Kehilangan yang Tak Terduga

Di tengah gundukan tanah yang masih basah di makam, Radit (36) berdiri dengan tatapan kosong namun tetap tegar. Ia baru saja melepas Harum Anjarsari (30), istrinya, ke tempat peristirahatan terakhir. Peristiwa ini menjadi duka yang tak terduga bagi keluarga kecil mereka.
Harum adalah salah satu dari 16 korban jiwa dalam tragedi kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam lalu. Seharusnya, minggu ini menjadi momen bahagia bagi keluarga kecil mereka. Radit telah mengambil cuti kerja dan berencana memboyong istri serta anak-anaknya jalan-jalan sebelum ia pindah tugas ke Tasikmalaya pada 1 Mei mendatang.
“Kemarin tuh seharusnya kita sudah mulai mau jalan-jalan,” kenang Radit dengan suara parau usai pemakaman istrinya, di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4). Namun, takdir memiliki rencana lain. Pada hari itu, Harum pamit berangkat kerja meski sedang dalam masa cuti. Ia merasa tidak enak hati jika melewatkan acara halal bihalal di kantornya. Harum dikenal sebagai sosok yang gigih dan seorang leader di sebuah perusahaan skincare.
“Dia keras kepala, tapi positif. Enggak pernah mau berhenti kerja. Saya sempat merasa bersalah, kenapa dia harus kerja sekeras ini,” ujar Radit. “Istri yang baik, baik banget. Baik banget, istri yang baik,” tambahnya.
Pesan Terakhir yang Menyentuh Hati

Malam itu, komunikasi antara suami-istri ini masih hangat. Seperti biasa, Radit yang sedang berada di rumah di Tambun, Kabupaten Bekasi, bersiap menjemput Harum bersama anak bungsu mereka yang masih berusia 3 tahun. Pukul 20.55 WIB, sebuah pesan singkat masuk. Harum mengabarkan posisinya sudah sampai di Stasiun Bekasi Timur. Namun, pesan berikutnya membawa firasat buruk.
“Sayang, ini keretanya nabrak ini… nabrak mobil,” kata Harum saat itu. Radit yang sudah terbiasa dengan ritme perjalanan KRL mencoba menenangkan. Ia meminta Harum turun saja dan melanjutkan perjalanan dengan ojek online jika evakuasi memakan waktu lama. Namun Harum memilih menunggu di dalam kereta. Itulah kontak terakhir yang diterima Radit.
Setelah 40 menit tanpa kabar, Radit mulai gelisah. Ia menidurkan anaknya ke rumah, lalu memacu motornya ke Stasiun Bekasi Timur, namun yang ia temukan hanyalah kekacauan.
Pencarian yang Pilu

Radit bersama dua temannya menyisir rumah sakit di Bekasi. Di RSUD Bekasi nihil. Ia sempat mencoba menghubungi nomor telepon Harum. Ponselnya aktif. Namun, suara di ujung telepon bukan suara lembut sang istri, melainkan suara berat petugas Damkar. “Saya berdoanya ya handphone-nya aja yang di situ, jadi orangnya istri saya tuh udah di rumah sakit,” ucapnya.
Hingga pukul 09.00 pagi keesokan harinya, Radit masih menunggu di tempat evakuasi Stasiun Bekasi Timur. Pencarian berakhir pilu di RS Polri Kramat Jati. Melalui proses forensik dan pencocokan DNA ayah mertuanya, identitas jenazah itu terkonfirmasi: itu adalah Harum.
Meski hatinya hancur, Radit memilih untuk tidak mengutuk keadaan. Perihal taksi Green SM yang mogok di rel dan menjadi penyebab kecelakaan, ia memandangnya dengan kedewasaan yang getir. “Manusiawi kalau marah. Tapi kalau menyalahkan kejadian, buat saya enggak dewasa. Apapun sudah digariskan Tuhan. Nikah, punya anak, sampai meninggal pun sudah ditulis,” tuturnya.
Satu hal yang paling memberatkan batinnya bukanlah amarah kepada penyebab kecelakaan, melainkan rasa bersalah kepada mertuanya. “Kan pasti ya kalau nikahin anak orang tuh apalagi seorang laki-laki selalu nitipin anaknya, nah saya ngerasa bersalah aja nggak bisa jaga anaknya, nggak bisa jaga istri saya,” ujarnya.
Kini, Radit harus membesarkan dua jagoannya yang masih berusia 7 dan 3 tahun tanpa sosok ibu yang sangat baik itu. Harum pergi meninggalkan kenangan tentang seorang perempuan pekerja keras yang selalu mengutamakan keluarga di atas segalanya.



















