Suara Duka dari Sumatera Menggema di Panggung Seni Melbourne
Panggung seni eksperimental di Melbourne baru-baru ini menjadi saksi bisu sekaligus ruang ekspresi yang kuat untuk menyuarakan krisis lingkungan yang mendalam di Sumatera, Indonesia. Melalui sebuah pertunjukan yang memukau berjudul “Sounds from Sumatera in Melbourne” dalam program Inter.Sonix 06, yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba Liquid Architecture (LA), seniman suara asal Indonesia, Rani Jambak, membawa pesan duka dan kritik ekologis yang tajam kepada audiens internasional pada Desember 2025 lalu.
Program Inter.Sonix, yang secara khusus berfokus pada praktik sonik dari kawasan Asia Tenggara, memberikan Rani Jambak sebuah platform berharga untuk menyuarakan keprihatinannya dengan kejujuran yang mendalam dan tanpa pretensi netralitas. “Saya tidak datang membawa kegembiraan, saya datang membawa kabar duka dari Sumatera,” ujar Rani kepada para penonton yang hadir di Miscellania, sebuah ruang seni di kawasan CBD Melbourne.
Pertunjukannya, yang menampilkan serangkaian karya artistik seperti Kincia Aia, Regang, dan Joget Sumatera, lebih dari sekadar eksplorasi bunyi elektronik dan ritmis semata. Ini adalah narasi sonik kolektif yang secara gamblang menyoroti dua tragedi besar yang melanda Sumatera. Pertama, adalah konflik ekologis terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru yang mengancam habitat Orangutan Tapanuli, spesies yang terancam punah. Kedua, adalah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang tragis, yang merenggut lebih dari seribu nyawa di Sumatera Utara pada akhir November 2025.
“Di sini, suara tidak harus netral. Ia boleh sedih, marah, dan berpihak,” tegas Rani, menekankan bahwa seni suara yang ia tampilkan adalah medium untuk menyampaikan emosi dan kepedulian yang mendalam terhadap isu-isu yang dihadapi tanah kelahirannya.
Sebelum pertunjukan utama, Rani Jambak juga terlibat dalam sebuah diskusi publik yang mendalam bertajuk Li( )stening Exchange, Sonic Heritage di CY Space pada tanggal 9 Desember. Dalam forum tersebut, ia membagikan perjalanan artistiknya yang kaya, termasuk inspirasi yang ia dapatkan dari filosofi hidup berkelanjutan masyarakat Aborigin Gunditjmara. Pengalaman ini ia dapatkan bertahun-tahun lalu saat berkunjung ke Melbourne Museum. “You should never take more than you need.” Kalimat sederhana namun penuh makna ini, menurut Rani, begitu menyentak dirinya.
Ia membandingkan filosofi hidup yang menghargai keseimbangan alam tersebut dengan praktik eksploitasi sumber daya alam yang masif di Sumatera. Dalam forum yang sama, Rani juga memperkenalkan Kincia Aia, sebuah instrumen bunyi ciptaannya yang terinspirasi dari kincir air tradisional Minangkabau. Instrumen ini bukan hanya sebuah karya seni, tetapi juga menjadi simbol dari arsip pengetahuan lokal dan etika lingkungan yang seharusnya dijaga.
Karya yang paling sarat muatan politis dan emosional dalam rangkaian pertunjukannya adalah Regang. Komposisi ini secara lugas merujuk pada napas terakhir. Kolaborasi awal Rani dengan desainer Toton Januar, karya ini terinspirasi oleh sejarah Sumatera yang pernah dikenal sebagai Swarnadwipa (Pulau Emas), namun kini “sedang meregang nyawa” akibat kerusakan ekologis yang parah. Melalui lapisan-lapisan bunyi yang intens dan mencekam, Rani mengangkat isu kegagalan perlindungan lingkungan dan tekanan ekstrem yang dihadapi oleh Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera. Kawasan yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO ini bahkan sejak tahun 2011 telah masuk dalam daftar “dalam bahaya”.
“Dengan berbagai cara dan beragam media, dunia harus tahu bahwa Sumatera sedang memanggil dan napasnya semakin pendek,” ungkapnya dengan nada prihatin namun penuh tekad.
