Renungan Harian Kristen: Bangunlah, Mari Kita Pergi
Pembacaan Alkitab hari ini terdapat di Markus 14:42. Ayat tersebut berbunyi, “Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.” Dari ayat ini, kita dapat memahami pesan yang disampaikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya saat mereka sedang tertidur di taman Getsemani.
Khotbah hari ini dengan tema “Bangunlah, Mari Kita Pergi” mengajak kita untuk merenungkan bagaimana Yesus Kristus menghadapi situasi yang sangat berat. Di tengah rasa takut dan kecemasan, Ia tetap menunjukkan keteguhan dan keberanian. Kehendak Bapa yang jauh lebih baik dari keinginan-Nya sendiri menjadi dasar bagi tindakan-Nya. Ini menjadi contoh bagi kita dalam menjalani hidup sebagai orang percaya.
Dalam kisah ini, kita melihat bahwa Yesus tidak hanya berdoa, tetapi juga bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketika para murid tertidur, Yesus membangunkan mereka dengan seruan tegas, “Bangunlah!” (egeiresthe). Seruan ini menunjukkan pentingnya kesadaran dan kesiapan dalam menghadapi tantangan hidup.
Bagi keluarga Kristen, kisah ini menjadi refleksi penting dalam menghayati minggu sengsara. Penghayatan sengsara Yesus Kristus bukan hanya sebatas ibadah, tetapi juga harus terwujud dalam kesigapan kita mendengarkan seruan Tuhan. Namun, di era modern ini, banyak hal yang bisa mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Misalnya, kecanggihan teknologi seperti AI (Artificial Intelligence) sering kali membuat kita lupa akan suara Tuhan.
Kadangkala, ketegasan suara Tuhan yang membangunkan kita dari keimanan yang lemah, atau dari pemberian diri yang setengah hati, teralihkan oleh berbagai aplikasi digital. Hal ini juga berlaku pada orangtua yang terlalu mengandalkan informasi dari AI, Chat GPT, atau aplikasi lainnya, alih-alih memberikan pengalaman hidup dan nilai-nilai iman langsung kepada anak-anak.
Lebih menyedihkan lagi, ketika orangtua tidak terus meningkatkan kualitas diri demi kebutuhan anak-anak. Mereka menyerahkan kehausan anak-anak akan hikmat dan pengetahuan kepada sumber-sumber digital, tanpa menyadari bahwa pengalaman hidup bersama anak-anak, serta perjuangan dan dukungan dari Tuhan, adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, kita diingatkan bahwa pengalaman hidup bersama anak-anak, serta hubungan emosional dan batin yang kuat, adalah sumber hikmat yang tak ternilai. Pengalaman-pengalaman ini bisa membantu anak-anak menghadapi tantangan dunia sambil tetap menjaga iman mereka.
Doa hari ini berisi permohonan kepada Tuhan Allah agar kita mampu bertahan dan berkomitmen menjadikan keluarga dan gereja sebagai sumber hikmat dan pengetahuan. Kita berdoa agar iman yang dianugerahkan Tuhan dapat membantu kita untuk tetap fokus pada-Nya, meskipun dunia terus berubah dengan cepat.
Ya Tuhan Allah, dalam dunia yang terus berubah, kiranya iman yang Engkau anugerahkan pada kami menolong untuk mampu bertahan dan berkomitmen menjadikan keluarga dan gereja-Mu sebagai sumber hikmat dan pengetahuan; sebagai rumah kemurahan-Mu bagi semua anggota keluarga, dalam nama Yesus Kristus, Amin.



















