Diplomasi di Tengah Krisis Global: Mengapa Presiden Prabowo Intensif Lakukan Kunjungan Luar Negeri?
Dalam lanskap geopolitik yang penuh ketidakpastian, kunjungan kerja luar negeri seorang pemimpin negara menjadi sorotan publik. Baru-baru ini, Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya memberikan penjelasan mendalam mengenai tingginya frekuensi kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke mancanegara selama 1,5 tahun terakhir.
Penjelasan ini muncul sebagai respons terhadap kritik yang dilontarkan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengenai intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo.
Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo untuk aktif melakukan kunjungan luar negeri bukanlah tanpa alasan kuat. Ia menekankan bahwa Presiden menjabat di saat dunia tengah dilanda berbagai krisis dan konflik yang kompleks.
Situasi global yang genting ini, mulai dari konflik berkepanjangan di Ukraina hingga ketegangan yang meluas di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, menuntut adanya pendekatan diplomatik yang proaktif.
“Masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis,” ujar Teddy dalam sebuah keterangan video yang diunggah di akun Instagram @sekretariat.kabinet.
Ia menambahkan, “Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah, itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya.”
Membangun Jembatan Antar Pemimpin di Era Ketidakpastian
Menurut Teddy, dalam kondisi global yang diliputi krisis, setiap pemimpin negara memiliki kewajiban untuk membangun hubungan yang erat dengan para pemimpin dunia lainnya. Hubungan personal dan emosional antar kepala negara menjadi kunci vital dalam menavigasi tantangan internasional.
“Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia,” tegas Teddy.
Lebih lanjut, Seskab menjelaskan bahwa Indonesia, sebagai negara yang juga terdampak oleh gejolak global, tidak dapat serta-merta meminta bantuan dari negara lain tanpa adanya fondasi hubungan baik yang telah terjalin. Oleh karena itu, kunjungan kerja Presiden Prabowo ke berbagai negara bertujuan untuk memperkuat relasi tersebut.
Tujuannya adalah agar ketika Indonesia menghadapi situasi mendesak atau membutuhkan dukungan, negara-negara yang telah menjalin hubungan baik dengan Presiden Prabowo dapat memberikan bantuan.
“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi,” terang Teddy, menggarisbawahi esensi dari diplomasi modern yang melampaui sekadar formalitas.
Baca Juga: krisis
Kritik dan Saran dari Dino Patti Djalal
Sebelumnya, Dino Patti Djalal, yang juga merupakan Founder and Chairman of Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), telah menyampaikan lima saran kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kebiasaan kunjungan luar negerinya.
Dino Patti Djalal mengemukakan pandangannya bahwa Presiden Prabowo merupakan pemimpin yang paling sering melakukan perjalanan internasional sejak menjabat.
“Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran,” kata Dino Patti Djalal dalam sebuah unggahan di akun Instagramnya @dinopattidjalal.
Ia memprediksi bahwa tren kunjungan internasional yang tinggi ini akan terus berlanjut dalam 18 bulan ke depan.
Dino Patti Djalal juga menyoroti aspek biaya yang timbul dari setiap kunjungan kenegaraan ke luar negeri. Ia merinci bahwa biaya tersebut mencakup berbagai elemen, seperti:
- Tim pendahulu
- Akomodasi pesawat
- Hotel
- Logistik
- Konsumsi
- Protokoler dan pengamanan
- Uang harian untuk seluruh delegasi dan perangkat pendamping
- Berbagai biaya tambahan lainnya.
“Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” ungkap Dino, memberikan gambaran mengenai besarnya anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan diplomatik ini.

Dino Patti Djalal menyampaikan bahwa ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangannya secara jujur kepada Presiden Prabowo, terlebih setelah menerima anugerah Bintang Mahaputera dari Presiden.
Anugerah tersebut ia tafsirkan sebagai bentuk kepercayaan Presiden terhadap kredibilitas dan pandangannya, khususnya dalam urusan politik luar negeri.
“Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” tegas Dino, menekankan urgensi agar Presiden mempertimbangkan masukan dari masyarakat terkait frekuensi kunjungan internasionalnya.
Kunjungan luar negeri Presiden, meskipun memicu perdebatan, tampaknya merupakan strategi diplomatik yang dirancang untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global, terutama di tengah kompleksitas tantangan yang dihadapi dunia saat ini.



