Berbagi panggung dengan musisi internasional ternama seperti RP Boo (berasal dari Chicago) dan Will Guthrie (berasal dari Australia), penampilan Rani Jambak menjadi sebuah bentuk advokasi yang unik dan inovatif. Ia berhasil mengubah kekalahan dalam perjuangan aktivisme, duka kolektif yang dirasakan masyarakat, dan pengalaman personalnya menjadi sebuah kritik publik yang bergema secara global. Momen ini semakin relevan mengingat pada saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia sedang menghentikan sementara operasi sejumlah perusahaan di kawasan Batang Toru untuk melakukan audit lingkungan.
“Kalau hutan tidak lagi punya suara, biarlah musik yang berbicara,” pungkas Rani, menegaskan kembali peran vital seni sebagai medium untuk membangkitkan kesadaran.
Melalui pertunjukan ini, seni suara kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai bentuk hiburan semata, tetapi sebagai kekuatan kritis yang mampu membawa isu-isu lokal yang kompleks ke dalam percakapan seni dunia. Hal ini mendesak perhatian dan tanggapan yang serius terhadap krisis ekologis yang sedang berlangsung.
Tantangan Lingkungan Sumatera: Sebuah Potret Seni Suara
Sumatera, pulau yang kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya, kini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin serius. Krisis yang terjadi tidak hanya berdampak pada ekosistemnya yang rapuh, tetapi juga pada kehidupan masyarakat yang bergantung padanya. Seniman seperti Rani Jambak menggunakan medium seni suara untuk merefleksikan dan mengkomunikasikan urgensi masalah ini kepada khalayak yang lebih luas.
Konflik Ekologis di Batang Toru
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru menjadi salah satu isu sentral yang diangkat oleh Rani Jambak. Pembangunan infrastruktur ini dikhawatirkan akan mengancam habitat Orangutan Tapanuli, spesies primata yang populasinya sangat terbatas dan terancam punah. Kepedulian terhadap nasib orangutan ini mencerminkan kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi spesies yang rentan.
- Ancaman terhadap Habitat: Pembangunan PLTA seringkali memerlukan pembukaan lahan yang luas, yang dapat menyebabkan fragmentasi habitat dan hilangnya tempat tinggal bagi satwa liar.
- Dampak pada Keanekaragaman Hayati: Hilangnya habitat dapat menyebabkan penurunan populasi berbagai spesies, bahkan kepunahan jika tidak ada upaya konservasi yang memadai.
- Peran Seni dalam Advokasi: Seni suara, seperti yang ditampilkan oleh Rani Jambak, dapat menjadi alat yang kuat untuk membangkitkan empati dan kesadaran publik terhadap isu-isu lingkungan seperti ini.
Bencana Alam dan Perubahan Iklim
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara pada akhir tahun 2025 adalah pengingat tragis akan kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana alam. Perubahan iklim dan praktik pengelolaan lingkungan yang buruk seringkali menjadi faktor yang memperburuk dampak bencana ini.
- Penyebab Bencana: Deforestasi, perubahan tata guna lahan, dan curah hujan ekstrem yang meningkat merupakan beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam.
- Dampak Kemanusiaan: Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian materiil yang besar, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan penderitaan yang mendalam bagi masyarakat.
- Keterkaitan dengan Seni: Karya seni yang mengeksplorasi tema duka dan kehilangan dapat membantu masyarakat memproses trauma dan mendorong refleksi tentang perlunya tindakan pencegahan.
Filosofi Keberlanjutan dan Kearifan Lokal
Inspirasi Rani Jambak dari filosofi masyarakat Aborigin Gunditjmara, “You should never take more than you need,” menyoroti pentingnya mengadopsi pola hidup yang berkelanjutan. Kearifan lokal seringkali mengandung pelajaran berharga tentang bagaimana hidup harmonis dengan alam.
- Prinsip Konservasi: Filosofi ini menekankan pentingnya tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan demi kelestarian jangka panjang.
- Harmoni dengan Alam: Banyak budaya asli memiliki pemahaman mendalam tentang ekosistem lokal dan praktik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
- Pelajaran untuk Masa Depan: Mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kebijakan pembangunan modern dapat menjadi kunci untuk mengatasi krisis lingkungan saat ini.
Melalui seni suara, Rani Jambak tidak hanya menyajikan sebuah pertunjukan artistik, tetapi juga sebuah seruan. Ia mengajak dunia untuk mendengarkan suara Sumatera yang memanggil, suara yang semakin lemah akibat kerusakan lingkungan. Dengan menggunakan platform seni internasional, ia berhasil membawa isu-isu krusial ini ke dalam percakapan global, mendorong kesadaran, dan menginspirasi tindakan nyata untuk melindungi warisan alam Indonesia yang berharga.




















