Taman Paskah di Sindulang Manado: Simbol Iman dan Refleksi Kebangkitan Yesus Kristus
Menjelang perayaan Jumat Agung, momen sakral bagi umat Kristiani, berbagai taman Paskah mulai menghiasi sudut-sudut Kota Manado, Sulawesi Utara. Lebih dari sekadar dekorasi musiman, taman-taman ini memiliki makna spiritual yang mendalam, menjadi simbol keimanan atas pengorbanan dan kebangkitan Yesus Kristus. Salah satu taman yang memukau perhatian adalah Taman Paskah di GMIM Tasik Tiberias, yang berlokasi di Kelurahan Sindulang 2 Lingkungan 1, Kecamatan Tuminting, Kota Manado.
Taman Paskah ini bukan sekadar hiasan pasif. Ia adalah sebuah narasi visual yang hidup, mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa kunci dalam ajaran Kristiani. Pengunjung akan disambut dengan replika Yesus yang disalib, ditemani dua penjahat, sebuah pemandangan yang dirancang untuk membangkitkan rasa haru dan refleksi mendalam. Latar belakang yang dramatis, dengan lukisan langit gelap, awan hitam pekat, serta gambaran perbukitan berbatu yang terjal, semakin memperkuat suasana pengorbanan yang terjadi.
Di hadapan ketiga salib tersebut, sebuah Alkitab terbuka terpajang. Halaman yang terbuka mengarah pada Injil Yohanes, membacakan kembali kisah wafatnya Yesus Kristus, yang diyakini sebagai Anak Allah. Narasi ini menjadi inti dari perayaan Paskah, mengingatkan umat akan kasih dan pengorbanan yang telah diberikan.
Bergerak ke sisi kiri taman, pengunjung akan menemukan ornamen gua yang melambangkan makam Yesus. Gua ini sengaja dibuat kosong, sebuah simbol kuat dari kebangkitan-Nya dari kematian. Keberadaan makam kosong ini menjadi bukti nyata keilahian Yesus dan harapan akan kehidupan kekal bagi para pengikut-Nya.
Selanjutnya, di bagian depan kiri taman, terdapat ilustrasi yang mengingatkan pada lukisan klasik “The Last Supper” karya Leonardo Da Vinci. Adegan ini menggambarkan Yesus bersama para murid dalam momen Perjamuan Terakhir. Momen ini sarat makna, menandai hubungan erat antara Yesus dan murid-murid-Nya, serta menjadi latar belakang bagi peristiwa-peristiwa penting yang akan datang.
Perjuangan di Balik Keindahan: Gotong Royong dan Keterbatasan Dana
Proses pembuatan Taman Paskah di GMIM Tasik Tiberias merupakan cerminan semangat gotong royong yang kental di kalangan jemaat. Menurut Ferdi S, Ketua panitia H2RG jemaat setempat, pengerjaan taman ini telah berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Prosesnya dilakukan secara bertahap, seringkali di waktu luang setelah jemaat selesai bekerja, atau pada malam hari.
“Jika ada waktu libur, kami buat, umumnya dibuat malam hari, saat orang sudah pulang kerja,” ujar Ferdi S.
Meski demikian, Ferdi S tidak menampik adanya tantangan yang dihadapi, terutama terkait keterbatasan dana. Pembangunan taman yang membutuhkan detail dan material yang cukup banyak tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
“Dana memang jadi masalah, karena butuh biaya yang tidak sedikit,” akuinya.
Namun, keterbatasan finansial tersebut tidak menyurutkan semangat jemaat. Mayoritas jemaat yang berprofesi sebagai buruh, dengan segala keterbatasan yang ada, justru menunjukkan kekuatan luar biasa melalui kerja sama dan kepedulian. Semangat pelayanan dan kebersamaan menjadi modal utama yang membuat taman Paskah ini akhirnya dapat terwujud.
Lebih dari Sekadar Lomba: Wujud Iman dan Suasana Khusyuk
Taman Paskah ini tidak hanya dipersiapkan untuk mengikuti lomba antar gereja di wilayah Manado Utara 1, yang rencananya akan diadakan. Lebih dari itu, taman ini merupakan wujud nyata dari penghayatan iman jemaat. Keberadaannya diharapkan dapat memberikan dampak spiritual yang signifikan, tidak hanya bagi jemaat gereja tetapi juga bagi masyarakat sekitar.
Ferdi S mengungkapkan bahwa taman Paskah ini berhasil menciptakan suasana yang khusyuk menjelang Jumat Agung. Kehadiran taman ini dirasakan mampu membangkitkan kekhusyukan perayaan, memberikan ruang bagi refleksi dan pendalaman iman.
“Saya merasakan adanya dampak dari sini kepada masyarakat, suasananya Jumat Agung sangat terasa kekhusyukannya, Taman Paskah ini adalah wujud dimana kami mengimani kuasa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sang Juruselamat,” tegasnya.
Pembangunan taman ini, meskipun penuh tantangan, telah menjadi sarana bagi jemaat untuk bersama-sama merenungkan makna pengorbanan Yesus Kristus. Taman Paskah di Sindulang Manado ini menjadi bukti bahwa iman yang kuat, ditambah dengan semangat kebersamaan, mampu melahirkan karya yang indah dan bermakna, bahkan di tengah keterbatasan. Ia menjadi pengingat visual akan peristiwa sentral dalam Kekristenan, mengundang setiap orang untuk merenungkan kembali makna kasih, pengorbanan, dan harapan kebangkitan.




