Keunggulan Motor Skutik Bensin di Pasar Indonesia
Motor skutik berbahan bakar bensin masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia hingga saat ini. Meskipun tren kendaraan listrik mulai berkembang, dominasi skutik konvensional belum tergeser, terutama untuk kebutuhan mobilitas harian. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang membuat motor skutik bensin tetap diminati.
Kemudahan Penggunaan
Salah satu alasan utama skutik bensin tetap digemari adalah kemudahan penggunaannya. Transmisi otomatis membuat pengendara tidak perlu repot mengoper gigi, sehingga lebih nyaman digunakan di berbagai kondisi jalan, terutama di perkotaan dengan lalu lintas padat. Dengan sistem ini, pengendara dapat fokus pada perjalanan tanpa harus terganggu oleh proses perpindahan gigi.
Infrastruktur BBM yang Masih Siap
Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang merata di seluruh wilayah Indonesia menjadi faktor penting. SPBU mudah ditemukan, bahkan hingga ke daerah pelosok, sehingga pengguna tidak perlu khawatir soal pengisian bahan bakar. Berbeda dengan motor listrik yang masih bergantung pada infrastruktur charging station atau swap battery yang belum merata, skutik bensin menawarkan kemudahan akses energi yang lebih praktis.
Dominasi Pasar Skutik Bensin
Dominasi motor skutik bensin masih belum tergoyahkan. Data AISI pada Januari 2025 menunjukkan segmen skutik menguasai 91,7% pangsa pasar sepeda motor domestik. Sementara itu, motor jenis underbone hanya menyumbang 4,46%, motor sport sebesar 3,51%, dan sepeda motor listrik masih berada di bawah 1%.
Tingginya minat terhadap skutik didorong oleh kepraktisan, efisiensi bahan bakar, serta kemudahan penggunaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Selain itu, harga yang relatif terjangkau juga menjadi salah satu alasan utama masyarakat memilih skutik bensin.
Penjualan Motor 2025 Tembus 6,4 Juta Unit
Sepanjang 2025, penjualan sepeda motor domestik tercatat mencapai 6.412.769 unit. Angka ini masih berada dalam rentang proyeksi AISI yang sebelumnya memperkirakan penjualan di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit. Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, menyebut rata-rata penjualan bulanan berada di angka 535.000 unit.
“Sepeda motor sangat efisien dan efektif digunakan untuk mendukung kebutuhan ekonomi maupun gaya hidup masyarakat. Kami berharap tren ini terus berlanjut,” ujarnya.
Penjualan Motor Maret 2026 Turun karena Efek Lebaran
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor pada Maret 2026 tercatat mencapai 448.974 unit. Sementara itu, penjualan ekspor Completely Built Up (CBU) menyentuh angka 48.970 unit. Namun, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 22,37% dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 578.354 unit.
Penurunan ini terjadi karena periode Maret bertepatan dengan momen Idul Fitri pada 21 Maret 2026. Pada masa tersebut, masyarakat cenderung mengalihkan pengeluaran untuk kebutuhan mudik, konsumsi, dan keperluan rumah tangga, sehingga pembelian kendaraan baru ikut melambat.
Division Head of Sales PT Wahana Makmur Sejati, Olivia Widyasuwita, menjelaskan bahwa perlambatan ini merupakan siklus tahunan yang wajar. “Menjelang Lebaran, biasanya pasar sepeda motor melambat karena fokus masyarakat beralih ke kebutuhan konsumsi dan hiburan,” ujarnya.
Meski demikian, periode setelah Lebaran justru menjadi momentum kebangkitan pasar. Banyak konsumen kembali mencari kendaraan untuk menunjang aktivitas kerja maupun mobilitas harian. “Setelah Lebaran, pasar biasanya kembali naik. Bahkan periode ini sering menjadi puncak penjualan,” tambah Olivia.



















