PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) secara agresif memajukan pengembangan mobil nasional berbasis listrik. Proyek ambisius ini tidak hanya berfokus pada penciptaan kendaraan itu sendiri, tetapi juga bertujuan untuk membangun ekosistem industri otomotif yang kokoh dan berkelanjutan, mencakup seluruh rantai nilai dari hulu ke hilir.
Presiden Direktur PT TMI, Harsusanto, menekankan bahwa tantangan terbesar dalam inisiatif ini bukanlah pada proses manufaktur mobil, melainkan pada pembentukan industri yang mandiri dan kuat. Oleh karena itu, TMI secara strategis melibatkan teknisi-teknisi lokal, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta mempersiapkan aspek layanan purna jual yang komprehensif untuk memastikan pengalaman pengguna yang mulus dan bebas hambatan di masa mendatang.
Mengatasi Tantangan Purna Jual Kendaraan Listrik
Harsusanto menguraikan keprihatinan mendalam terkait dominasi pasar otomotif saat ini oleh kendaraan dari negara-negara tertentu. Salah satu isu krusial yang dihadapi konsumen adalah ketersediaan layanan purna jual. Ia menyoroti bahwa ketika terjadi kerusakan pada komponen vital seperti motor penggerak atau power train, konsumen seringkali dihadapkan pada masa tunggu yang lama untuk suku cadang (inden). Fenomena ini, menurutnya, dapat menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan untuk beralih ke mobil listrik.
“Jadi, saya pernah bilang, membuat mobil itu gampang. Membuat industri mobil itu yang enggak gampang,” tegas Harsusanto, menggarisbawahi kompleksitas dalam membangun sebuah industri yang utuh dan fungsional.
Kolaborasi dan Desain Awal Kendaraan
TMI telah menjalin komunikasi dengan berbagai asosiasi industri otomotif. Namun, konsep mobil nasional yang diberi nama Indigenous Industries Car (i2C) hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan desain yang dinamis. Ketidakpastian desain ini membuat para asosiasi belum dapat memberikan antisipasi yang konkret.
“Tapi, dalam waktu dekat ini kita akan bikin bill of material dan nanti akan kita bagikan ke teman-teman yang industri lokal,” ujar Harsusanto, mengindikasikan langkah selanjutnya dalam memfinalisasi spesifikasi dan melibatkan industri domestik.
Harsusanto lebih lanjut menjelaskan filosofi di balik pendekatan TMI: “Memang kan begini ya, ini ada industri mobil, ini ada after sales, ini ada penjualannya. Itu semua kita desain, karena memang jangan sampai nanti konsumen ini merasa kesulitan. Itu kunci kita.” Pendekatan holistik ini bertujuan untuk menghilangkan potensi kendala yang mungkin dihadapi konsumen, mulai dari pembelian hingga perawatan jangka panjang.
Keterlibatan UMKM dan Kemitraan Global
Selain memberdayakan teknisi dan insinyur lokal, TMI juga menjalin kolaborasi strategis dengan perusahaan global terkemuka seperti Italdesign. Kemitraan ini diharapkan dapat membawa teknologi dan keahlian desain terkini ke dalam pengembangan mobil nasional.
Namun, Harsusanto menegaskan bahwa kolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar penting dalam strategi TMI. “Pasti kita akan bekerjasama dengan lokal, para UMKM harus ikut,” ujarnya, menunjukkan komitmen TMI untuk memberdayakan ekosistem bisnis domestik dan menciptakan peluang ekonomi yang luas.
Pengakuan dan Dukungan Pemerintah
Proyek pengembangan mobil nasional ini telah diajukan untuk dimasukkan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengakuan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung inisiatif kemandirian industri otomotif Indonesia. Lebih lanjut, pemerintah telah secara resmi meminta TMI untuk berkolaborasi erat dengan PT Pindad dalam aspek-aspek pengembangan teknologi dan manufaktur mobil listrik ini. Kolaborasi antara TMI dan Pindad diharapkan dapat sinergis, memanfaatkan keunggulan masing-masing institusi untuk mewujudkan visi mobil nasional yang modern dan berdaya saing.


















