Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, baru-baru ini memberikan tanggapan terkait video yang viral di media sosial yang memperlihatkan dirinya memanggul karung beras saat mengunjungi korban banjir di Sumatra. Dalam pernyataannya, beliau menekankan bahwa tindakan tersebut bukanlah sesuatu yang baru atau dibuat-buat, melainkan sebuah kebiasaan yang telah dilakukannya sejak kecil.
Zulhas, sapaan akrabnya, menyampaikan hal ini dalam sebuah konferensi pers di Jakarta. Ia mengungkapkan keheranannya mengapa tindakannya membantu korban bencana justru menuai kritik. Menurutnya, berbagi beras maupun uang kepada mereka yang membutuhkan sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sejak usia dini.
Membiasakan Berbagi Sejak Kecil
Zulhas menjelaskan bahwa setiap kali mengunjungi daerah-daerah, ia selalu membiasakan diri untuk membagikan beras dalam jumlah yang tidak sedikit. Mulai dari paket kecil seberat 5 kilogram hingga ratusan karung, kegiatan berbagi ini dilakukannya tanpa publikasi yang berlebihan. Ia menyebutkan bahwa kebiasaan ini merupakan amanat dari ibundanya dan juga merupakan ajaran agama yang menekankan pentingnya memberikan bantuan kepada sesama, baik dalam kondisi suka maupun duka.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dalam setiap perjalanannya, kantong dan pecinya selalu diisi dengan uang yang siap dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, tindakan berbagi ini telah menjadi bagian dari karakternya sejak kecil dan sama sekali bukan merupakan upaya untuk mencari perhatian atau pencitraan semata.
Tanggapan Terhadap Kritik Publik
Meskipun video dirinya memanggul beras tersebut memicu berbagai komentar dan kritik di media sosial, Zulhas menegaskan bahwa ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia bahkan menyatakan telah memaafkan para pengkritiknya. Zulhas lebih memilih untuk fokus pada upaya bersama dalam membantu para korban banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurutnya, di tengah situasi darurat seperti ini, bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi para penyintas bencana. Solidaritas dan gotong royong menjadi kunci utama dalam meringankan beban mereka yang terdampak.
Dampak Bencana dan Jumlah Korban
Banjir bandang dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra telah menyebabkan kerugian yang sangat besar, baik dari segi materi maupun jiwa. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga awal Desember, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai lebih dari 900 orang, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Selain itu, ribuan rumah dan fasilitas publik mengalami kerusakan yang parah, sehingga kebutuhan akan bantuan logistik menjadi semakin mendesak.
Dampak bencana ini sangat luas dan kompleks, sehingga membutuhkan penanganan yang komprehensif dan terkoordinasi dari berbagai pihak. Pemerintah, organisasi kemanusiaan, relawan, dan masyarakat umum perlu bersinergi untuk memastikan bahwa bantuan dapat sampai kepada mereka yang membutuhkan secepat mungkin.
Prioritaskan Penanganan Bencana
Zulhas kembali menekankan pentingnya untuk tidak terpecah belah oleh perdebatan-perdebatan kecil yang tidak produktif. Ia mengajak semua pihak untuk tetap mengedepankan solidaritas dan fokus pada upaya membantu para korban bencana. Penyaluran bantuan pangan, obat-obatan, air bersih, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya harus terus digencarkan, mengingat banyaknya jumlah pengungsi dan kerusakan infrastruktur yang menghambat proses distribusi.
Mengingat dampak bencana yang begitu luas, Zulhas berharap agar pemerintah, relawan, dan masyarakat dapat terus bergotong royong agar proses pemulihan di daerah-daerah yang terdampak dapat berlangsung lebih cepat dan efektif. Ia juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut memberikan dukungan, baik berupa doa maupun bantuan materi, agar para korban bencana dapat segera bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka.


















