JAKARTA — PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp16,57 per saham. Langkah ini diambil untuk menjaga daya tarik investor di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (6/5/2026), dividen interim tersebut berasal dari laba bersih periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026. Keputusan pembagian dividen telah disetujui oleh Direksi dan Dewan Komisaris pada 4 Mei 2026.
Pembagian dividen akan dilakukan kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 20 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Sementara itu, jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 18 Mei 2026, dengan ex dividen pada 19 Mei 2026.
Pembayaran dividen interim YUPI dijadwalkan pada 29 Mei 2026 melalui mekanisme distribusi ke rekening dana nasabah masing-masing pemegang saham yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Perseroan menegaskan bahwa dividen interim tersebut akan dikenakan pajak sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, terdapat pengecualian bagi wajib pajak badan dalam negeri serta wajib pajak orang pribadi dalam negeri sepanjang dividen diinvestasikan di dalam negeri.
Bagi pemegang saham luar negeri, tarif pajak dapat merujuk pada perjanjian penghindaran pajak berganda dengan syarat administrasi tertentu. Jika tidak terpenuhi, dividen akan dikenakan pajak sebesar 20%.
Berdasarkan laporan keuangan YUPI yang dirilis Jumat (30/4/2026), pendapatan perseroan pada tiga bulan pertama 2026 mencapai Rp763,18 miliar, tumbuh sekitar 9,08% dibandingkan Rp699,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).
Perbaikan kinerja lebih ditopang oleh penurunan beban pokok penjualan yang turun menjadi Rp430,27 miliar dari Rp462,84 miliar. Kondisi tersebut mendorong laba bruto melonjak signifikan menjadi Rp332,90 miliar dari Rp236,81 miliar. Dengan demikian, margin laba bruto meningkat 40,5%.
Meski demikian, tekanan mulai terlihat dari sisi operasional. Beban penjualan naik menjadi Rp52,92 miliar dari Rp33,11 miliar, sementara beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp42,94 miliar dari Rp25,66 miliar.
Adapun, beban penjualan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh lonjakan biaya pemasaran dan promosi sebesar 80,9% menjadi Rp30,33 miliar.
Di sisi lain, pendapatan usaha lainnya turun drastis menjadi Rp2,75 miliar dari Rp27,07 miliar. Kombinasi faktor tersebut membuat pertumbuhan laba usaha menjadi lebih terbatas, yakni Rp232,83 miliar dari Rp204,92 miliar.
Setelah memperhitungkan beban keuangan dan pajak, laba periode berjalan YUPI tercatat Rp177,02 miliar, naik sekitar 5,86% dari Rp167,22 miliar pada kuartal I/2025.
Berikut beberapa poin penting terkait pembagian dividen YUPI:
- Jumlah Dividen: Rp16,57 per saham
- Sumber Dividen: Laba bersih periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026
- Tanggal Pemilik Saham: 20 Mei 2026 pukul 16.00 WIB
- Jadwal Cum Dividen: 18 Mei 2026
- Ex Dividen: 19 Mei 2026
- Tanggal Pembayaran: 29 Mei 2026
- Pemrosesan: Melalui mekanisme distribusi ke rekening dana nasabah
Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang pajak dividen:
- Wajib Pajak Dalam Negeri: Tidak dikenakan pajak jika dividen diinvestasikan di dalam negeri
- Wajib Pajak Luar Negeri: Tarif pajak bisa merujuk pada perjanjian penghindaran pajak berganda, jika tidak terpenuhi, pajak sebesar 20% dikenakan
Laporan keuangan YUPI juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,08% pada kuartal pertama 2026. Meskipun begitu, adanya peningkatan beban operasional menyebabkan pertumbuhan laba usaha yang terbatas.
Dengan kinerja keuangan yang cukup stabil, YUPI tetap menjaga komitmennya untuk memberikan keuntungan kepada para pemegang saham. Hal ini menjadi indikasi positif bagi investor yang ingin mempertahankan atau menambah portofolio saham mereka.



















