Jejak Pemikiran Bertrand Russell: Peringatan Dini tentang Takhayul Sains dan “The Great Reset”
JAKARTA – Di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi, sebuah ironi besar mulai membayangi peradaban modern. Sains yang awalnya diciptakan untuk membebaskan manusia dari belenggu takhayul, kini justru berpotensi melahirkan bentuk takhayul baru yang lebih halus, sistemik, dan berpotensi lebih berbahaya: keyakinan bahwa manusia dapat dan berhak melampaui batas kemanusiaan itu sendiri. Dalam konteks ini, pemikiran Bertrand Russell, seorang filsuf dan matematikawan terkemuka abad ke-20, menjadi relevan untuk dikaji ulang dengan kewaspadaan tinggi.
Russell dikenal bukan karena gaya propaganda, melainkan karena ketenangan logikanya. Justru dalam rasionalitas inilah letak potensi bahayanya; gagasan-gagasan radikal disampaikan dengan nada yang begitu tenang, seolah-olah merupakan kesimpulan logis yang tak terbantahkan.
Dari Optimisme Ilmiah Menuju Rekayasa Kehidupan
Dalam karyanya yang terbit pada tahun 1931, The Scientific Outlook, Russell memproyeksikan masa depan yang penuh optimisme ilmiah. Ia percaya bahwa sains akan mampu mengatasi segala keterbatasan alam, termasuk masalah pangan dan ledakan populasi. Konsep seperti pupuk sintetis, makanan buatan, dan pertanian industri dipandang sebagai solusi jitu untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia yang terus meningkat.
Namun, Russell tidak berhenti pada solusi teknis untuk memberi makan manusia. Ia menyelami pertanyaan yang lebih mendasar dan krusial: siapakah yang akan mengendalikan produksi pangan tersebut, dan untuk tujuan apa? Dalam pandangan Russell, pangan bukan lagi sekadar relasi antara manusia dan tanah, melainkan sebuah luaran dari sistem teknis. Tanah direduksi menjadi sekadar medium produksi, pupuk menjadi formula kimia, dan petani bertransformasi menjadi operator. Alam, dalam kerangka ini, tidak lagi dipandang sebagai anugerah ilahi, melainkan objek yang dapat dieksploitasi.
Dari perspektif fitrah, inilah awal mula retaknya amanah atas bumi. Ketika tanah dipaksa untuk terus berproduksi tanpa memperhatikan batas alaminya, ia memang akan memberikan hasil. Namun, secara perlahan, ruhnya akan terkikis. Dan manusia, tanpa disadari, akan kehilangan posisinya sebagai penjaga, lalu berubah menjadi penguras sumber daya.
Manusia sebagai Proyek Ilmiah: Pergeseran Ontologis
Dua dekade kemudian, dalam The Impact of Science on Society (1952), Russell melangkah lebih jauh, membahas teknologi bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai instrumen pembentuk manusia itu sendiri. Ia secara terbuka mengemukakan kemungkinan adanya pengkondisian psikologis massal, pendidikan yang berfungsi sebagai teknik penjinakan sosial, dan manipulasi biologis untuk menciptakan tipe manusia yang diinginkan.
Meskipun istilah “transhumanisme” belum dikenal luas saat itu, inti dari gagasan tersebut sudah sangat jelas: manusia tidak lagi diterima sebagaimana adanya, melainkan dianggap sebagai bahan mentah yang perlu dioptimalkan. Ini bukan sekadar persoalan teknologi DNA atau genetika, melainkan sebuah pergeseran ontologis mendasar. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang memiliki martabat inheren, melainkan sebagai sistem biologis yang dapat ditingkatkan, diperbaiki, atau bahkan diganti. Dalam logika ini, cacat fisik bukan lagi sebuah ujian kehidupan, melainkan kegagalan desain. Keterbatasan bukan lagi hikmah, melainkan sebuah “bug” yang harus diperbaiki. Dan kematian, yang merupakan batas eksistensi, dipandang sebagai masalah teknis yang harus diatasi.
Pendidikan: Dari Pencerahan Menjadi Alat Penjinakan
Salah satu aspek pemikiran Russell yang paling jujur sekaligus paling mengganggu adalah pandangannya mengenai pendidikan. Ia membayangkan sebuah masa depan di mana kemajuan ilmu psikologi dan neurologi memungkinkan negara atau segelintir elit ilmiah untuk membentuk opini publik dengan presisi tinggi, sehingga perlawanan terhadap kekuasaan menjadi tidak relevan.
