Rahasia IQ 137 Felcia: Belajar ala Siswi SMP Bandung

Diposting pada

Menggali Potensi Diri: Kisah Felcia Kinsey, Remaja dengan IQ 137

Di tengah tumpukan buku sejarah yang menguning dan coretan angka yang memenuhi buku catatan, Felcia Kinsey Alzena Gari Setiawan menemukan jati dirinya. Di balik parasnya yang tenang dan sorot matanya yang teduh, siswi kelas VII Bilingual Taruna Bakti Bandung ini menyimpan keistimewaan yang jarang dimiliki oleh anak seusianya. Siapa sangka, gadis berwajah manis ini dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata, dengan skor IQ mencapai 137. Hasil ini menempatkannya dalam kategori Anak Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa (CIBI).

Anak-anak CIBI dikenal memiliki kematangan psikologis yang lebih baik. Mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam menempatkan diri saat berkomunikasi, beradaptasi dengan berbagai situasi, dan mengelola waktu secara bijak. Dalam ranah akademik, mereka memiliki pemahaman mendalam tentang kapan waktu yang tepat untuk belajar, kapan harus terlibat dalam kegiatan organisasi, atau sekadar menikmati momen kebersamaan dengan teman-teman.

Rasa Ingin Tahu yang Tak Terpadamkan

Felcia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan teliti, sebuah karakteristik yang ia tunjukkan baik dalam bidang akademik maupun seni. Kemampuannya dalam memecahkan masalah (problem solving) juga berada di atas rata-rata teman sebayanya.

Tidak hanya menorehkan segudang prestasi akademik, Felcia juga aktif berkontribusi di sekolahnya sebagai sekretaris OSIS. Perannya ini menunjukkan kemampuannya dalam manajemen diri dan kepemimpinan organisasi.

Saat ditemui, Felcia memancarkan semangat belajar yang tinggi. Ia memiliki cara unik dalam menikmati setiap proses pembelajaran. “Pelajaran yang paling saya sukai adalah yang berhubungan dengan hitung-hitungan, seperti matematika, dan kadang-kadang sejarah,” ujarnya sambil tersenyum ramah. “Matematika itu rasanya seperti kita sedang mencari sebuah jawaban. Ketika jawaban itu ditemukan, rasanya puas sekali. Kita juga menggunakan logika saat berhitung. Saya memang suka berhitung,” tambahnya.

Mengelola Kebosanan dan Menemukan Ketenangan Batin

Meskipun menyukai tantangan, Felcia tidak menutup diri dari perasaan jenuh atau bosan. “Kadang memang merasa bosan, tapi terkadang juga tidak. Kebosanan itu biasanya muncul ketika saya mendengarkan materi pelajaran begitu saja,” katanya dengan polos.

Bagi Felcia, cara terbaik untuk mengatasi kebosanan bukanlah dengan berhenti belajar, melainkan dengan memberikan jeda dan waktu untuk dirinya sendiri. “Biasanya saya akan beristirahat sejenak, lalu melanjutkan kembali. Selain itu, saya juga suka mencatat,” ucapnya.

Menariknya, kebiasaan mencatat ini bukan hanya dilakukan ketika guru memberikan instruksi. Ia kerap menulis atas inisiatif sendiri dan bahkan memiliki buku catatan khusus untuk mata pelajaran. “Ya, saya punya buku harian atau catatan khusus untuk mata pelajaran,” ujarnya ringan. Kebiasaan ini membantunya untuk tetap fokus di kelas dan meningkatkan daya ingat terhadap materi pelajaran. “Kalau di kelas, ya saya mendengarkan guru. Kadang disuruh mencatat, tapi kalau tidak disuruh pun, saya terkadang mencatat sendiri,” katanya.

Sosialisasi dan Dinamika Dunia Remaja

Terkait dengan urusan pergaulan, Felcia merasa nyaman dengan lingkungan sekolahnya. “Sejauh ini baik-baik saja, belum pernah ada konflik antar teman. Di Taruna Bakti, muridnya sangat banyak, jadi kita bisa bersosialisasi dengan banyak orang. Murid-muridnya juga baik dan mudah untuk diajak bersosialisasi,” tuturnya. Ia tersenyum tulus saat menambahkan, “Senang sekali bisa berteman di sini.”

Di sela-sela kesibukannya dalam belajar, Felcia tetap menyempatkan diri untuk bersenang-senang bersama teman-temannya. “Biasanya kami hanya mengobrol saja, bisa tentang apa saja, kadang juga kami membahas pelajaran,” ujarnya.

Belajar Menjadi Diri Sendiri dengan Segala Kelebihan dan Kekurangan

Felcia mengakui bahwa ia tidak memiliki banyak hobi di luar kegiatan akademik. Sejak kecil, fokusnya lebih banyak diarahkan pada kegiatan belajar. “Hobi saya lebih ke arah akademik,” katanya sambil tertawa kecil. Dulu, ia sempat belajar piano, namun saat ini lebih banyak mengikuti bimbingan belajar (bimbel) dan kursus bahasa Inggris. Meskipun demikian, Felcia tetap tahu cara menikmati waktunya.

“Kalau di sekolah, saya menyenangkan diri dengan bermain bersama teman. Saya senang bersosialisasi, mengobrol dengan teman,” katanya. Ketika ditanya apakah ia pernah dijauhi oleh teman-temannya karena kepintarannya, ia menjawab dengan bijak, “Tidak pernah sih. Kita semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi ya kita saling melengkapi saja,” ucapnya.

Berbicara mengenai masa depan, Felcia tidak memiliki cita-cita yang muluk atau terlalu tinggi. Di balik kecerdasannya yang luar biasa, ia hanya menginginkan satu hal yang sederhana namun penuh makna. “Harapan saya, saya bisa membanggakan orang tua saja,” tutupnya dengan senyum penuh harap.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan