JAKARTA — Transaksi crossing 114 juta saham Bank Central Asia (BBCA) di pasar negosiasi pada 28 September 2026 memicu spekulasi akuisisi yang menyeret nama pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Namun, sejumlah analis menilai transaksi itu belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pengambilalihan BCA, terlebih perusahaan maupun pihak Jhonlin Group sudah membantah rumor tersebut.
Perdagangan yang ramai dibicarakan itu dilakukan pada harga pelaksanaan Rp 6.210 per saham dan hanya melibatkan satu sekuritas, yakni PT CGS International Sekuritas Indonesia. Di pasar modal, transaksi seperti ini memang bisa tampak besar secara nominal, tetapi untuk saham berkapitalisasi jumbo seperti BBCA, ukuran transaksi harus dilihat terhadap total saham beredar, bukan hanya dari angka mentahnya.
Jonathan Gunawan, analis Trimegah Sekuritas, menegaskan bahwa satu transaksi blok tidak cukup untuk memastikan ada akuisisi. Ia juga mengingatkan bahwa identitas pembeli tidak bisa ditebak hanya dari kode broker. “Transaksi tersebut sendiri tidak cukup untuk menyimpulkan adanya akuisisi. Apalagi menentukan siapa pembeli akhirnya hanya dari kode broker,” ujarnya, Kamis (1/10).
Jika dibandingkan dengan jumlah saham BCA yang tercatat di situs resmi perseroan, yakni sekitar 123,28 miliar lembar, transaksi 114 juta saham itu hanya setara kurang lebih 0,09% dari total saham perusahaan. Dengan proporsi sekecil itu, para analis menilai sulit mengaitkannya dengan upaya mengambil alih kendali BCA. Dari sisi nilai, seluruh saham BCA pada harga Rp 6.210 per saham bahkan setara sekitar Rp 765,54 triliun, sehingga akuisisi bank sebesar ini memerlukan dana dan proses yang jauh lebih kompleks.
Leonardo Lijuwardi, analis NH Korindo Sekuritas, mengatakan bahwa pembelian saham untuk investasi dan pengambilalihan bank adalah dua hal yang berbeda. Menurut dia, untuk memperoleh kendali atas BCA dibutuhkan modal sangat besar, ditambah pemenuhan aturan kepemilikan dan persetujuan regulator. “Pembelian saham untuk investasi berbeda dengan pengambilalihan bank. Untuk memperoleh kendali atas perusahaan sebesar BCA, kebutuhan dananya sangat besar, disertai persyaratan kepemilikan dan proses regulator. Itu tidak bisa disimpulkan dari satu transaksi crossing,” kata Leonardo.
Leonardo juga menyoroti valuasi BBCA yang saat ini diperdagangkan pada price to book value sekitar 2,72 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis satu tahun yang berada di kisaran 4,22 kali. Menurut dia, harga yang lebih murah dari level historis memang bisa menarik minat investor yang mencari saham fundamental kuat, tetapi ketertarikan seperti itu tidak identik dengan niat mengambil alih perusahaan. Ia menilai investor sebaiknya membaca BBCA dari kinerja, pertumbuhan, dan prospek bisnisnya, bukan dari rumor yang beredar di pasar.
Di tengah isu tersebut, komposisi pemegang saham BBCA juga berubah. Presiden Komisaris BCA Jahja Setiaatmadja menyebut porsi saham publik perseroan sekitar 42%, sementara kepemilikan investor asing yang sebelumnya sekitar 78% kini turun menjadi sekitar 68%. Pada saat bersamaan, jumlah investor ritel meningkat dari sekitar 400.000 menjadi lebih dari 700.000 pemegang saham. Meski begitu, lonjakan investor domestik belum sepenuhnya mampu menyerap saham yang dilepas asing dalam jumlah besar. BCA pun berupaya mempertahankan basis investor jangka panjang, antara lain lewat pembagian dividen interim secara berkala.
Sumber: investasi.kontan.co.id




