Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas untuk memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) pengantaran Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan ini diambil menyusul insiden tragis yang melibatkan mobil pengangkut MBG menabrak guru dan siswa di SDN Kalibaru 01 Pagi, Jakarta Utara. Peristiwa yang merenggut korban ini menjadi pukulan telak dan memicu kebutuhan mendesak akan perbaikan sistem pengawasan dan pengantaran.
Penegasan SOP Pengantaran untuk Keamanan Maksimal
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, secara eksplisit menginstruksikan agar mobil yang membawa MBG tidak lagi memasuki area halaman sekolah. Pengantaran makanan kini diarahkan untuk berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
“Usahakan tidak masuk membawa makanan ke halaman. Cukup diantar di depan pagar. Kenapa? Karena meskipun tidak ada upacara, anak-anak itu kan sering lari-lari di halaman,” ujar Nanik saat memberikan arahan dalam acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG, Serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG, di Ballroom Aston Inn, Lumajang, Sabtu (13/12).
Langkah ini diambil dengan pertimbangan utama keselamatan para siswa. Halaman sekolah sering kali menjadi area bermain aktif bagi anak-anak, dan keberadaan kendaraan besar yang keluar masuk dapat menimbulkan risiko kecelakaan yang tidak diinginkan. Dengan membatasi titik pengantaran di depan pagar, diharapkan potensi insiden serupa dapat diminimalisir.
Kualifikasi Pengemudi: Lebih dari Sekadar Memiliki SIM
Selain penyesuaian lokasi pengantaran, BGN juga memberikan perhatian serius terhadap kualifikasi pengemudi kendaraan pengantar MBG. Nanik menegaskan bahwa pengemudi haruslah individu yang memang berprofesi sebagai sopir profesional, bukan sekadar “sopir cabutan” atau orang yang memiliki profesi lain dan baru belajar mengemudi.
“Harus punya SIM, tidak sekadar SIM A, karena SIM A sudah kayak SIM C, asal dapat. Kenapa tidak asal SIM A, supaya dia menguasai pemakaian mobil matic ataupun manual. Dia harus berprofesi sopir,” jelas Nanik.
Penekanan pada profesionalisme sopir ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengemudi memiliki keahlian dan pengalaman yang memadai dalam mengoperasikan kendaraan, terutama dalam kondisi lalu lintas yang beragam dan saat mengangkut muatan penting seperti makanan bergizi. Pengemudi yang terlatih dan berpengalaman cenderung lebih sigap dalam mengambil keputusan dan menghadapi situasi darurat, yang sangat krusial untuk keselamatan semua pihak.
Sanksi Tegas bagi Mitra yang Mengabaikan Kualitas
Nanik juga menyampaikan peringatan keras kepada para mitra yang terlibat dalam penyediaan dan pengantaran MBG. Ia mengancam akan memberikan sanksi penangguhan (suspend) terhadap Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) jika terbukti ada kelalaian dalam pemilihan pengemudi yang mengutamakan biaya murah dibandingkan kualitas.
“Saya minta perhatian sama mitra, jangan karena anda mau bayar murah, lalu main cabut saja, Sekarang saya rekomendasikan agar SPPG itu
disuspend
dalam waktu yang tidak ditentukan. Nanti kalau ada kejadian, saya pun akan merekomendasikan hal yang sama kepada bapak ibu,” tegasnya.
Tindakan ini mencerminkan komitmen BGN untuk tidak mentolerir praktik yang dapat membahayakan keselamatan anak-anak. Prioritas utama adalah memastikan bahwa setiap aspek dalam rantai distribusi MBG berjalan sesuai standar tertinggi, demi menjaga kepercayaan publik dan integritas program.
Peran Vital Kepala SPPG dalam Pengawasan Distribusi
Lebih lanjut, Nanik menekankan pentingnya peran Kepala SPPG dalam memantau dan mengawasi seluruh proses distribusi MBG. Ia menyayangkan adanya kasus di mana Kepala SPPG tidak mengetahui keberadaan sopir saat proses pengantaran berlangsung.
“Ini yang kejadian, Ka SPPG-nya nggak tahu ke mana, pada saat sopir mengantar makanan. Berarti dia nggak tahu ke mana sopir itu. Anda harus bertanggung jawab. Ka SPPG harus memastikan makanan sampai ke sekolah, dan tunggu ada masalah apa. Hidupkan handphone, jangan susah dihubungi,” ujar Nanik.
Kepala SPPG diharapkan memiliki pemahaman menyeluruh mengenai jadwal pengantaran, rute yang dilalui, serta kondisi para pengemudi. Keterlibatan aktif dan komunikasi yang baik antara Kepala SPPG dan sopir akan memastikan bahwa makanan bergizi sampai ke tangan siswa tepat waktu dan dalam kondisi baik, serta meminimalkan potensi masalah yang mungkin timbul selama perjalanan. Komunikasi yang lancar, termasuk ketersediaan untuk dihubungi, menjadi kunci utama dalam manajemen krisis dan penyelesaian masalah yang cepat.


