Dalam skenario ini, pendidikan tidak lagi menjadi jalan menuju kebijaksanaan, melainkan sebuah alat untuk menstabilkan sistem. Manusia dididik bukan untuk bertanya “mengapa”, melainkan untuk menerima “bagaimana”. Konsekuensinya adalah munculnya generasi yang sangat terdidik dan rasional, namun berpotensi miskin hikmah dan kehilangan orientasi. Mereka mampu mengelola sistem yang kompleks, tetapi tidak lagi mampu mempertanyakan ke mana sistem tersebut sebenarnya membawa mereka. Inilah cikal bakal lahirnya teknokrat tanpa nurani—bukan karena niat jahat, melainkan karena mereka tidak pernah diajari untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna di balik tindakan mereka.
Benang Merah Menuju “The Great Reset”
Ketika dunia saat ini gempar membicarakan “The Great Reset”, banyak yang menganggapnya sebagai gagasan baru. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang konseptual, ia adalah kelanjutan logis dari optimisme teknokratis yang berkembang di abad ke-20. Narasi yang digaungkan oleh forum-forum global seperti World Economic Forum berangkat dari asumsi yang sangat Russellian: dunia adalah sebuah sistem, manusia adalah komponen di dalamnya, dan setiap krisis adalah peluang untuk melakukan rekayasa ulang.
Pandemi, krisis iklim, krisis pangan—semuanya dibingkai sebagai masalah teknis yang membutuhkan solusi teknis. Jarang sekali dipertanyakan adalah siapa perancang solusi tersebut, dan siapa yang pada akhirnya harus menyesuaikan diri. Dalam logika “reset” ini, manusia diminta untuk berubah lebih cepat daripada sistem yang justru menyebabkan mereka terluka. Mereka diminta untuk adaptif, fleksibel, dan patuh, sementara struktur kekuasaan tetap utuh, hanya berganti retorika.
Transhumanisme sebagai Syirik Modern
Dari perspektif tauhid, persoalan utama transhumanisme bukanlah teknologinya itu sendiri, melainkan klaim implisit yang menyertainya: bahwa manusia berhak mendefinisikan ulang hakikat kemanusiaannya tanpa merujuk pada Sang Maha Pencipta. Inilah yang dapat disebut sebagai bentuk syirik modern. Ia bukan lagi menyembah patung, melainkan menjadikan akal dan teknologi sebagai otoritas tertinggi. Bentuk syirik ini halus karena tidak secara frontal memusuhi agama, melainkan hanya menyingkirkannya sebagai sesuatu yang “tidak relevan”.
Padahal, Al-Qur’an tidak pernah menolak ilmu. Yang ditolak adalah ilmu yang lupa bersujud—ilmu yang tidak lagi mengenal batas, tidak lagi tahu diri, dan tidak lagi tunduk pada amanah.
Peringatan, Bukan Penolakan
Esai ini bukanlah seruan untuk menolak sains. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menyelamatkan sains dari potensi kesombongannya sendiri. Pemikiran Russell perlu dibaca, bukan untuk diikuti secara membabi buta, melainkan untuk dipahami sebagai sebuah tanda peringatan. Ia menunjukkan kepada kita ke mana arah peradaban akan berlayar jika ilmu dilepaskan dari etika, teknologi dilepaskan dari tauhid, dan kemajuan dilepaskan dari makna.
Peradaban tidak runtuh karena kekurangan kecerdasan, tetapi karena manusia lupa bahwa ia bukanlah Tuhan. Peradaban runtuh ketika manusia melampaui batasnya dan mengambil posisi yang bukan miliknya.
Di hadapan krisis global yang melanda saat ini, pilihan kita bukanlah antara sains atau iman. Pilihan yang ada adalah antara sains yang bersujud pada kebenaran yang lebih tinggi, atau sains yang membangun menara kesombongan baru. Perspektif fitrah menawarkan jalan tengah yang tegas: teknologi boleh terus berkembang, pangan boleh diproduksi secara efisien, kesehatan boleh ditingkatkan, tetapi manusia tetaplah manusia, tanah tetaplah amanah yang harus dijaga, dan ilmu harus selalu tahu batasannya.
Karena ketika manusia lupa untuk bersujud, apa yang ia sebut sebagai “kemajuan” sering kali hanyalah sebuah jalan memutar menuju kehancuran yang lebih rapi dan terorganisir.



















