Misi Harga Diri Sriwijaya FC di Kandang Persiraja: Optimisme di Tengah Degradasi
Malam ini, Sabtu (28/3/2026), Stadion H. Dimurthala di Banda Aceh akan menjadi saksi bisu perjuangan Sriwijaya FC menghadapi tuan rumah Persiraja. Meskipun status degradasi ke Liga 3 telah dipastikan, semangat juang “Laskar Wong Kito” tidak padam. Tim bertekad untuk mencuri tiga poin krusial, sebuah misi harga diri di akhir kompetisi Pegadaian Championship 2025/26.
Optimisme ini tak hanya datang dari para pemain dan staf pelatih, tetapi juga digaungkan oleh kelompok suporter setia, Sriwijaya Mania. Ketua Umum Sriwijaya Mania, Eddy Ismail, menyatakan komitmen penuh untuk terus mendukung tim kesayangannya, bahkan ketika harus berkompetisi di kasta yang lebih rendah musim depan.
“Mantap kalau memang pelatih Sriwijaya FC sudah optimistis seperti itu,” ujar Eddy Ismail, menanggapi keyakinan tim pelatih untuk meraih kemenangan perdana di Stadion H. Dimurthala. Ia menambahkan bahwa terlepas dari hasil akhir musim ini, para pemain telah berusaha keras untuk menjaga nama baik klub.
“Pastinya kami selaku suporter mendukung dan mendoakan agar di pertandingan malam nanti Sriwijaya FC bisa meraih poin penuh,” katanya.
Loyalitas Tanpa Batas Sriwijaya Mania
Komitmen Sriwijaya Mania untuk mendukung Sriwijaya FC bukanlah sekadar ucapan. Eddy Ismail menegaskan bahwa kelompok suporter ini akan senantiasa mengawal “Elang Andalas” di setiap langkahnya.
“Kami, Sriwijaya Mania, berkomitmen untuk selalu mendukung Sriwijaya FC. S-Man akan senantiasa mengawal agar Sriwijaya FC tetap eksis, meski harus menjalani kompetisi Liga 3 2026/27 nanti,” tegas Eddy Ismail.
Loyalitas ini akan terus ditunjukkan dalam enam laga sisa putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/26. “Loyalitas kami sebagai suporter tidak akan pernah mati. Kami akan tetap mengawal Sriwijaya FC meski nantinya berada di Liga 3. Sriwijaya Mania ini ada karena Sriwijaya FC ada,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Perang Urat Saraf: Taktik Jitu Sang Pelatih
Di kubu Sriwijaya FC, pelatih kepala Iwan Setiawan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Ia bahkan tak segan melontarkan pernyataan yang dapat memicu perang urat saraf terhadap tuan rumah.
“Aura Persiraja hebat di Lampineung saya lihat sudah menurun. Persiraja sering kehilangan poin di Lampineung, jadi hari ini saya akan mempertahankan tradisi itu,” ujar Coach Iwan Setiawan, yang secara terbuka meragukan keangkeran Stadion Lampineung yang selama ini menjadi kebanggaan Persiraja.
Asisten Pelatih Sriwijaya FC, Cipta Adikodrati, yang akrab disapa Coach Joe Barry, membenarkan adanya persiapan taktik khusus. “Sebenarnya kami lebih fokus pada pemulihan fisik dan peningkatan kondisi pemain. Secara taktikal, kebetulan Ayah (sapaan akrab Iwan Setiawan) sempat berada di Aceh beberapa waktu sebelum Lebaran dan memantau beberapa pertandingan persahabatan Persiraja di sana,” ungkap Coach Joe Barry.
Pemantauan langsung oleh Coach Iwan Setiawan inilah yang menjadi modal utama Sriwijaya FC. Ia telah mengantongi beberapa pemain kunci Persiraja dan pola permainan mereka.
- Identifikasi Pemain Kunci: Tim pelatih telah mengidentifikasi pemain-pemain yang dianggap krusial bagi Persiraja.
- Analisis Pola Permainan: Skema permainan tuan rumah telah dipelajari secara mendalam.
- Eksplorasi Kelemahan: Sriwijaya FC akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengeksploitasi celah dan kelemahan yang dimiliki Persiraja.
“Ayah sudah mengantongi beberapa pemain kunci mereka dan bagaimana cara mereka bermain. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengeksploitasi celah serta kelemahan Persiraja nanti,” ujar Coach Joe Barry.
Posisi “Nothing to Lose” Jadi Keuntungan
Direktur Olahraga PT SOM (Sriwijaya Optimis Mandiri), Anggoro Prajesta, turut menyuarakan optimismenya. Ia yakin Sriwijaya FC mampu membawa pulang poin dari markas “Laskar Rencong”.
“Setelah Lebaran, kita akan mencoba mencuri poin dari Persiraja Banda Aceh. Saat ini posisi kita nothing to lose, jadi pemain pasti tampil lebih lepas dan tanpa tekanan. Skuad Sriwijaya FC di putaran ketiga ini akan tampil berbeda,” tegas Anggoro.
Anggoro membandingkan gaya kepelatihan Iwan Setiawan dengan pelatih kelas dunia, Jose Mourinho. Ia meyakini bahwa taktik jitu yang dipadukan dengan semangat juang tanpa beban akan menjadi kunci kemenangan.
“Papan atas bisa kalah oleh papan bawah, jangan salah. Apalagi pelatih kita (Iwan Setiawan) memiliki gaya seperti Mourinho, bisa dibilang ‘Mourinho-nya Indonesia’. Namun, taktik itu tentu harus ditunjang dengan kondisi fisik yang prima,” pungkasnya.
Pertandingan malam ini bukan hanya tentang tiga poin, tetapi juga tentang pembuktian bahwa Sriwijaya FC masih memiliki taji, bahkan di saat-saat terberat sekalipun. Dukungan penuh dari suporter dan strategi matang dari tim pelatih diharapkan mampu mengantarkan “Laskar Wong Kito” meraih hasil positif.
















