Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada tanggal 21 Maret 2026, umat Muslim dianjurkan untuk mengamalkan beberapa sunah. Sunah adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melaksanakannya akan mendatangkan pahala, namun tidak ada dosa jika ditinggalkan. Meskipun demikian, amalan sunah ini memiliki nilai penting dan tidak seharusnya dianggap remeh. Berdasarkan panduan dari para ulama, terdapat beberapa amalan sunah yang dapat dilakukan sebelum menunaikan salat Idul Fitri.
Amalan Sunah Sebelum Salat Idul Fitri
Berikut adalah beberapa amalan sunah yang dapat diamalkan umat Muslim menjelang salat Idul Fitri:
1. Mandi Sebelum Salat Ied
Mandi sebelum melaksanakan salat Idul Fitri merupakan salah satu sunah yang seringkali terlupakan. Praktik ini didasarkan pada riwayat dari sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW senantiasa mandi sebelum salat Jumat, Hari Arafah, Idul Adha, dan Idul Fitri.
Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (3: 278) dengan status sanad yang dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa (1:177) menyebutkan:
Dari Nafi’, bahwa Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat pada pagi hari ke tanah lapangan. (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ 426). Imam Nawawi menyatakan hadis ini sahih.
Imam Nawawi rahimahullah juga menegaskan bahwa para ulama sepakat mengenai anjuran mandi untuk salat Id. Mandi ini juga dianjurkan karena pada momen perayaan Id, banyak umat berkumpul, serupa dengan suasana saat salat Jumat.
2. Mengenakan Pakaian Terbaik
Setelah bersuci dengan mandi, menghias diri dengan mengenakan pakaian terbaik juga merupakan sunah sebelum salat Idul Fitri. Hal ini bertujuan untuk menampilkan diri dengan rapi dan penuh penghormatan di hari yang penuh kebahagiaan ini.
Terdapat riwayat dari Imam Bukhari dalam Adab Al-Mufrad (nomor 533) yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki pakaian khusus yang beliau gunakan untuk hari Jumat sekaligus untuk menyambut tamu. Selain itu, ada cerita dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang pernah membeli jubah berbahan sutra di pasar. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, Umar bertanya apakah beliau ingin membelinya agar bisa tampil bagus saat Id dan menyambut tamu. Rasulullah SAW kemudian menjawab:
“Pakaian seperti ini membuat seseorang tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Bukhari, no. 948)
Jawaban ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak mempermasalahkan penampilan yang bagus di hari Idul Fitri, namun memberikan peringatan terkait penggunaan bahan sutra yang dikhususkan bagi mereka yang tidak memiliki bagian di akhirat kelak.
Lebih lanjut, terdapat riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1765).
Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih juga menyebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaiknya di hari raya Id.
Perlu dicatat bahwa aturan ini lebih ditekankan bagi kaum pria. Bagi wanita, dianjurkan untuk tidak memamerkan kecantikan di hadapan laki-laki lain, kecuali hanya untuk suami mereka.

3. Makan dan Minum Sebelum Salat
Setelah sebulan penuh berpuasa, umat Muslim disunahkan untuk segera makan dan minum pada hari Idul Fitri sebagai tanda bahwa puasa Ramadan telah berakhir.
Diriwayatkan dari Rasulullah SAW:
“Rasulullah SAW biasa berangkat salat ‘Eid pada hari Idul Fitri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari salat ‘Eid baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hadis ini sahih).
Untuk salat Idul Fitri, disunahkan untuk makan sebelum berangkat ke tempat salat. Pada hari Idul Fitri, umat Muslim tidak diperbolehkan berpuasa. Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al-Fath (2: 446) menjelaskan bahwa perintah makan sebelum salat Id bertujuan agar umat tidak dianggap masih berpuasa dan sebagai bentuk segera melaksanakan perintah Allah SWT.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyampaikan:
“Rasulullah SAW tidaklah keluar pada hari Idul Fitri (ke tempat shalat, pen.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Bukhari, no. 953).

4. Bertakbir Menuju Tempat Salat
Mengumandangkan takbir setelah berakhirnya bulan Ramadan merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan petunjuk yang telah diberikan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).
Terdapat riwayat mengenai praktik takbir Rasulullah SAW:
“Nabi SAW biasa keluar hendak salat pada hari raya Idul Fitri sambil bertakbir sampai di lapangan, dan sampai salat hendak dilaksanakan. Ketika salat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”
Hadis ini memiliki penguat dengan sanad yang bersambung dan dinilai sahih oleh Syaikh Al Albani. Ibu Syihab Az-Zuhri menyampaikan bahwa kaum Muslimin saat keluar rumah dapat sambil bertakbir hingga kehadiran imam untuk salat Eid.
Berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 185, takbir dimulai sejak Ramadan berakhir, yaitu pada malam Idul Fitri hingga imam datang untuk melaksanakan salat Eid. Lafal takbir yang dianjurkan, berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud, adalah:
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya”.

5. Mengucapkan Tahniah atau Selamat
Selain amalan-amalan di atas, umat Muslim juga dianjurkan untuk saling mengucapkan selamat atau tahniah pada hari Idul Fitri. Ucapan selamat yang paling utama adalah dalam bentuk doa, seperti “taqabbalallahu minna wa minkum”, yang berarti “Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian”. Ucapan ini telah dikenal sejak masa salafus shalih.
Jubair bin Nufair menyampaikan bahwa para sahabat Rasulullah SAW ketika bertemu pada hari Idul Fitri atau Idul Adha, saling mengucapkan:
“Taqabbalallahu minna wa minka”
yang berarti “Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian.” Al Hafizh Ibnu Hajar menyampaikan bahwa sanad hadis ini hasan.
Imam Ahmad rahimahullah juga menyatakan:
“Boleh-boleh saja satu sama lain di hari raya ‘Eid mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minka.” (Al-Mughni, 2: 250)
Namun, ucapan selamat dalam syariat tidaklah terlalu kaku. Selama tidak mengandung kesalahan, ucapan lain seperti “Eid mubarak, semoga menjadi ‘Eid yang penuh berkah”, “Minal ‘aidin wal faizin, semoga kembali dan meraih kemenangan”, “Kullu ‘aamin wa antum bi khair, semoga di sepanjang tahun terus berada dalam kebaikan,” “Selamat Idul Fitri 1445 H,” atau bahkan dalam bahasa daerah seperti Sugeng Riyadi 1445 H, juga dapat diucapkan sebelum dan sesudah salat Eid.

6. Berbeda Jalan Saat Pulang Salat Eid
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi SAW ketika berada di hari Eid, beliau membedakan jalan antara saat berangkat menuju tempat salat dan saat pulang. (HR. Bukhari, no. 986).
Rasulullah SAW melakukan hal ini agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi atas kehadiran beliau, yang kelak akan dipertanyakan pada hari penghitungan. Pendapat lain dari para ulama menyebutkan bahwa Nabi memilih jalan yang berbeda agar dapat menyapa lebih banyak tetangga dan kerabat di sepanjang jalan.



















