, YOGYA – Rangkaian kejuaraan sepak bola putri bertajuk MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-stars 2026 sukses digelar
Tim All-stars Kudus berhasil mempertahankan gelar kampiun setelah melakoni pertarungan sengit di partai final kontra All-Stars Jakarta dengan skor akhir 0-0 (4-3) lewat drama adu penalti di Supersoccer Arena, Kudus, Minggu (28/6/2026.
Sementara keberuntungan belum berpihak pada tim All-Stars Yogyakarta yang harus rela tersingkir seusai kalah dengan Surabaya yang meraih podium ketiga.
Kabar baik muncul seusai gelaran sepakbola putri kelompok umur ini selesai.
Sebanyak 34 pemain terbaik akan dikirim ke Singapura untuk menjalani kompetisi.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir mengapresiasi seluruh pihak yang telah menghadirkan MilkLife Soccer Challenge sebagai wadah pembinaan sepak bola putri di Indonesia.
Menurutnya turnamen ini bukan sekadar kompetisi, tapi langkah nyata membangun masa depan sepak bola putri yang lebih inklusif dan berprestasi.
“PSSI telah menyiapkan blueprint 10 tahun menuju Piala Dunia Wanita 2035. Sekarang, kita tidak lagi hanya bicara rencana, tapi sudah bergerak dengan aksi nyata melalui program dan kompetisi seperti MilkLife Soccer Challenge. Kemajuan ini hanya bisa tercapai lewat kolaborasi antara pemerintah, swasta, komunitas, sekolah, dan orang tua. MilkLife Soccer Challenge sudah jadi contoh nyata kolaborasi tersebut,” ujar Erick.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono mengatakan pertandingan dari fase grup hingga babak puncak MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 berjalan begitu sengit, hal ini menandakan perkembangan kemampuan pesepakbola putri usia dini yang kian merata.
Capaian ini tak lepas dari upaya untuk terus menumbuhkan ekosistem sepak bola putri Indonesia agar terus bergeliat melalui turnamen yang diselenggarakan secara berjenjang dan berkesinambungan.
Guna menyaring lebih banyak lagi talenta pesepakbola putri Tanah Air, musim depan MilkLife Soccer Challenge melakukan ekspansi dengan penambahan kota penyelenggaraan, yakni Jayapura, Garut, serta Jakarta yang dibagi dua regional (Jakarta Timur dan Jakarta Utara).
“Musim ini kami melihat perkembangan yang sangat positif yang terlihat dari pertandingan berlangsung lebih kompetitif mulai fase grup hingga final, kualitas permainan, semangat dan mental mereka meningkat, kemampuan antar peserta pun kian berimbang,” ujarnya.
Menurutnya dukungan para orangtua SSB dan stakeholder terkait juga semakin besar. Karenanya mereka berenaca menambah jangkauan ditiga kota penyelenggaraan.
Sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan, Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife
kembali memberikan kesempatan bagi atlet belia guna merasakan atmosfer kompetisi di level internasional.
34 Pemain Terbaik Wakili Indonesia di SingaCup 2026
Setelah sukses mengirim dua tim ke JSSL Singapore 7’s 2025 dan menjadi runner-up, tahun ini sebanyak 34 pemain terbaik MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2026 diterbangkan ke SingaCup 2026 yang berlangsung pada 31 Oktober – 7 November mendatang.
Ajang tersebut merupakan salah satu turnamen sepak bola bergengsi di Asia yang melibatkan talenta-talenta muda dari berbagai negara, termasuk beberapa perwakilan dari akademi sepak bola di Indonesia.
“MLSC All-Stars tidak berhenti di putaran nasional. Kami membentuk dua tim yang diisi oleh pemain terbaik hasil pantauan tim talent scouting untuk berlaga di SingaCup 2026. Melalui kompetisi tersebut, para atlet diharapkan menjadi ajang akselerasi kemampuan, meningkatkan mental, dan menambah jam terbang di level internasional. Pengalaman itu bertujuan guna membentuk talenta yang lebih matang sebagai bagian dari regenerasi Timnas Putri Indonesia,” ujar Teddy Tjahjono.
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F Tiago mengungkapkan, proses talent scouting tidak hanya berfokus pada talenta individu, tetapi juga pemahaman bermain dan pengambilan keputusan di lapangan.
Meski masih berada di level Sekolah Dasar, para pemain sudah mampu tampil percaya diri dan menunjukkan kematangan permainan, melampaui kelompok usianya.
Menurutnya, aspek tersebut menjadi bekal penting membentuk tim untuk bersaing di level internasional.
“Kita mencari pemain yang punya potensi dari aspek football intelligence. Mereka harus mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan pola permainan, bermain efektif, bisa mengatur tempo permainan dan dinamis. Mungkin kriteria penilaian itu cukup rumit bagi pemain usia SD, tetapi dari MilkLife Soccer Challenge mereka mampu menunjukkan hal tersebut. Melihat performa mereka di lapangan, kami optimistis membangun tim yang kompetitif, atraktif dan bisa bersaing dengan negara lain,” ujar Jacksen. (*)




