaman Loksado.
“Dari situ, hati tergerak untuk membantu para da’i dan mualaf. Awalnya saya membuka donasi berupa pakaian layak pakai, keperluan salat, Al-Qur’an dan sebagainya. Ini disambut baik oleh teman-teman dan warga,” ujarnya pada Kamis (16/4).
Rieswan yang tergabung dalam Relawan HSS Bersatu dan Forum Majelis Taklim HSS ini merupakan bagian dari langkah lanjutan yang pernah dijalankan sejumlah pendakwah. Beberapa da’i yang terlibat antara lain Habib Sayyid Abdussalam bin Al Kaff selaku promotor dakwah di Meratus, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Loksado Mahyudi, serta Ali Sadikin, koordinator pembangunan musala di Aitih.
Seiring berjalannya waktu dan antusiasme donatur, akhirnya kembali dibuka donasi kedua. Barang-barang seperti pakaian, sarung, mukena, dan Al-Qur’an kemudian diserahkan kepada mualaf di Ulang. Di Loksado, terdapat beberapa desa yang menjadi tempat tinggal para mualaf, yaitu Ulang, Loksado, Loklahung, Kamawakan, Haratai, Tumingki, Halunuk, Hulu Banyu, dan Malinau, dengan jumlah sekitar 300 orang. Lokasi-lokasi ini secara bergiliran menjadi sasaran Rieswan.
Namun, karena menggunakan sepeda motor, ada keterbatasan dalam pengiriman bantuan. “Saya menggunakan sepeda motor karena hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Selain itu, perlu memperhatikan cuaca dan sebagainya. Itupun hanya satu atau dua paket. Bila bisa dilintasi mobil, tentu lebih banyak dan mudah,” jelasnya.
Sulitnya perjalanan terbayarkan oleh kebahagiaan melihat para mualaf tersenyum karena merasa diperhatikan. Misalnya, saat menyalurkan donasi di Musala Al-Ikhwan Desa Ulang yang baru saja dibangun dengan ukuran 3×5 meter persegi. Ketersediaan Al-Qur’an dan buku Iqra masih terbilang sedikit, begitu pula dengan da’inya.
Hal ini kembali diutarakan Rieswan kepada teman-temannya untuk penggalangan donasi. Salah satu tujuannya adalah untuk penempatan santri guna menjadi imam saat Ramadan. Kerja sama dengan pondok pesantren juga dapat dilakukan.
Semua ini dilakukan Rieswan dengan penuh kegembiraan. Dia juga bisa menikmati perjalanan dan suasana alam pegunungan selepas tugasnya sebagai anggota Polri. Kendala di lapangan, lebih kepada fasilitas jalan menuju lokasi. Khususnya di Dusun Aitih, Desa Kamawakan, yang masih banyak lubang, serta Desa Ulang yang mengalami kesulitan akses roda empat ketika berpapasan.
Rieswan, yang juga aktif sebagai Ketua Harian Relawan HSS Bersatu setiap momentum 5 Rajab di Sekumpul, Martapura, Kabupaten Banjar, tetap semangat dalam menjalani kegiatan sosial ini. Kepedulian dan dedikasinya memberikan dampak positif bagi masyarakat yang kurang mampu di daerah terpencil.



















